Ketakpastian
Di jalan kegelapan
Anak merintih
Setan setan yang makmur
Hidupnya gemerlapan
Pesona warna
Memikat kemegahan
Tanpa aroma
Indahnya gedung mewah
Bencana mengerikan
MiRa - Amsterdam, 26 Maret 2011
Saturday, March 26, 2011
Friday, March 25, 2011
[Haibun] Dalam Hitungan Waktu
Tak pernah lelah
Suara jam berdetak
Kapan berakhir?
Riwayat perjalanan waktu
menyusuri tujuan yang ditentukan
mata mengembara mencari tau
urusan kesaksian mati rasa
Serasa jari dingin menggenggam dendam
kumpulan awan seakan mengawal lara
berbalut luka menggumpal di lapisan angkasa
apakah keadilan dalam alam khayalan impian?
Kebingungan dan kehilangan jejak
mengejar duka seperti bersuka cita
Jauh begitu jauhnya dari diri sendiri
ketakutan tak bisa ditinggalkan
Tak diketahui
Siapa dirinya, dan
bagaimana wataknya
saát menit atau jam dilampaui
serasa lelah atau ada sesuatu hal
hal hal yang nyatanya tidak bisa diubah
hanya buat dirinyalah yang diinginkannya
merindukan punya dua sayap, lalu terbang jauh
melayang layang melanglang buana bebas merdeka
takkala kehidupan tanah airnya tertimbun kemiskinan
Diam menanti
Atau rasa kecewa
Waktu berlalu
Keinginan bersama
Impian gotong royong
MiRa - Amsterdam, 25 Maret 2011
Suara jam berdetak
Kapan berakhir?
Riwayat perjalanan waktu
menyusuri tujuan yang ditentukan
mata mengembara mencari tau
urusan kesaksian mati rasa
Serasa jari dingin menggenggam dendam
kumpulan awan seakan mengawal lara
berbalut luka menggumpal di lapisan angkasa
apakah keadilan dalam alam khayalan impian?
Kebingungan dan kehilangan jejak
mengejar duka seperti bersuka cita
Jauh begitu jauhnya dari diri sendiri
ketakutan tak bisa ditinggalkan
Tak diketahui
Siapa dirinya, dan
bagaimana wataknya
saát menit atau jam dilampaui
serasa lelah atau ada sesuatu hal
hal hal yang nyatanya tidak bisa diubah
hanya buat dirinyalah yang diinginkannya
merindukan punya dua sayap, lalu terbang jauh
melayang layang melanglang buana bebas merdeka
takkala kehidupan tanah airnya tertimbun kemiskinan
Diam menanti
Atau rasa kecewa
Waktu berlalu
Keinginan bersama
Impian gotong royong
MiRa - Amsterdam, 25 Maret 2011
Sunday, March 20, 2011
[Haibun] Kebatilan Penguasa
Bulan purnama di paska Super Moon, 19 maret 2011 

Bulan purnama
Kisah keprihatinan
Sabtu kelabu
Kebatilan dunia
Konspirasi durjana
Ada yang mengaitkan pengaruh super moon dengan bencana besar. Untuk menyimak pengamatan super moon diwaktu bulan purnama, bila dikaitkan dengan pengaruhnya ulah umat manusia kali ini, terbersit ingatan kita pada peristiwa awal aksi pemboman tiga negara sekutu, USA, Inggris dan Perancis di Lybia.
Cerita tragis
Pergolakan sosial
Rakus kuasa
Moral budaya barat
Drakula minum darah
Berpesta pora
Serasa kehadirannya
Keji dan kejam
Citra warga dunia
Berkarakter munafik!
MiRa - Amsterdam, 20 Maret 2011


Bulan purnama
Kisah keprihatinan
Sabtu kelabu
Kebatilan dunia
Konspirasi durjana
Ada yang mengaitkan pengaruh super moon dengan bencana besar. Untuk menyimak pengamatan super moon diwaktu bulan purnama, bila dikaitkan dengan pengaruhnya ulah umat manusia kali ini, terbersit ingatan kita pada peristiwa awal aksi pemboman tiga negara sekutu, USA, Inggris dan Perancis di Lybia.
