Sunday, January 29, 2012
[Haiku] Lintah Darat
Bisikan angin
Pada bayangan sinar
Ke kehidupan
Sejarah bangsa
Hukum sebab akibat
Berkontradiksi
Pemilik modal
Mesin dan manusia
Rentenir riba
Alat produksi
Wahana jati diri
Pabrik berasap
Peluh keringat
Tenaga kerja pabrik
Bersimbah darah
Tuntutan buruh
Sandang pangan dan papan
Jaminan hidup
MiRa - Amsterdam, 29 Januari 2012
Sunday, January 22, 2012
[Haibun] Separuh Hampa
Separuh hampa
Menantang takdir hidup
Jiwa membara
Perjalanan panjang
jangka waktu terbatas
seakan hidup penuh arti
Tiada kasih tanpa cinta
tatapan mata memandang
menapak masa depan
Timur ke barat
Perjalanan bermakna
Jati dirinya
Alkisah hidup silih berganti
mengarungi lintasan arus badai
bagai pasang-surutnya air lautan
Pilihan keyakinan diperjuangkan
rintangan membakar ingatan
dalam semangat jiwa bara api
Kepulan asap
Gelombang angin dingin
Merasuk sukma
Embun pagi berkilau
Secerah matahari
MiRa - Elisabeth Samsonstraat, 22 Januari 2012
Menantang takdir hidup
Jiwa membara
Perjalanan panjang
jangka waktu terbatas
seakan hidup penuh arti
Tiada kasih tanpa cinta
tatapan mata memandang
menapak masa depan
Timur ke barat
Perjalanan bermakna
Jati dirinya
Alkisah hidup silih berganti
mengarungi lintasan arus badai
bagai pasang-surutnya air lautan
Pilihan keyakinan diperjuangkan
rintangan membakar ingatan
dalam semangat jiwa bara api
Kepulan asap
Gelombang angin dingin
Merasuk sukma
Embun pagi berkilau
Secerah matahari
MiRa - Elisabeth Samsonstraat, 22 Januari 2012
Sunday, January 15, 2012
[Haibun] Hutang Piutang
Hutang-piutang
Yunani nyaris bangkrut
Rakyat berontak
Menyelamatkan euro
Negara dalam resesi
Apa daya, daya beli warga Eropa anjlok
Naiknya harga sandang, pangan dan papan
kebutuhan hidup minimal rakyatnya terpuruk
Kisah kasak-kusuk penanganan krisis finansial
di tengah keramaian pasar modal, seakan mampu
berkiprah keluar dari kemelut resesi ekonomi negara
Ada makna tersirat dan tersurat dari siasat konspirasi
lalu, siapa peduli efek domino krisis ekonomi menggelobal?
Menghemat budget
Pengangguran melonjak
Perang moneter
Mendaur ulang
Jeratan kemiskinan
Lingkaran setan
MiRa - Amsterdam, 15 Januari 2012
Yunani nyaris bangkrut
Rakyat berontak
Menyelamatkan euro
Negara dalam resesi
Apa daya, daya beli warga Eropa anjlok
Naiknya harga sandang, pangan dan papan
kebutuhan hidup minimal rakyatnya terpuruk
Kisah kasak-kusuk penanganan krisis finansial
di tengah keramaian pasar modal, seakan mampu
berkiprah keluar dari kemelut resesi ekonomi negara
Ada makna tersirat dan tersurat dari siasat konspirasi
lalu, siapa peduli efek domino krisis ekonomi menggelobal?
Menghemat budget
Pengangguran melonjak
Perang moneter
Mendaur ulang
Jeratan kemiskinan
Lingkaran setan
MiRa - Amsterdam, 15 Januari 2012
Saturday, January 7, 2012
[Haibun] Malam Kudus Berdarah

Dikala keheningan mewarnai hari peringatan kelahiran Kristus, seketika ingatan bersama mimpi purnama memudar. Sepi lalu-lalang di jalan, hanya kadang terdengar suara trem menderu kencang memecah kesunyian malam, hembusan angin dingin berdesir, menerpa tirai batasan dinding tua, dan berbisik kepada bangsa-bangsa di kaki langit,
Eksploitasi
Area tambang emas
Lahan tercemar
Tragedi Bima
Air limbah kubangan
Berlumur darah
Saat lembaran hitam terukir dalam kumpulan catatan harian, guratan pena bertinta emas, sirna memaknai jejak kehidupan sang juru selamat umat manusia. Waktu menuntun malam, tak urung melintasi kenangan kelam menyita heningnya malam kudus.
