Saturday, March 17, 2012
[Haiku] Meja Bundar
Di Hari sampah
Meja antik di jalan
Jadi milik ku
MiRa - Amsterdam, 17 Maret 2012
~ Haiku Round table ~
The day of garbage
Antique table on roadside
It's me new owner
Trash collection day -
The antique table by the roadside
Now belongs to me
~ Haiku Ronde Tafel ~
De dag van afval
Antieke tafel langs de weg
Nu is die van mij
Friday, March 16, 2012
Tanka Musim Bunga
Menggores kuas
Aneka warna bunga
Di atas kanvas
Gambar karya lukisan
Secercah sinar surya
MiRa - Amstelveenseweg, 16 Maret 2012
Tuesday, March 13, 2012
[Tanka] Sel Isolasi
Irama sendu
Mengalun dalam sunyi
Lagu soliter
Bait dalam puisi
Bermakna cinta kasih
Sunyi sendiri
Dalam sel isolasi
Gelap gulita
Tahanan siksa batin
Melawan kebatilan
Kenangan lalu
Menelusuri waktu
Menuntut adil
Perjalanan hidupnya
Menjejak dalam hening
MiRa - Amsterdam, 13 Maret 2012
Saturday, March 10, 2012
[Tanka] Makna Ingatan
Di sudut ruang
Kursi dan meja bundar
Menghadap luar
Gangguan lalu lalang
Mengusik waktu senggang
Saat jam sibuk
Di jalur jalan sepeda
Susul menyusul
Lintasan hiruk pikuk
Saling sikut menyikut
Persenyawaan
Senasib dan sejiwa
Kenangan usang
Bertemu dan berpisah
Terlintas dalam benak
Makna ingatan
Tiada tenggang rasa
Antar sesama
Sinar lampu berasap
Abu, debu jalanan
MiRa - Amsterdam - 10 Maret 2012
Kursi dan meja bundar
Menghadap luar
Gangguan lalu lalang
Mengusik waktu senggang
Saat jam sibuk
Di jalur jalan sepeda
Susul menyusul
Lintasan hiruk pikuk
Saling sikut menyikut
Persenyawaan
Senasib dan sejiwa
Kenangan usang
Bertemu dan berpisah
Terlintas dalam benak
Makna ingatan
Tiada tenggang rasa
Antar sesama
Sinar lampu berasap
Abu, debu jalanan
MiRa - Amsterdam - 10 Maret 2012
Tuesday, February 14, 2012
[Updating] Antologi Puisi Untuk Bima Membara
Kepada yth para Penyair antologi puisi Bima Membara yang baik,
Salam Sastra Pembebasan!
Pertama-tama, kami mengucapkan terimakasih atas simpati, dukungan dan sumbangan karya puisi untuk Bima Membara. Sumbangan karya - karya puisi itu sebagai ekspresi kepedulian terhadap Peristiwa Tragedi Kemanusiaan, yang terjadi di Pelabuhan Sape – Bima pada tanggal 24 desember 2011.
Karena banyaknya sumbangan puisi yang dikirim oleh para penulis, sehingga tak bisa diterbitkan semuanya karena keterbatasan biaya, tapi kami bermaksud menerbitkan buku antologi Bima Membara yang kedua buat karya para penyair yang belum termuat puisinya.
Rencana launching buku Bima Membara akan diadakan di Jakarta dalam waktu dekat yang akan diinformasikan lebih lanjut kepada para penulis, dan dalam acara tersebut para penulis akan diberikan 1 eksemplar buku.
Bagi para pecinta puisi bisa membeli bukunya, langsung menghubungi penerbit Halaman Moeka, melalui Email: halamanmoeka@gmail.com
atau silahkan click: http://halamanmoeka.blogspot.com/2012/02/kumpulan-puisi-bima-membara-halaman.html
Mohon maaf jika ada kekurangan kami. Semoga usaha suka rela kita bersama ini akan membangkitkan solidaritas terhadap perjuangan rakyat di Bima.
salam
------------------------------------------------------------------------------------------------
Buku:
BIMA MEMBARA
Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima
- tebal 80 halaman
- ukuran 13 x 20 cm
- kertas HVS 70 gr B/W
- cover artcartoon 230 gr, laminating dof
Cover buku:
BIMA MEMBARA
Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima
Koordinator:
Leonowens SP
Editor:
Heri Latief
Mira Kusuma
Arif Hidayat
Jumari HS
Layouter:
Catur S.