Cerita tragis
Pergolakan sosial
Rakus kuasa
Moral budaya barat
Drakula minum darah
Berpesta pora
Serasa kehadirannya
Keji dan kejam
Citra warga dunia
Berkarakter munafik!
MiRa - Amsterdam, 20 Maret 2011
Saturday, March 19, 2011
[Haibun] Hari Internasional Melawan Rasisme dan Diskriminasi
Di taman bunga
Mimpi hati berseri
Bersama duka
Air mata menggenang
Mengenang masa perang
Perserikatan bangsa bangsa menetapkan tanggal 21 maret 1966 adalah hari internasional melawan rasisme dan diskriminasi. Penetapan hari internasional tersebut dinyatakan setelah kejadian kerusuhan rasial berdarah menentang pemberlakuan Kartu Identitas bagi orang yang berkulit hitam di kota Sharpeville Afrika Selatan (1960). Ketika itu polisi menembaki ribuan demonstran anti apartheid dan telah membunuh 69 orang.
Kekuasaan politik apartheid bangsa kulit putih di Afrika Selatan sudah dihapuskan, akan tetapi sikap dan tindakan diskriminasi atas perbedaan antar ras masih berjalan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak negara di dunia masih menghadapi masalah ras dan ketidakadilan.
Rasisme atau politik diskriminasi di Indonesia itu diwarisi sejak zaman kolonialisme, hal tersebut dipraktikan di dalam golongan masyarakat pribumi dan non pribumi demi kepentingan politik adu domba penguasa, dijalankan secara sistimatis oleh sistim kekuasaan pemerintahan kolonial di Hindia belanda pada saat itu. Politik adu domba tersebut diterapkan untuk melemahkan persatuan dan kesatuan perjuangan bangsa untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia.
Kemudian jendral Soeharto memakai kembali politik pecah belah dan menguasai alias "verdeel en heers" untuk menghancurkan secara sistimatis gerakan golongan kiri dan nasionalis progresip, yang mana dianggap sebagai lawan politiknya.
Sebagai taktik untuk mengamankan politik stabilitas superior rezim kekuasaan orde baru, maka dengan sengaja rezim militer Soeharto menciptakan bentuk konflik sosial selanjutnya, melalui kasus-kasus SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). Kondisi seperti itu mengingatkan kita pada zaman kekuasaan Fasis Adolf Hitler, dimana doktrin Nazi menganggap bangsa Jerman sebagai ras Aria yang paling superior, sedangkan bangsa Yahudi dan lawan politiknya adalah bangsa paria yang harus dimusnahkan.
Sebagai salah satu contoh kasus SARA yang bisa kita lihat adalah Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dan Kartu Tanda penduduk (KTP) dengan kode ET (Eks Tapol).
SBKRI khusus dibuat untuk warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, sedangkan KTP ET spesial untuk warga negara Indonesia yang dituduh terlibat atau simpatisan GESTOK 1965. Hal ini dianggap sebagai perlakuan diskriminatip dan telah dihapuskan pada periode Reformasi, namun dalam praktiknya masih diterapkan di berbagai daerah.
Sampai saat ini kasus rasialisme berkembang dalam proses yang lebih berbahaya dengan mengatasnamakan politik anti terorisme, dipakai sebagai rekayasa dan disponsori oleh kekuatan aparat negara, lalu dibantu juga oleh sekelompok preman yang direkrut dalam mekanisme sistim militerisme yang didukung oleh kepentingan politik ekonomi neo liberalisme.