Menguak tabir
Di Pelabuhan Sape
Luka bernanah
Moncong senjata
Sang penguasa zalim
Rakyat berontak
Bukan takdir menjejak napak tilas pesisir pantai emas, berbusung lapar
Walau hati dan jiwa menyelimuti kekaguman gemerlapnya citra warna Natal
cengkraman tak luput dari jubah sang pemodal bergaun egosentrisme
merajut mata rantai, kawat berduri membentang krisis sistem keuangan
sang adikuasa pun takabur mengangkangi keadilan dan hak kemanusiaan
Makna merdeka
Bebas dari tirani
Diperjuangkan
MiRa - Amsterdam, 7 Januari 2012
Sunday, January 1, 2012
[Haiku] Pergantian tahun
Renungan malam
Detak waktu terakhir
Menyambut hening
Gema suara
Percikan warna warni
Menghias kelam
Selamat tinggal
Adakah hari depan
Bebas merdeka?
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 00.01 2012
Detak waktu terakhir
Menyambut hening
Gema suara
Percikan warna warni
Menghias kelam
Selamat tinggal
Adakah hari depan
Bebas merdeka?
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 00.01 2012
Sunday, December 18, 2011
[Tanka] Ibunda
Saturday, December 17, 2011
[Haiku] Keniscayaan
Monday, December 5, 2011
[Haiku] Fajar Menyingsing
Saturday, December 3, 2011
[HAIKU] Menanti Fajar
Pagi nan kelam
Cahaya matahari
Tak kunjung tiba
Menapak jalan
Transparasi bayangan
Berkabut tebal
Jiwa meronta
Perjalanan usia
Sebatas musim
Raga terkoyak
Memahat kehidupan
Di perantauan
MiRa - Amsterdam, 3 Desember 2011
Cahaya matahari
Tak kunjung tiba
Menapak jalan
Transparasi bayangan
Berkabut tebal
Jiwa meronta
Perjalanan usia
Sebatas musim
Raga terkoyak
Memahat kehidupan
Di perantauan
MiRa - Amsterdam, 3 Desember 2011
Friday, November 11, 2011
[Haibun] Bulan Purnama

Di musim gugur
Saat cuaca cerah
Berjalan kaki
Menuntun sepeda sepanjang jalan boulevard Apollolaan,
kutelusuri lintasan barisan pohon-pohon bercabang,
bayang bayang dalam pancaran cahaya rembulan
menembus sinar kemilau di antara dahan dan ranting
jejak langkah berirama suara pijakan lapisan daun daun kering
gemerisik menembus batas waktu kebisuan dalam hening
Bulan punama
Memancar sinar terang
Di ujung jalan
Suara burung camar
Memecah keheningan
MiRa - Amsterdam, 11 - 11 - 11
Saturday, November 5, 2011
[Haibun] Perjalanan Usia
Tatapan mata
Daun daun di pohon
Aneka warna
Sejauh mata memandang
warna warni dedaunan terbang melayang layang
seperti menari riang di atas air telaga
Ranting dan dahan
Menetes air mata
Diterpa badai
Menyusuri jalan taman berkarpet daun kering
mengikuti hitungan waktu perjalanan
Dalam kumpulan catatan riwayat hidup insani
berkisar pada pahit getir dan manisnya kehidupan
Penjelajahan