Desain Cover:
Irman Permana
Diterbitkan Oleh:
Halaman Moeka Publishing
Jakarta, Februari 2012
ISBN: 978-602-9126-13-6
Halaman Moeka Publishing
Jl. Manggis IV, No. 2 RT/RW 07/04,
Tanjung Duren Selatan,
Grogol Petamburan, Jakarta Barat
http://halamanmoeka.blogspot.com
Telp 021 46224131
Daftar Isi — ix
Menimba Air Mata di Bima Oleh Dinullah Rayes — 1
Suara Oleh Shaka Arundaya — 3
Larik Samsara Oleh Selly Hartanti — 4
Negara Sakit Dipimpin Para Penjahat Tukang Kibul Oleh S Stanley Sumampouw — 5
Untuk Bima Oleh Eka RS — 6
Ketika Timah Panas dan Sepatu Lars Bicara Oleh Arrie Boediman La Ede — 8
Kami Masih Ada Oleh Kit Rose — 13
Untuk Petani Bima Oleh Habe Arifin — 15
Tragedi Penembakan di Sape Oleh Edy Priyatna — 16
Tanah Ini Sudah Meratap Oleh Kelana — 19
Robohkan Angkuhmu Oleh Donny Anggoro — 22
Negeriku di Serambi Bima Oleh Zeta Rosa — 24
Cukup Sudah! Oleh Bayu Gautama — 26
Kota yang Tidur Oleh Dwi Rahariyoso — 28
Bumiku Menangis Oleh Selsa — 30
Pejuang-Pejuang Bima Oleh Bambang Prayitno — 32
Pagi di Pelabuhan Sape Oleh Agus Wepe — 34
Maka Ceritapun Berubah Arah Oleh Wasta Tama — 35
Bima Mutiara Nusantara Oleh Nurdiana — 37
Cerita Rumput Oleh Edy Firmansyah — 40
Harga Petani Oleh Ario Sasongko — 42
Tanah Darah Oleh Alex R. Nainggolan — 44
Bima yang Menggugat Oleh Jaksen Saragih — 46
Ingin Aku Bedamai Denganmu Oleh Thomas Budi Santoso — 49
Rezim Patuk Ular Oleh Saiful Hadjar — 52
(Haibun) Malam Kudus Berdarah Oleh MiRa — 54
Bima dan Kuku-Kuku Itu Oleh Dimas Arika Mihardja — 57
Bima Oleh Jumari HS — 59
Emas dan Tanah Air Oleh Asahan — 61
Emas Berdarah Rakyat Oleh Heri Latief — 63
Bima Berkabung Oleh Selendang Sulaiman — 64
Di Bima, Darah Bersimbah Oleh Darmanto Nugroho — 67
KATA MUTIARA
"Memang, kebijakan pemerintah yang lebih mementingkan pemodal menyebabkan aparatus negara dapat mempersepsikan masyarakat yang tidak sepaham menjadi musuh bersama yang harus dilawan. Karenanya saat ini, kita tidak bisa lagi membedakan mana penjajah mana penguasa.”
(Leonowens SP – Sastrawan Dunia)
Kata Pengantar
“Polisi! Gunakan wibawamu sebagai senjata, jangan gunakan senjatamu sebagai wibawa.”
Cukup sulit menemukan perilaku menempatkan wibawa sebagai senjata bagi aparatus kepolisian jika membuka lembaran-lembaran bentrokan masyarakat dengan kepolisian akhir-akhir ini.
Senin, (19/12/2011) ribuan masyarakat Kecamatan Lambu Kabupaten Bima Provinsi Nusatenggara Barat (NTB) melakukan long march dengan berjalan kaki menuju pelabuhan Sape. Aparat keamanan berusaha untuk menghalau pendemo namun gagal dilakukan disebabkan jumlah massa saat itu mencapai ribuan orang tidak sebanding dengan jumlah aparat kepolisian.
Hari itulah titik awal masyarakat melakukan gerakan massif guna mendapat perhatian pemangku kebijakan terkait polemik Keputusan Bupati Bima Nomor: 188.45/357/004/2010 tanggal 28 April 2010 tentang penyesuaian Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT. Sumber Mineral Nusantara (PTSMN).
Bibit penolakan sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan pada hari Kamis tanggal 10 Februari 2011 masyarakat Kecamatan Lambu Bima juga bentrok dengan aparat keamanan setempat yang mengakibatkan perusakan dan pembakaran beberapa unit kendaraan milik Pemerintah Daerah Bima.
Penolakan masyarakat Kecamatan Lambu ini bermula tatkala PTSMN berniat melakukan eksplorasi pertambangan diwilayah Lambu. Dalam hal ini masyarakat melihat, jika pertambangan dilakukan diwilayah tersebut maka otomatis akan menganggu sumber mata air mereka dan masyarakat telah mendapat informasi DAM Diwu Moro yang merupakan satu-satunya penampung air diwilayah tersebut akan ditutup.
Adanya DAM Diwu Moro tersebut merupakan penampungan air bagi petani bawang merah dan pada musim kemarau, Dari DAM air tersebut dialiri lewat sungai-sungai untuk dialiri langsung pada lahan pertanian milik warga. Informasi akan ditutupnya Diwu Moro yang merupakan DAM terluas di Indonesia setelah “DAM Pela Parado” Kecamatan Parado Kabupaten Bima terluas se-ASEAN tentunya Kecamatan Lambu dan sekitarnya akan mengalami bencana banjir bandang yang tidak terkirakan akibatnya. Dan merekapun sudah memperkirakan akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan air guna mengairi tanaman bawang yang menjadi tanaman utama bagi pertanian setempat.
Kerusuhan awal Februari 2011 ternyata tidak membuat pemangku kebijakan setempat bergeming, permintaan masyarakat untuk menghentikan ijin operasional PTSMN tetap tidak dipenuhi oleh pemangku kebijakan meskipun masyarakat setempat tetap mencoba melakukan komunikasi dengan pihak pemangku kebijakan.
Rasa frustasi karena keinginan masyarakat tidak terpenuhi akhirnya diputuskan untuk melakukan aksi yang lebih besar dan berdampak luas bagi masyarakat lainnya. Diputuskanlah melakukan blockade pelabuhan Sape Bima di Kecamatan Sape yang sebenarnya berbeda kecamatan dengan Kecamatan Lambu.
Sejak Senin (19/12/2011) ribuan masyarakat memblokade pelabuhan penghubung antara Pulau Sumbawa dengan Provinsi Nusatenggara Timur (NTT). Berhari-hari negoisasi telah diupayakan agar masyarakat menghentikan aksi blokade pelabuhan, namun kesepakatan belum tercapai. “Masyarakat tetap menuntut cabut ijin operasional PTSMN untuk selamanya.”