Anti teroris
Pembangkit kebencian
Antar agama
Kasus peledakan bom
Menghujat cinta kasih
MiRa - Amsterdam, 19 maret 2011
Mimpi hati berseri
Bersama duka
Air mata menggenang
Mengenang masa perang
Perserikatan bangsa bangsa menetapkan tanggal 21 maret 1966 adalah hari internasional melawan rasisme dan diskriminasi. Penetapan hari internasional tersebut dinyatakan setelah kejadian kerusuhan rasial berdarah menentang pemberlakuan Kartu Identitas bagi orang yang berkulit hitam di kota Sharpeville Afrika Selatan (1960). Ketika itu polisi menembaki ribuan demonstran anti apartheid dan telah membunuh 69 orang.
Kekuasaan politik apartheid bangsa kulit putih di Afrika Selatan sudah dihapuskan, akan tetapi sikap dan tindakan diskriminasi atas perbedaan antar ras masih berjalan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak negara di dunia masih menghadapi masalah ras dan ketidakadilan.
Rasisme atau politik diskriminasi di Indonesia itu diwarisi sejak zaman kolonialisme, hal tersebut dipraktikan di dalam golongan masyarakat pribumi dan non pribumi demi kepentingan politik adu domba penguasa, dijalankan secara sistimatis oleh sistim kekuasaan pemerintahan kolonial di Hindia belanda pada saat itu. Politik adu domba tersebut diterapkan untuk melemahkan persatuan dan kesatuan perjuangan bangsa untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia.
Kemudian jendral Soeharto memakai kembali politik pecah belah dan menguasai alias "verdeel en heers" untuk menghancurkan secara sistimatis gerakan golongan kiri dan nasionalis progresip, yang mana dianggap sebagai lawan politiknya.
Sebagai taktik untuk mengamankan politik stabilitas superior rezim kekuasaan orde baru, maka dengan sengaja rezim militer Soeharto menciptakan bentuk konflik sosial selanjutnya, melalui kasus-kasus SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). Kondisi seperti itu mengingatkan kita pada zaman kekuasaan Fasis Adolf Hitler, dimana doktrin Nazi menganggap bangsa Jerman sebagai ras Aria yang paling superior, sedangkan bangsa Yahudi dan lawan politiknya adalah bangsa paria yang harus dimusnahkan.
Sebagai salah satu contoh kasus SARA yang bisa kita lihat adalah Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dan Kartu Tanda penduduk (KTP) dengan kode ET (Eks Tapol).
SBKRI khusus dibuat untuk warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, sedangkan KTP ET spesial untuk warga negara Indonesia yang dituduh terlibat atau simpatisan GESTOK 1965. Hal ini dianggap sebagai perlakuan diskriminatip dan telah dihapuskan pada periode Reformasi, namun dalam praktiknya masih diterapkan di berbagai daerah.
Sampai saat ini kasus rasialisme berkembang dalam proses yang lebih berbahaya dengan mengatasnamakan politik anti terorisme, dipakai sebagai rekayasa dan disponsori oleh kekuatan aparat negara, lalu dibantu juga oleh sekelompok preman yang direkrut dalam mekanisme sistim militerisme yang didukung oleh kepentingan politik ekonomi neo liberalisme.
Anti teroris
Pembangkit kebencian
Antar agama
Kasus peledakan bom
Menghujat cinta kasih
MiRa - Amsterdam, 19 maret 2011
Friday, March 18, 2011
[Haibun] Pulang ke Rumah

Waktu ke waktu
Untuk pulang ke rumah
Terasa lelah
Perjalanan pulang menyusuri pinggir kali, kali ini cukup lumayan menyenangkan. Serasa tanpa halangan hembusan angin dingin, walau matahari seperti masih malu-malu memancarkan sinarnya. Saat cuaca cerah kini tak mengurangi hati riangku untuk terus meluncurkan roda sepeda, bersama nikmatnya keindahan warna warni kuncup bunga tulip bermekaran.