Musim silih berganti
Suka dan duka
Perjalanan usia
Menunda kematian
MiRa - Amsterdam, 5 Nopember 2011
Daun daun di pohon
Aneka warna
Sejauh mata memandang
warna warni dedaunan terbang melayang layang
seperti menari riang di atas air telaga
Ranting dan dahan
Menetes air mata
Diterpa badai
Menyusuri jalan taman berkarpet daun kering
mengikuti hitungan waktu perjalanan
Dalam kumpulan catatan riwayat hidup insani
berkisar pada pahit getir dan manisnya kehidupan
Penjelajahan
Musim silih berganti
Suka dan duka
Perjalanan usia
Menunda kematian
MiRa - Amsterdam, 5 Nopember 2011
Wednesday, November 2, 2011
Haiku Musim Gugur

Terbang melayang
Di atas awan putih
Pulau samudra
Hal menyenangkan
Makna persahabatan
Tak terpisahkan
Bulan purnama
Menjauh tak berbatas
Serasa cemas
Siang dan malam
Memperingatkan waktu
Dalam gerakan
Kehadirannya
Mengusik keresahan
Di keheningan
Pohon di taman
Daun yang berguguran
Terhempas angin
MiRa - Amsterdam, 2 November 2011
Friday, September 9, 2011
[Tanka] Bisnis Korupsi
Bisnis korupsi
Seperti bunga bangkai
Taman labirin
Hak imunitas hukum
Proyek partai demokrat
Efek domino
Diaspora satire
Filem sinetron
Mengusut kasus suap
Parodi kebohongan
MiRa - Amsterdam, 9 September 2011
* inspirasi dari:
http://www.tribunnews.com/2011/09/09/nazaruddin-masih-sebut-keterlibatan-petinggi-demokrat
http://www.tribunnews.com/2011/09/09/kubu-nazaruddin-uang-sudah-diberikan-pada-chandra
Seperti bunga bangkai
Taman labirin
Hak imunitas hukum
Proyek partai demokrat
Efek domino
Diaspora satire
Filem sinetron
Mengusut kasus suap
Parodi kebohongan
MiRa - Amsterdam, 9 September 2011
* inspirasi dari:
http://www.tribunnews.com/2011/09/09/nazaruddin-masih-sebut-keterlibatan-petinggi-demokrat
http://www.tribunnews.com/2011/09/09/kubu-nazaruddin-uang-sudah-diberikan-pada-chandra
Sunday, September 4, 2011
[Haibun] Alam Beracun
Kapitalisme
Berawal krisis uang
Ke krisis hutang
Di ufuk timur kemanusiaan dikelilingi kesengsaraan
roda kehidupan yang mengkonsumsi tawaran pasar bebas
diabaikannya dengan mengobral alam kekayaan rakyat
hanya untuk menguntungkan kebesaran penguasa penindas
Sudah berapa lama rakyat miskin menonton kerakusan mereka?
Bunga tersenyum
Saat fajar menyingsing
Alam beracun
MiRa - Amsterdam, 2 September 2011
Berawal krisis uang
Ke krisis hutang
Di ufuk timur kemanusiaan dikelilingi kesengsaraan
roda kehidupan yang mengkonsumsi tawaran pasar bebas
diabaikannya dengan mengobral alam kekayaan rakyat
hanya untuk menguntungkan kebesaran penguasa penindas
Sudah berapa lama rakyat miskin menonton kerakusan mereka?