Negoisasi gagal inilah yang membuat aparatus keplisian dari Polda NTB bertekat untuk membersihkan pelabuhan dari masyarakat yang masih bertahan. Jumlah aparat keamanan yang diterjunkan pada Sabtu (24/12/2011) kelabu tersebut tidak sebanding dengan jumlah massa yang diperkirakan tinggal 300 orang.
Tak pelak, bentrokan pun terjadi. Ratusan massa yang masih bertahan porak-poranda akibat tembakan aparat keamanan. Setidaknya data terakhir yang dilansir oleh Komnas HAM dan DPD RI sebanyak 3 orang tewas dan lebih dari 30 orang mengalami luka-luka serius.
Hasil investigasi Komnas HAM pun menemukan adanya pelanggaran atas prosedur penanganan unjuk rasa tersebut.
Sontak, Peristiwa Sabtu kelabu di pelabuhan Sape Bima ini mendapat sorotan dari berbagai pihak atas sikap penanganan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh aparatus Kepolisian di NTB. Berbagai aksi dilakukan oleh beberapa elemen masyarakat di seluruh Indonesia, mengecam keras atas tindakan aparatus kepolisian yang menghilangkan nyawa masyarakat dengan kekerasan.
Peristiwa Bima, ternyata tidak membuat nyali aparatus Kepolisian RI untuk tetap mengedepankan kekerasan dalam mengamankan pengunjuk rasa. Pasca bentrokan bima, ternyata korban-korban lain pun berjatuhan ditangan aparat kepolisian. Elemen masyarakat dan mahasiswa yang melakukan aksi kecaman terhadap peristiwa Bima ternyata juga manjadi korban saat mereka berhadapan dengan aparatus kepolisian disaat aksi lapangan. Puluhan orang terlibat bentrok dengan aparat kepolisian di beberapa kota dari Makasar hingga Jakarta.
Rasa keperihatinan mendalam terhadap sikap penanganan aksi oleh aparatus Kepolisian terus bergulir dengan berbagai cara dan di banyak tempat. Mahasiswa melampiaskannya dengan aksi dilapangan, politisi dengan cara mengadakan diskusi dan konfrensi pers, dan kami coba menghimpun Penyair Nusantara dalam sebuah buku puisi yang berjudul “BIMA MEMBARA: Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima”.
Bermula dari komunikasi tidak resmi dengan saudara Leonowens SP, tercetuslah ide untuk menghimpun puisi-puisi yang secara khusus mengenang peristiwa Sabtu kelabu di pelabuhan Sape Bima. Ide ini kemudian mendapat apresiasi dari saudara Heri Latief dan mbak MiRa yang kesehariannya bergelut di Sastra Pembebasan dan saat ini bermukim di Belanda.
Berbagai elemen didunia maya diantaranya dari groups facebook “Kumpulan Fiksi”, “Komunikasi Sastra”, “SASTRA dalam SAJAK” dan komunitas Blog Kompasiana.com serta rekan Jumari HS dari Komite Sastra Dewan Kesenian Kudus juga secara langsung mendukung dengan menyebarkan informasi solidaritas ini, sehingga hanya dalam waktu dua minggu terhimpun puluhan penyair yang menyumbangkan karya puisinya.
Antologi puisi ini merupakan upaya kami dalam menghimpun kegalauan penyair nusantara dalam menyikapi berbagai peristiwa yang melibatkan aparatus Negara terutama Kepolisian RI. Berbagai penanganan masalah yang seharusnya bisa diselesaikan secara damai, justru akhir-akhir ini lebih senang dilakukan menggunakan kekerasan. Padahal nyawa manusia tidak akan bisa dikembalikan lagi jika peluru merenggut hak hidup masyarakat kita.
Kami berharap, buku antologi puisi ini dapat menjadi rekaman sejarah atas sikap kebrutalan aparatus kepolisian yang sudah tentu pada tahun-tahun mendatang tidak akan mengulangi lagi sejarah yang sama.
Sudah sepantasnya jika para penyair yang terlibat dalam antologi puisi “BIMA MEMBARA: Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima“ diberikan apresiasi atas karyanya, namun karena keterbatasan yang kami miliki maka apresiasi tersebut baru sebatas ucapan terima kasih.
Rekan-rekan penyair, Dinullah Rayes, Shaka Arundaya, Selly Hartanti, S Stanley Sumampouw, Eka RS, Arrie Boediman La Ede, Kit Rose, Habe Arifin, Edy Priyatna, Kelana, Donny Anggoro, Zeta Rosa, Bayu Gautama, Dwi Rahariyoso, Selsa, Bambang Prayitno, Agus Wepe, Wasta Tama, Nurdiana, Edy Firmansyah, Ario Sasongko, Alex R. Nainggolan, Jaksen Saragih, Thomas Budi Santoso, Saiful Hadjar, MiRa, Dimas Arika Mihardja, Jumari HS, Asahan, Heri Latief, Selendang Sulaiman, Darmanto Nugroho telah menoreh sejarah tersendiri untuk berupaya menyadarkan aparatus kepolisian kita agar lebih baik untuk hari-hari mendatang.
Terima kasih, salam hangat.