Menjelang sore
Langit biru memudar
Ke kicau burung
MiRa - Amsterdam, 18 Maret 2011
Friday, March 11, 2011
[Haibun] Warna Warni Cahaya

Panahan kilat
Tepat arah sasaran
Ke mata hati
Bahaya anak panah
Beracun dan tercemar
Daya kuasa rakyat
mengalir darah derita
Bunga api dan mukjizat
menguji kegagalan prestasi
ada tinggi hati ingin bersinar
memperebutkan ruang hampa
Anjang permainan manipulasi
jiwa kemanusiaan diperkosa
Mimpi profesi dan kedudukan
mengusung hirarkhi adidaya
Keadilan kehilangan memori
kejinya membunuh karakter
Pada aturan kebohongan
perjuangan tak merata
waktu takut berdetak
Keinginan terakhir
dalam keyakinan
tak didambakan
cinta mencintai
Bias mentari
Misteri kekayaan
Hati nurani
Warna warni cahaya
Harapan pembebasan
MiRa - Amsterdam, 11 Maret 2011
Sunday, March 6, 2011
Tanka Semusim
Friday, March 4, 2011
[Haibun] Dilema
Di pentas drama
Melihat dan dilihat
Daya kuasa
Peran yang ditampilkan
Mempertontonkan ego
Refleksi diri
Saling berkepentingan
Terbuai mimpi
Kisah nyata proses perjalanan kehidupan umat manusia seakan ditentukan oleh uang, jiwa dan raga di perjual-belikan, suka dan dukapun menjadi ruangan hiasan etalase di pasar bebas demi mengeruk keuntungan yang menggiurkan,lalu katanya promosi "Demokrasi" untuk keadilan, ingin hidup damai, sejahtera dan makmur.
Resah gelisah
dirayu keyakinan
menghindari siang hari
seperti berpisah pada masa depan
Dan keinginan
lebih lambat dari yang lalu
untuk mencari jati diri
Di rawa-rawa
kekal abadi
dilema
Kemandirian
gairah tersembunyi
di lapisan kulit
takut berkeringat
Mengalir arus
Suatu perubahan
Penentu nasib
Dimensi pemikiran
Apa masih relevan?
MiRa - Amsterdam, 4 Maret 2011
Sunday, February 27, 2011
[Tanka] Pemuja Matahari
Bangun dan panik
Di alam mimpi buruk
Terlalu nyata
Ingin tetap melawan
Yang tidak seharusnya
Jiwa tenggelam
Pemuja matahari
Membisik bulan
Kedipan kunang-kunang
Menari sukacita
Berpetualang
Tergiur nafsu binatang
Nyusruk ke jurang
Lereng curam dan terjal
Batu menangis sedih
Di kaki gunung
Mengalir limbah air
Pohon membusuk
Sawah ladang beracun
Petani miskin mati
MiRa - Amsterdam, 27 Februari 2011
Di alam mimpi buruk
Terlalu nyata
Ingin tetap melawan
Yang tidak seharusnya
Jiwa tenggelam
Pemuja matahari
Membisik bulan
Kedipan kunang-kunang
Menari sukacita
Berpetualang
Tergiur nafsu binatang
Nyusruk ke jurang
Lereng curam dan terjal
Batu menangis sedih
Di kaki gunung
Mengalir limbah air
Pohon membusuk
Sawah ladang beracun
Petani miskin mati
MiRa - Amsterdam, 27 Februari 2011
Saturday, February 26, 2011
[Haibun] L I B E R A T E
[Haibun] L I B E R A T E
: Membebaskan
Budak dan bebas
Adalah mentalitas
Mentas belenggu
Ketika perbudakan
Penentu kebebasan
Kebebasan dari rasa takut
menuntut membebaskan Ibu pertiwi
Saat kesatuan telah dicapai
pembalap dan bayangan kuda
tidak bisa dibedakan
Entah bagaimana mereka
menyeberang halaman
memperebutkan jatah
tambang minyak
L I B Y A
B A H R A I N
Y E M E N
I R A N
A L J A Z A I R
T U N I S I A
E G Y P T E
Bicara tentang petualangan kebenaran
kebebasan tak lepas dari takdir anarki
mengikatkan diri dalam keheningan malam
tubuh yang kaku dan dingin seperti kematian
Senjata dan tank
Kebebasan berbaris
Perang sodara
Bebas berpikir
Bukan berpikir bebas
Untuk dirinya
MiRa - Amsterdam, 26 Februari 2011
: Membebaskan
Budak dan bebas
Adalah mentalitas
Mentas belenggu
Ketika perbudakan
Penentu kebebasan
Kebebasan dari rasa takut
menuntut membebaskan Ibu pertiwi
Saat kesatuan telah dicapai
pembalap dan bayangan kuda
tidak bisa dibedakan
Entah bagaimana mereka
menyeberang halaman
memperebutkan jatah
tambang minyak
L I B Y A
B A H R A I N
Y E M E N
I R A N
A L J A Z A I R
T U N I S I A
E G Y P T E
Bicara tentang petualangan kebenaran
kebebasan tak lepas dari takdir anarki
mengikatkan diri dalam keheningan malam
tubuh yang kaku dan dingin seperti kematian
Senjata dan tank
Kebebasan berbaris
Perang sodara
Bebas berpikir
Bukan berpikir bebas
Untuk dirinya
MiRa - Amsterdam, 26 Februari 2011
Thursday, February 24, 2011
[Tanka] Konflik Logika
*
Bulan dan bintang
Tak nampak batas jarak
Di ujung jalan
Cerahnya matahari
Angin dingin membeku
**
Krisis sosial
Di masa pancaroba
Konflik logika
Nyanyian lagu rakyat
Dengan suara parau
***
Di hutan rimba
Tak mampu ditaklukan
Buas dan liar
Bidikan anak panah
Mengarah manusia
MiRa - Amsterdam, 24 Februari 2011
Bulan dan bintang
Tak nampak batas jarak
Di ujung jalan
Cerahnya matahari
Angin dingin membeku
**
Krisis sosial
Di masa pancaroba
Konflik logika
Nyanyian lagu rakyat
Dengan suara parau
***
Di hutan rimba
Tak mampu ditaklukan
Buas dan liar
Bidikan anak panah
Mengarah manusia
MiRa - Amsterdam, 24 Februari 2011
Monday, February 21, 2011
D I S I L U S I
Yang ingin benar-benar diketahui
mengapa kekerasan begitu kekal abadi
dengan mengorbankan jutaan nyawa
lalu, apa yang salah dengan kemanusiaan?
Mengapa orang di bumi
berbeda iman dan warna
tidak menunjukkan
nilai kebersamaan
berpikir baik dan buruk
nyatanya tindakan manusia
lagi-lagi melakukan kekerasan
karena ingin mendominasi
dan menindas antar sesama
Dari semua kontradiksi
selama bertahun-tahun
dan disillusi yang terwarisi
memiliki banyak kebohongan
hasilnya membawa bencana
kesengsaraanpun semakin terpuruk
Sekarang, semua keinginan
telah diraih dengan kemudahan
sejauh mata menatap dan merasa
disepanjang musim semi yang lalu
kehidupan kembali ke awal titik nol
lembah kemiskinan semakin curam
menerjang jenjang anjang konflik
Dengan bibirnya di balik pikiran
menghasilkan perubahan semu
kekayaan alam dan daya manusia
dijadikan order bisnis penguasa
Berpikir setelah kehidupan ini
maunya berlabuh ke surga
hidup di dunia hanya mimpi buruk
tanpa toleransi dan keadilan
Kepergian, tidak pernah kembali
MiRa - Amsterdam, 20 Februari 2011
mengapa kekerasan begitu kekal abadi
dengan mengorbankan jutaan nyawa
lalu, apa yang salah dengan kemanusiaan?