Jakarta, 13 Januari 2012
Arif Hidayat
(Penggiat LSM anti korupsi kelahiran Sumbawa NTB, pemilik media online www.sumbawanews.com dan majalah Sumbawanews)
Endorsement
Prof. DR. H.M. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah, Kelahiran Sumbawa)
Tragedi Sape-Bima mengusik hati kita semua, ketika bahasa kekerasan bicara, dan menjadi cara penguasa memperlakukan rakyatnya. Slogan pro-rakyat, pro kerja, hanyalah retorika politik belaka, yang berhenti pada kata-kata, tak pernah menjelma dalam perbuatan nyata. Adalah kelaliman kalau penguasa dikuasai hawa nafsu, adalah kemunafikan kalau ucap dan tindak tak menyatu. Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Peribahasa tempo dulu, sayang tergerus waktu. Jika kebenaran tiba, kebatilan kan sirna.
Drs. H. Harun Alrasyid (Mantan Gubernur NTB dan Saat ini menjadi anggota DPR RI)
"Puisi menjadi alternatif celoteh bagi ide yang tak bisa dipenjara waktu, meski badan terkerangkeng, puisi kan tetap berkicau di tengah tirani dan denting peluru. Buku kumpulan puisi Bima Membara Ini adalah gerhana realitas sekaligus gerhana waktu, lahir dari refleksi sadar para penulis nya, sebagai sikap dan sekaligus kenang atas pristiwa bahwa Bima memang membara."
Fahri Hamzah ( Anggota DPR RI Asal Pulau Sumbawa - NTB
"Saya sudah membaca semua kemarahan, kata-kata dan teks secara keseluruhan seperti mengeluarkan gelombang dan dengung orang-orang yang tidak mau di dengar oleh otoritas politik dan penanam modal...kita perlu membaca kumpulan puisi ini untuk mempertajam nurani bahwa negara ini masih jauh dari baik jika dilihat dari kemampuannya memelihara hak milik dan hak asasi rakyat."
Salam Sastra Pembebasan!
Pertama-tama, kami mengucapkan terimakasih atas simpati, dukungan dan sumbangan karya puisi untuk Bima Membara. Sumbangan karya - karya puisi itu sebagai ekspresi kepedulian terhadap Peristiwa Tragedi Kemanusiaan, yang terjadi di Pelabuhan Sape – Bima pada tanggal 24 desember 2011.
Karena banyaknya sumbangan puisi yang dikirim oleh para penulis, sehingga tak bisa diterbitkan semuanya karena keterbatasan biaya, tapi kami bermaksud menerbitkan buku antologi Bima Membara yang kedua buat karya para penyair yang belum termuat puisinya.
Rencana launching buku Bima Membara akan diadakan di Jakarta dalam waktu dekat yang akan diinformasikan lebih lanjut kepada para penulis, dan dalam acara tersebut para penulis akan diberikan 1 eksemplar buku.
Bagi para pecinta puisi bisa membeli bukunya, langsung menghubungi penerbit Halaman Moeka, melalui Email: halamanmoeka@gmail.com
atau silahkan click: http://halamanmoeka.blogspot.com/2012/02/kumpulan-puisi-bima-membara-halaman.html
Mohon maaf jika ada kekurangan kami. Semoga usaha suka rela kita bersama ini akan membangkitkan solidaritas terhadap perjuangan rakyat di Bima.
salam
------------------------------------------------------------------------------------------------
Buku:
BIMA MEMBARA
Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima
- tebal 80 halaman
- ukuran 13 x 20 cm
- kertas HVS 70 gr B/W
- cover artcartoon 230 gr, laminating dof
Cover buku:
BIMA MEMBARA
Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima
Koordinator:
Leonowens SP
Editor:
Heri Latief
Mira Kusuma
Arif Hidayat
Jumari HS
Layouter:
Catur S.
Desain Cover:
Irman Permana
Diterbitkan Oleh:
Halaman Moeka Publishing
Jakarta, Februari 2012
ISBN: 978-602-9126-13-6
Halaman Moeka Publishing
Jl. Manggis IV, No. 2 RT/RW 07/04,
Tanjung Duren Selatan,
Grogol Petamburan, Jakarta Barat
http://halamanmoeka.blogspot.com
Telp 021 46224131
Daftar Isi — ix
Menimba Air Mata di Bima Oleh Dinullah Rayes — 1
Suara Oleh Shaka Arundaya — 3
Larik Samsara Oleh Selly Hartanti — 4
Negara Sakit Dipimpin Para Penjahat Tukang Kibul Oleh S Stanley Sumampouw — 5
Untuk Bima Oleh Eka RS — 6
Ketika Timah Panas dan Sepatu Lars Bicara Oleh Arrie Boediman La Ede — 8
Kami Masih Ada Oleh Kit Rose — 13
Untuk Petani Bima Oleh Habe Arifin — 15
Tragedi Penembakan di Sape Oleh Edy Priyatna — 16
Tanah Ini Sudah Meratap Oleh Kelana — 19
Robohkan Angkuhmu Oleh Donny Anggoro — 22
Negeriku di Serambi Bima Oleh Zeta Rosa — 24
Cukup Sudah! Oleh Bayu Gautama — 26
Kota yang Tidur Oleh Dwi Rahariyoso — 28
Bumiku Menangis Oleh Selsa — 30
Pejuang-Pejuang Bima Oleh Bambang Prayitno — 32
Pagi di Pelabuhan Sape Oleh Agus Wepe — 34
Maka Ceritapun Berubah Arah Oleh Wasta Tama — 35
Bima Mutiara Nusantara Oleh Nurdiana — 37
Cerita Rumput Oleh Edy Firmansyah — 40
Harga Petani Oleh Ario Sasongko — 42
Tanah Darah Oleh Alex R. Nainggolan — 44
Bima yang Menggugat Oleh Jaksen Saragih — 46
Ingin Aku Bedamai Denganmu Oleh Thomas Budi Santoso — 49
Rezim Patuk Ular Oleh Saiful Hadjar — 52
(Haibun) Malam Kudus Berdarah Oleh MiRa — 54
Bima dan Kuku-Kuku Itu Oleh Dimas Arika Mihardja — 57
Bima Oleh Jumari HS — 59
Emas dan Tanah Air Oleh Asahan — 61
Emas Berdarah Rakyat Oleh Heri Latief — 63
Bima Berkabung Oleh Selendang Sulaiman — 64
Di Bima, Darah Bersimbah Oleh Darmanto Nugroho — 67
KATA MUTIARA
"Memang, kebijakan pemerintah yang lebih mementingkan pemodal menyebabkan aparatus negara dapat mempersepsikan masyarakat yang tidak sepaham menjadi musuh bersama yang harus dilawan. Karenanya saat ini, kita tidak bisa lagi membedakan mana penjajah mana penguasa.”