Mengapa orang di bumi
berbeda iman dan warna
tidak menunjukkan
nilai kebersamaan
berpikir baik dan buruk
nyatanya tindakan manusia
lagi-lagi melakukan kekerasan
karena ingin mendominasi
dan menindas antar sesama
Dari semua kontradiksi
selama bertahun-tahun
dan disillusi yang terwarisi
memiliki banyak kebohongan
hasilnya membawa bencana
kesengsaraanpun semakin terpuruk
Sekarang, semua keinginan
telah diraih dengan kemudahan
sejauh mata menatap dan merasa
disepanjang musim semi yang lalu
kehidupan kembali ke awal titik nol
lembah kemiskinan semakin curam
menerjang jenjang anjang konflik
Dengan bibirnya di balik pikiran
menghasilkan perubahan semu
kekayaan alam dan daya manusia
dijadikan order bisnis penguasa
Berpikir setelah kehidupan ini
maunya berlabuh ke surga
hidup di dunia hanya mimpi buruk
tanpa toleransi dan keadilan
Kepergian, tidak pernah kembali
MiRa - Amsterdam, 20 Februari 2011
Friday, February 18, 2011
[Tanka] Musim Semi Di Timur Tengah
[Tanka] Musim Semi
Langit kelabu
Menyapa kuncup bunga
Tanah tersenyum
Angin dingin bersedih
Kabut merintik air
MiRa - Amsterdam, 18 Februari 2011
***
[Tanka] Musim Semi Di Timur Tengah
Percikan api
Menyulut lahan krisis
Dendam terbakar
Menuntut keadilan
Tak mudah dipatahkan
MiRa - Amsterdam, 18 Februari 2011
Langit kelabu
Menyapa kuncup bunga
Tanah tersenyum
Angin dingin bersedih
Kabut merintik air
MiRa - Amsterdam, 18 Februari 2011
***
[Tanka] Musim Semi Di Timur Tengah
Percikan api
Menyulut lahan krisis
Dendam terbakar
Menuntut keadilan
Tak mudah dipatahkan
MiRa - Amsterdam, 18 Februari 2011
Thursday, February 17, 2011
Membosankan
Hidup ini begitu membosankan
pertama pergi tidur dan mendengkur
Bangun, mandi, berpakaian dan berdandan
berangkat kerja, hanya untuk menyambung hidup
Waktu setengah jam untuk makan siang
Tak ada waktu buat mengunyah tenang
Kembali ke pekerjaan rutin
Menghadapi bos yang brengsek
Ketika waktu kerja hampir selesai
perjalanan pulang tak bisa cepat sampai
Agh menuju ke rumah tua, kumuh dan reot
di rumah, mempersiapkan makan malam
Setelah itu, duduk nonton TV idiot
menatap kotak layar tak ada yang dilihat
Lalu apa? terasa capek dan ngantuk terus pergi tidur
hidup bagaikan tombol tekan personal komputer
Putaran roda berotasi di pijakan setempat
Bangun dan tidur tak ada yang melihat
MiRa - Amsterdam, 17 Februari 2011
pertama pergi tidur dan mendengkur
Bangun, mandi, berpakaian dan berdandan
berangkat kerja, hanya untuk menyambung hidup
Waktu setengah jam untuk makan siang
Tak ada waktu buat mengunyah tenang
Kembali ke pekerjaan rutin
Menghadapi bos yang brengsek
Ketika waktu kerja hampir selesai
perjalanan pulang tak bisa cepat sampai
Agh menuju ke rumah tua, kumuh dan reot
di rumah, mempersiapkan makan malam
Setelah itu, duduk nonton TV idiot
menatap kotak layar tak ada yang dilihat
Lalu apa? terasa capek dan ngantuk terus pergi tidur
hidup bagaikan tombol tekan personal komputer
Putaran roda berotasi di pijakan setempat
Bangun dan tidur tak ada yang melihat
MiRa - Amsterdam, 17 Februari 2011
Sunday, February 13, 2011
[Haibun] EGOSENTRISME
Bahasa ibu
Melahirkan korupsi
Tebar pesona
Percakapan rutin
di balik kaca jendela