(Leonowens SP – Sastrawan Dunia)
Kata Pengantar
“Polisi! Gunakan wibawamu sebagai senjata, jangan gunakan senjatamu sebagai wibawa.”
Cukup sulit menemukan perilaku menempatkan wibawa sebagai senjata bagi aparatus kepolisian jika membuka lembaran-lembaran bentrokan masyarakat dengan kepolisian akhir-akhir ini.
Senin, (19/12/2011) ribuan masyarakat Kecamatan Lambu Kabupaten Bima Provinsi Nusatenggara Barat (NTB) melakukan long march dengan berjalan kaki menuju pelabuhan Sape. Aparat keamanan berusaha untuk menghalau pendemo namun gagal dilakukan disebabkan jumlah massa saat itu mencapai ribuan orang tidak sebanding dengan jumlah aparat kepolisian.
Hari itulah titik awal masyarakat melakukan gerakan massif guna mendapat perhatian pemangku kebijakan terkait polemik Keputusan Bupati Bima Nomor: 188.45/357/004/2010 tanggal 28 April 2010 tentang penyesuaian Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi kepada PT. Sumber Mineral Nusantara (PTSMN).
Bibit penolakan sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan pada hari Kamis tanggal 10 Februari 2011 masyarakat Kecamatan Lambu Bima juga bentrok dengan aparat keamanan setempat yang mengakibatkan perusakan dan pembakaran beberapa unit kendaraan milik Pemerintah Daerah Bima.
Penolakan masyarakat Kecamatan Lambu ini bermula tatkala PTSMN berniat melakukan eksplorasi pertambangan diwilayah Lambu. Dalam hal ini masyarakat melihat, jika pertambangan dilakukan diwilayah tersebut maka otomatis akan menganggu sumber mata air mereka dan masyarakat telah mendapat informasi DAM Diwu Moro yang merupakan satu-satunya penampung air diwilayah tersebut akan ditutup.
Adanya DAM Diwu Moro tersebut merupakan penampungan air bagi petani bawang merah dan pada musim kemarau, Dari DAM air tersebut dialiri lewat sungai-sungai untuk dialiri langsung pada lahan pertanian milik warga. Informasi akan ditutupnya Diwu Moro yang merupakan DAM terluas di Indonesia setelah “DAM Pela Parado” Kecamatan Parado Kabupaten Bima terluas se-ASEAN tentunya Kecamatan Lambu dan sekitarnya akan mengalami bencana banjir bandang yang tidak terkirakan akibatnya. Dan merekapun sudah memperkirakan akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan air guna mengairi tanaman bawang yang menjadi tanaman utama bagi pertanian setempat.
Kerusuhan awal Februari 2011 ternyata tidak membuat pemangku kebijakan setempat bergeming, permintaan masyarakat untuk menghentikan ijin operasional PTSMN tetap tidak dipenuhi oleh pemangku kebijakan meskipun masyarakat setempat tetap mencoba melakukan komunikasi dengan pihak pemangku kebijakan.
Rasa frustasi karena keinginan masyarakat tidak terpenuhi akhirnya diputuskan untuk melakukan aksi yang lebih besar dan berdampak luas bagi masyarakat lainnya. Diputuskanlah melakukan blockade pelabuhan Sape Bima di Kecamatan Sape yang sebenarnya berbeda kecamatan dengan Kecamatan Lambu.
Sejak Senin (19/12/2011) ribuan masyarakat memblokade pelabuhan penghubung antara Pulau Sumbawa dengan Provinsi Nusatenggara Timur (NTT). Berhari-hari negoisasi telah diupayakan agar masyarakat menghentikan aksi blokade pelabuhan, namun kesepakatan belum tercapai. “Masyarakat tetap menuntut cabut ijin operasional PTSMN untuk selamanya.”
Negoisasi gagal inilah yang membuat aparatus keplisian dari Polda NTB bertekat untuk membersihkan pelabuhan dari masyarakat yang masih bertahan. Jumlah aparat keamanan yang diterjunkan pada Sabtu (24/12/2011) kelabu tersebut tidak sebanding dengan jumlah massa yang diperkirakan tinggal 300 orang.
Tak pelak, bentrokan pun terjadi. Ratusan massa yang masih bertahan porak-poranda akibat tembakan aparat keamanan. Setidaknya data terakhir yang dilansir oleh Komnas HAM dan DPD RI sebanyak 3 orang tewas dan lebih dari 30 orang mengalami luka-luka serius.
Hasil investigasi Komnas HAM pun menemukan adanya pelanggaran atas prosedur penanganan unjuk rasa tersebut.