tanpa henti bercerita
Kata-katanya tersusun dalam huruf yang merinci citra perubahan
namun terucap bahasa non-verbal bermakna perilaku kekerasan
mendaur ulang saling curiga, saling serang dan saling bunuh
dominasi ekspresi kehidupan biasa menjadi terbiasa
suatu kebiasaan tantangan budaya karakter bangsa
Di masa lalu
Bermimpi dalam diri
Egosentrisme
Tak disesali
Kebiadaban umat
Menggema ganas
Ketika kebahagiaan hadir
untuk mengatakan tidak
membias bayangan diam
Air mata mengalir resah
bagaikan embun pagi
Di gurun pasir
Waktu silih berganti
tiada sisa kenangan
melintasi eksistensi
cahaya warna-warni
Di musim semi
Segar daya ingatan
Berbunga layu
Mira - Amsterdam, 13 Februari 2011
Sunday, February 6, 2011
Roda Kehidupan
Puisi tentang penyalahgunaan
wanita duduk di bangku sofa
Ia berusia 45 tahun
wajahnya tersenyum
namun pancaran matanya
menatap dingin dan tajam
tubuhnya terbalut bekas luka
kepalanya serasa sangat sakit,
tak ada yang mempercayainya,
Wanita itu
di masa kecilnya
telah kehilangan apapun
Ini bukan pesan di surat kabar
tapi kenyataan yang dialaminya
tak seorangpun mampu mengerti
ketika ia berusaha terus bertahan
dalam kondisi kemarahan dan duka
Dikala remaja kenangan menghimpit
yang menjadi ingatan masa silamnya
Kini kesedihan masih tetap mengusik
apabila kepedihannya hadir kembali
dalam uraian catatan buku harian
Roda kehidupan selama tahunan
waktu tak mengenal istirahat
perjuangan untuk keadilan!
MiRa - Amsterdam, 5 Februari 2011
wanita duduk di bangku sofa
Ia berusia 45 tahun
wajahnya tersenyum
namun pancaran matanya
menatap dingin dan tajam
tubuhnya terbalut bekas luka
kepalanya serasa sangat sakit,
tak ada yang mempercayainya,
Wanita itu
di masa kecilnya
telah kehilangan apapun
Ini bukan pesan di surat kabar
tapi kenyataan yang dialaminya
tak seorangpun mampu mengerti
ketika ia berusaha terus bertahan
dalam kondisi kemarahan dan duka
Dikala remaja kenangan menghimpit
yang menjadi ingatan masa silamnya
Kini kesedihan masih tetap mengusik
apabila kepedihannya hadir kembali
dalam uraian catatan buku harian
Roda kehidupan selama tahunan
waktu tak mengenal istirahat
perjuangan untuk keadilan!
MiRa - Amsterdam, 5 Februari 2011
Sunday, January 23, 2011
[Haibun] Bercermin Hati
"Kami Bersidang, Rakyat tetap tenang. AWAS Tipu Muslihat"
Putar haluan
Bertemu untuk pisah
Di simpang jalan
Beda pendapat
Evaluasi diri
Teguh, berprinsip
Berpikir yang diinginkan
adalah penentu tujuan baru
Dengan melupakan masa lalu
maka pengalaman hidupnya
akan dirasakannya kembali
tanpa jiwa ketegaran diri
Lalu, untuk apa hidup ini?
Nyatanya tujuan ingin dicapai
berbekal luka hati dan duka
Rasa nyeri pedih dilaluinya
menapak dendam bersilangan
dalam jejak mendaur ulang
yang bermakna bumerang
Bersikap jujur
Kemandirian diri
Hati bercermin
Riwayat kehidupan
Mengusung masa depan
Keinginannya
Berani dan gigih
Pembebas diri
MiRa - Amsterdam, 23 Januari 2011
Putar haluan
Bertemu untuk pisah
Di simpang jalan
Beda pendapat
Evaluasi diri
Teguh, berprinsip
Berpikir yang diinginkan
adalah penentu tujuan baru
Dengan melupakan masa lalu
maka pengalaman hidupnya
akan dirasakannya kembali
tanpa jiwa ketegaran diri
Lalu, untuk apa hidup ini?