Sontak, Peristiwa Sabtu kelabu di pelabuhan Sape Bima ini mendapat sorotan dari berbagai pihak atas sikap penanganan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh aparatus Kepolisian di NTB. Berbagai aksi dilakukan oleh beberapa elemen masyarakat di seluruh Indonesia, mengecam keras atas tindakan aparatus kepolisian yang menghilangkan nyawa masyarakat dengan kekerasan.
Peristiwa Bima, ternyata tidak membuat nyali aparatus Kepolisian RI untuk tetap mengedepankan kekerasan dalam mengamankan pengunjuk rasa. Pasca bentrokan bima, ternyata korban-korban lain pun berjatuhan ditangan aparat kepolisian. Elemen masyarakat dan mahasiswa yang melakukan aksi kecaman terhadap peristiwa Bima ternyata juga manjadi korban saat mereka berhadapan dengan aparatus kepolisian disaat aksi lapangan. Puluhan orang terlibat bentrok dengan aparat kepolisian di beberapa kota dari Makasar hingga Jakarta.
Rasa keperihatinan mendalam terhadap sikap penanganan aksi oleh aparatus Kepolisian terus bergulir dengan berbagai cara dan di banyak tempat. Mahasiswa melampiaskannya dengan aksi dilapangan, politisi dengan cara mengadakan diskusi dan konfrensi pers, dan kami coba menghimpun Penyair Nusantara dalam sebuah buku puisi yang berjudul “BIMA MEMBARA: Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima”.
Bermula dari komunikasi tidak resmi dengan saudara Leonowens SP, tercetuslah ide untuk menghimpun puisi-puisi yang secara khusus mengenang peristiwa Sabtu kelabu di pelabuhan Sape Bima. Ide ini kemudian mendapat apresiasi dari saudara Heri Latief dan mbak MiRa yang kesehariannya bergelut di Sastra Pembebasan dan saat ini bermukim di Belanda.
Berbagai elemen didunia maya diantaranya dari groups facebook “Kumpulan Fiksi”, “Komunikasi Sastra”, “SASTRA dalam SAJAK” dan komunitas Blog Kompasiana.com serta rekan Jumari HS dari Komite Sastra Dewan Kesenian Kudus juga secara langsung mendukung dengan menyebarkan informasi solidaritas ini, sehingga hanya dalam waktu dua minggu terhimpun puluhan penyair yang menyumbangkan karya puisinya.
Antologi puisi ini merupakan upaya kami dalam menghimpun kegalauan penyair nusantara dalam menyikapi berbagai peristiwa yang melibatkan aparatus Negara terutama Kepolisian RI. Berbagai penanganan masalah yang seharusnya bisa diselesaikan secara damai, justru akhir-akhir ini lebih senang dilakukan menggunakan kekerasan. Padahal nyawa manusia tidak akan bisa dikembalikan lagi jika peluru merenggut hak hidup masyarakat kita.
Kami berharap, buku antologi puisi ini dapat menjadi rekaman sejarah atas sikap kebrutalan aparatus kepolisian yang sudah tentu pada tahun-tahun mendatang tidak akan mengulangi lagi sejarah yang sama.
Sudah sepantasnya jika para penyair yang terlibat dalam antologi puisi “BIMA MEMBARA: Sebuah Kumpulan Puisi untuk Bima“ diberikan apresiasi atas karyanya, namun karena keterbatasan yang kami miliki maka apresiasi tersebut baru sebatas ucapan terima kasih.
Rekan-rekan penyair, Dinullah Rayes, Shaka Arundaya, Selly Hartanti, S Stanley Sumampouw, Eka RS, Arrie Boediman La Ede, Kit Rose, Habe Arifin, Edy Priyatna, Kelana, Donny Anggoro, Zeta Rosa, Bayu Gautama, Dwi Rahariyoso, Selsa, Bambang Prayitno, Agus Wepe, Wasta Tama, Nurdiana, Edy Firmansyah, Ario Sasongko, Alex R. Nainggolan, Jaksen Saragih, Thomas Budi Santoso, Saiful Hadjar, MiRa, Dimas Arika Mihardja, Jumari HS, Asahan, Heri Latief, Selendang Sulaiman, Darmanto Nugroho telah menoreh sejarah tersendiri untuk berupaya menyadarkan aparatus kepolisian kita agar lebih baik untuk hari-hari mendatang.
Terima kasih, salam hangat.
Jakarta, 13 Januari 2012
Arif Hidayat
(Penggiat LSM anti korupsi kelahiran Sumbawa NTB, pemilik media online www.sumbawanews.com dan majalah Sumbawanews)
Endorsement
Prof. DR. H.M. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah, Kelahiran Sumbawa)
Tragedi Sape-Bima mengusik hati kita semua, ketika bahasa kekerasan bicara, dan menjadi cara penguasa memperlakukan rakyatnya. Slogan pro-rakyat, pro kerja, hanyalah retorika politik belaka, yang berhenti pada kata-kata, tak pernah menjelma dalam perbuatan nyata. Adalah kelaliman kalau penguasa dikuasai hawa nafsu, adalah kemunafikan kalau ucap dan tindak tak menyatu. Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Peribahasa tempo dulu, sayang tergerus waktu. Jika kebenaran tiba, kebatilan kan sirna.
Drs. H. Harun Alrasyid (Mantan Gubernur NTB dan Saat ini menjadi anggota DPR RI)
"Puisi menjadi alternatif celoteh bagi ide yang tak bisa dipenjara waktu, meski badan terkerangkeng, puisi kan tetap berkicau di tengah tirani dan denting peluru. Buku kumpulan puisi Bima Membara Ini adalah gerhana realitas sekaligus gerhana waktu, lahir dari refleksi sadar para penulis nya, sebagai sikap dan sekaligus kenang atas pristiwa bahwa Bima memang membara."
Fahri Hamzah ( Anggota DPR RI Asal Pulau Sumbawa - NTB
"Saya sudah membaca semua kemarahan, kata-kata dan teks secara keseluruhan seperti mengeluarkan gelombang dan dengung orang-orang yang tidak mau di dengar oleh otoritas politik dan penanam modal...kita perlu membaca kumpulan puisi ini untuk mempertajam nurani bahwa negara ini masih jauh dari baik jika dilihat dari kemampuannya memelihara hak milik dan hak asasi rakyat."
Saturday, February 11, 2012
[Tanka] Barat dan Timur
Air membeku
Sungai berlapis salju
Anak bermain
Hidup menggigil dingin
Kumpulan unggas lapar
Mengayuh sampan
Dari hulu ke hilir
Laut samudra
Kemapanan di barat
Ufuk timur melarat
Awan kelabu
Menyelimuti hati
Anak jalanan
Panas terik mengais
Gunung sampah beracun
MiRa - Amsterdam, 10 Februari 2012
Thursday, February 9, 2012
[Tanka] Makna Hidup
Heningnya malam
Membentang wajah bumi
Bulan bersaksi
Sinar cahaya lilin
Mimpi menghias kelam
Misteri hidup
Menyusuri kenangan
Ilusi sirna
Harapan masa depan
Tersirat makna hidup
MiRa - Amsterdam, 9 Februari 2012
Saturday, February 4, 2012
Tanka di Musim Dingin
Fajar menyingsing
Siluet cahaya surya
Berkilau emas
Pohon bergaun salju
Cabang ranting membeku
Kumpulan gagak
Menggaok-gaok galau
Terdengar parau
Hama terkapar mati
Mimpi lahir kembali
MiRa - Elisabeth Samsonstraat, 4 Februari 2012
Sunday, January 29, 2012
[Haiku] Lintah Darat
Bisikan angin
Pada bayangan sinar
Ke kehidupan
Sejarah bangsa
Hukum sebab akibat
Berkontradiksi
Pemilik modal
Mesin dan manusia
Rentenir riba
Alat produksi
Wahana jati diri
Pabrik berasap
Peluh keringat
Tenaga kerja pabrik
Bersimbah darah
Tuntutan buruh
Sandang pangan dan papan
Jaminan hidup
MiRa - Amsterdam, 29 Januari 2012
Sunday, January 22, 2012
[Haibun] Separuh Hampa
Separuh hampa
Menantang takdir hidup
Jiwa membara
Perjalanan panjang
jangka waktu terbatas
seakan hidup penuh arti
Tiada kasih tanpa cinta
tatapan mata memandang
menapak masa depan
Timur ke barat
Perjalanan bermakna
Jati dirinya
Alkisah hidup silih berganti
mengarungi lintasan arus badai
bagai pasang-surutnya air lautan
Pilihan keyakinan diperjuangkan
rintangan membakar ingatan
dalam semangat jiwa bara api
Kepulan asap
Gelombang angin dingin
Merasuk sukma
Embun pagi berkilau
Secerah matahari
MiRa - Elisabeth Samsonstraat, 22 Januari 2012
Menantang takdir hidup
Jiwa membara
Perjalanan panjang
jangka waktu terbatas
seakan hidup penuh arti
Tiada kasih tanpa cinta
tatapan mata memandang
menapak masa depan
Timur ke barat
Perjalanan bermakna
Jati dirinya
Alkisah hidup silih berganti
mengarungi lintasan arus badai
bagai pasang-surutnya air lautan
Pilihan keyakinan diperjuangkan
rintangan membakar ingatan
dalam semangat jiwa bara api
Kepulan asap
Gelombang angin dingin
Merasuk sukma
Embun pagi berkilau
Secerah matahari
MiRa - Elisabeth Samsonstraat, 22 Januari 2012
Sunday, January 15, 2012
[Haibun] Hutang Piutang
Hutang-piutang
Yunani nyaris bangkrut
Rakyat berontak
Menyelamatkan euro
Negara dalam resesi
Apa daya, daya beli warga Eropa anjlok
Naiknya harga sandang, pangan dan papan
kebutuhan hidup minimal rakyatnya terpuruk
Kisah kasak-kusuk penanganan krisis finansial
di tengah keramaian pasar modal, seakan mampu
berkiprah keluar dari kemelut resesi ekonomi negara
Ada makna tersirat dan tersurat dari siasat konspirasi
lalu, siapa peduli efek domino krisis ekonomi menggelobal?
Menghemat budget
Pengangguran melonjak
Perang moneter
Mendaur ulang
Jeratan kemiskinan
Lingkaran setan
MiRa - Amsterdam, 15 Januari 2012
Yunani nyaris bangkrut
Rakyat berontak
Menyelamatkan euro
Negara dalam resesi
Apa daya, daya beli warga Eropa anjlok
Naiknya harga sandang, pangan dan papan
kebutuhan hidup minimal rakyatnya terpuruk
Kisah kasak-kusuk penanganan krisis finansial
di tengah keramaian pasar modal, seakan mampu
berkiprah keluar dari kemelut resesi ekonomi negara
Ada makna tersirat dan tersurat dari siasat konspirasi
lalu, siapa peduli efek domino krisis ekonomi menggelobal?