Nyatanya tujuan ingin dicapai
berbekal luka hati dan duka
Rasa nyeri pedih dilaluinya
menapak dendam bersilangan
dalam jejak mendaur ulang
yang bermakna bumerang
Bersikap jujur
Kemandirian diri
Hati bercermin
Riwayat kehidupan
Mengusung masa depan
Keinginannya
Berani dan gigih
Pembebas diri
MiRa - Amsterdam, 23 Januari 2011
Friday, January 21, 2011
[Haibun] Untuk Sahabatku
Camar dan Cahaya Matahari: "Menanti Musim Semi…."Tiba-tiba telepon genggam bergetar, mendadak sontak dan kaget aku terbangun dari tidur yang lelap. Di luar masih gelap gulita tapi sinar warna hijau berkelip tak henti-hentinya, kemudian menyusul suara berdering seperti hysteri menjerit di waktu subuh. Dalam keadaan Kelabakan aku menekan tombol knop ponsel itu,
"Sudah sampai mana?" sapanya dengan lembut, terdengar akrab bernada suara seperti dari jarak dekat.
"Lho siapa ini?" jawabku naif firasat tanpa melihat siapa yang menelpon.
"'Ini sama aku, acaranya sudah hampir mulai, aku tunggu ya?"
Hubungan telepon terputus. Segera aku bangkit dari tempat tidur, bergegas keluar menuju ruang dapur dan cepat meneguk air putih hangat untuk membangkitkan alam sadarku sampai 100%.
Dalam ingatan
Pelangi warna warni
Bermacam ragam
Sembari aku berjalan menghampiri ruang meja komputer, kucoba mengingat kembali pada janjiku hari itu. Agh... apakah mungkin aku bikin janji di waktu pagi hari. Lagi pula adalah waktu akhir pekanku.
Lengang di jalan
Camar melayang layang
Menyambut sepi
Api di tungku
Menghangatkan ingatan
Salju mencair
Telepon genggam bergetar kembali dan langsung kulihat data info nomornya, ternyata berkode +62, serta merta kupencet tombolnya, lagi-lagi nada suara yang sama tapi kali ini seperti tak sabar menanti kedatanganku,
"Hallo..posisimu sudah sampai di mana sekarang?"
"Ya.hallo, ini aku bicara dengan siapa ya?"
"Lho, ini sama aku, apa kamu lupa hari ini ada reuni tiga dekade?"
Tiga dekade
Melanglang buana
Semi kembali
Zaman represi
Suasana kelabu
Buta dan tuli
Persahabatan
Kenangan masa silam
Serasa sama
MiRa - Amsterdam, 21 Januari 2011
Friday, January 14, 2011
[Haiku] Stigmatisasi
Kawanan camar
Rebutan sisa roti
Di pinggir kali
Banjir kiriman
Melintas air beku
Ujian hidup
Menafsir tafsir
Pembunuhan karakter
Hati nurani
Manipulasi
Tragedi manusia
Fakta sosial
Mengusut kasus
Riwayat anak bangsa
Sejarah bingung
Stigmatisasi
Mitosnya Orde Baru
Digugat hukum
MiRa - Amsterdam, 13 Januari 2011
Rebutan sisa roti
Di pinggir kali
Banjir kiriman
Melintas air beku
Ujian hidup
Menafsir tafsir
Pembunuhan karakter
Hati nurani
Manipulasi
Tragedi manusia
Fakta sosial
Mengusut kasus
Riwayat anak bangsa
Sejarah bingung
Stigmatisasi
Mitosnya Orde Baru
Digugat hukum
MiRa - Amsterdam, 13 Januari 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)