Menghemat budget
Pengangguran melonjak
Perang moneter
Mendaur ulang
Jeratan kemiskinan
Lingkaran setan
MiRa - Amsterdam, 15 Januari 2012
Saturday, January 7, 2012
[Haibun] Malam Kudus Berdarah

Dikala keheningan mewarnai hari peringatan kelahiran Kristus, seketika ingatan bersama mimpi purnama memudar. Sepi lalu-lalang di jalan, hanya kadang terdengar suara trem menderu kencang memecah kesunyian malam, hembusan angin dingin berdesir, menerpa tirai batasan dinding tua, dan berbisik kepada bangsa-bangsa di kaki langit,
Eksploitasi
Area tambang emas
Lahan tercemar
Tragedi Bima
Air limbah kubangan
Berlumur darah
Saat lembaran hitam terukir dalam kumpulan catatan harian, guratan pena bertinta emas, sirna memaknai jejak kehidupan sang juru selamat umat manusia. Waktu menuntun malam, tak urung melintasi kenangan kelam menyita heningnya malam kudus.
Menguak tabir
Di Pelabuhan Sape
Luka bernanah
Moncong senjata
Sang penguasa zalim
Rakyat berontak
Bukan takdir menjejak napak tilas pesisir pantai emas, berbusung lapar
Walau hati dan jiwa menyelimuti kekaguman gemerlapnya citra warna Natal
cengkraman tak luput dari jubah sang pemodal bergaun egosentrisme
merajut mata rantai, kawat berduri membentang krisis sistem keuangan
sang adikuasa pun takabur mengangkangi keadilan dan hak kemanusiaan
Makna merdeka
Bebas dari tirani
Diperjuangkan
MiRa - Amsterdam, 7 Januari 2012
Sunday, January 1, 2012
[Haiku] Pergantian tahun
Renungan malam
Detak waktu terakhir
Menyambut hening
Gema suara
Percikan warna warni
Menghias kelam
Selamat tinggal
Adakah hari depan
Bebas merdeka?
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 00.01 2012
Detak waktu terakhir
Menyambut hening
Gema suara
Percikan warna warni
Menghias kelam
Selamat tinggal
Adakah hari depan
Bebas merdeka?
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 00.01 2012
Sunday, December 18, 2011
[Tanka] Ibunda
Saturday, December 17, 2011
[Haiku] Keniscayaan
Monday, December 5, 2011
[Haiku] Fajar Menyingsing
Saturday, December 3, 2011
[HAIKU] Menanti Fajar
Pagi nan kelam
Cahaya matahari
Tak kunjung tiba
Menapak jalan
Transparasi bayangan
Berkabut tebal
Jiwa meronta
Perjalanan usia
Sebatas musim
Raga terkoyak
Memahat kehidupan
Di perantauan
MiRa - Amsterdam, 3 Desember 2011
Cahaya matahari
Tak kunjung tiba
Menapak jalan
Transparasi bayangan
Berkabut tebal
Jiwa meronta
Perjalanan usia
Sebatas musim
Raga terkoyak
Memahat kehidupan
Di perantauan
MiRa - Amsterdam, 3 Desember 2011
Friday, November 11, 2011
[Haibun] Bulan Purnama

Di musim gugur
Saat cuaca cerah
Berjalan kaki
Menuntun sepeda sepanjang jalan boulevard Apollolaan,
kutelusuri lintasan barisan pohon-pohon bercabang,
bayang bayang dalam pancaran cahaya rembulan
menembus sinar kemilau di antara dahan dan ranting
jejak langkah berirama suara pijakan lapisan daun daun kering
gemerisik menembus batas waktu kebisuan dalam hening
Bulan punama
Memancar sinar terang
Di ujung jalan
Suara burung camar
Memecah keheningan
MiRa - Amsterdam, 11 - 11 - 11
Saturday, November 5, 2011
[Haibun] Perjalanan Usia
Tatapan mata
Daun daun di pohon
Aneka warna
Sejauh mata memandang
warna warni dedaunan terbang melayang layang
seperti menari riang di atas air telaga
Ranting dan dahan
Menetes air mata
Diterpa badai
Menyusuri jalan taman berkarpet daun kering
mengikuti hitungan waktu perjalanan
Dalam kumpulan catatan riwayat hidup insani
berkisar pada pahit getir dan manisnya kehidupan
Penjelajahan
Musim silih berganti
Suka dan duka
Perjalanan usia
Menunda kematian
MiRa - Amsterdam, 5 Nopember 2011
Daun daun di pohon
Aneka warna
Sejauh mata memandang
warna warni dedaunan terbang melayang layang
seperti menari riang di atas air telaga
Ranting dan dahan
Menetes air mata
Diterpa badai
Menyusuri jalan taman berkarpet daun kering
mengikuti hitungan waktu perjalanan
Dalam kumpulan catatan riwayat hidup insani
berkisar pada pahit getir dan manisnya kehidupan
Penjelajahan
Musim silih berganti
Suka dan duka
Perjalanan usia
Menunda kematian
MiRa - Amsterdam, 5 Nopember 2011
Wednesday, November 2, 2011
Haiku Musim Gugur

Terbang melayang
Di atas awan putih
Pulau samudra
Hal menyenangkan
Makna persahabatan
Tak terpisahkan
Bulan purnama
Menjauh tak berbatas
Serasa cemas
Siang dan malam
Memperingatkan waktu
Dalam gerakan
Kehadirannya
Mengusik keresahan
Di keheningan
Pohon di taman
Daun yang berguguran
Terhempas angin
MiRa - Amsterdam, 2 November 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)