Bunga tersenyum
Saat fajar menyingsing
Alam beracun
MiRa - Amsterdam, 2 September 2011
Saturday, August 20, 2011
Haiku untuk Ayah
Jembatan gantung
Mengayun sangat lambat
Usia uzur
Menatap kaca
Tercermin wajah ayah
Surya bersinar
Remaja nganggur
Protes menuntut kerja
Jaminan hidup
Siang terdiam
Gagak melengking parau
Memanggil teman
Cinta dan benci
Aku membunuh lalat
Dimakan semut
MiRa - Amsterdam, 20 Agustus 2011
Mengayun sangat lambat
Usia uzur
Menatap kaca
Tercermin wajah ayah
Surya bersinar
Remaja nganggur
Protes menuntut kerja
Jaminan hidup
Siang terdiam
Gagak melengking parau
Memanggil teman
Cinta dan benci
Aku membunuh lalat
Dimakan semut
MiRa - Amsterdam, 20 Agustus 2011
Friday, August 19, 2011
[Haiku] Si Mawar Merah
Jeritan tangis
Tetesan air mata
Darah kawula
Saat meronta
Jiwa Ibu pertiwi
Hidup dan mati
Kemerdekaan
Pondasi kesatuan
Dimakan rayap
Riwayat juang
Tiada persatuan
Zaman korupsi
Si mawar merah
Meliar akar dendam
Bertangkai duri
MiRa - Amsterdam, 19 Agustus 2011
Tetesan air mata
Darah kawula
Saat meronta
Jiwa Ibu pertiwi
Hidup dan mati
Kemerdekaan
Pondasi kesatuan
Dimakan rayap
Riwayat juang
Tiada persatuan
Zaman korupsi
Si mawar merah
Meliar akar dendam
Bertangkai duri
MiRa - Amsterdam, 19 Agustus 2011
Saturday, July 30, 2011
[Tanka] Wacana Reformasi
Langit kelabu
Bertirai hujan rintik
Di musim panas
Nyamuk-nyamuk menyengat
Penghisap darah segar
Niat tarekat
Hakikat kehidupan
Surga dunia
Keadilan sosial
Untuk Kemerdekaan
Mereformasi
Penguasa militer
Berjubah sipil
Wacana reformasi
Integrasi korupsi
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 31 Juli 2011
Bertirai hujan rintik
Di musim panas
Nyamuk-nyamuk menyengat
Penghisap darah segar
Niat tarekat
Hakikat kehidupan
Surga dunia
Keadilan sosial
Untuk Kemerdekaan
Mereformasi
Penguasa militer
Berjubah sipil
Wacana reformasi
Integrasi korupsi
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 31 Juli 2011
Tuesday, July 19, 2011
[Tanka] Sumpah Sampah
Saturday, July 16, 2011
[Tanka] OBITUARIS
[Tanka] OBITUARIS
: 19 Desember 1919 - 6 Juli 1986
Gelombang laut
Menggapai pasir putih
Pesisir pantai
Suara air mendesir
Gemericik tak henti
Menyongsong pagi
Musim silih berganti
Di perantauan
Proses dialektika
Menapak kehidupan
Puing kenangan
Jiwa bercermin langit
Selubung awan
Fajar merona merah
Ranah pusara insan
MiRa - Amsterdam, 16 Juli 2011
: 19 Desember 1919 - 6 Juli 1986
Gelombang laut
Menggapai pasir putih
Pesisir pantai
Suara air mendesir
Gemericik tak henti
Menyongsong pagi
Musim silih berganti
Di perantauan
Proses dialektika
Menapak kehidupan
Puing kenangan
Jiwa bercermin langit
Selubung awan
Fajar merona merah
Ranah pusara insan
MiRa - Amsterdam, 16 Juli 2011
Friday, July 15, 2011
[Haiku] Metamorfosa
Hujan dan badai
Pohon-pohonan roboh
Di musim panas
Ulat kepompong
Reformasinya basi
Metamorfosa
Membakar hutan
Terik panas menyengat
Alam menggugat
Prita digugat
Tuntutan keadilan
Direkayasa
Kekuasaan
Formasi penguasa
Politik uang
MiRa - Amsterdam, 15 Juli 2011
------
Info Terkait:
Sumber: http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/07/110708_forumpriita.shtml
Kasasi MA akan mengirim Prita ke penjara
Masih ingat Prita Mulyasari? Dua tahun lalu ia digugat RS Omni International Tangerang karena mencemarkan nama baik akibat emailnya yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit tersebut.
Prita sempat bebas di pengadilan tinggi namun keputusan MA yang mengabulkan kasasi Kejaksaan Agung membuat dia terancam masuk penjara.
Akan tetapi MA membebaskan Prita dari tuntutan perdata sehingga tidak harus membayar ganti rugi Rp20 miliar kepada Omni.
Tanpa bermaksud mencampuri keputusan hukum, apa komentar maupun saran Anda atas kasus ini?
Apakah keputusan MA itu sudah mencerminkan keadilan karena bagaimanapun hukum harus ditegakkan terlepas dari simpati masyarakat umum terhadap Prita?
Mungkin anda menyarankan sudah saatnya Prita mengakhiri kasus ini dan menerima keputusan MA dengan segala konsekuensinya.
Atau sebaiknya Prita sebisa mungkin menempuh jalan hukum dalam bentuk peninjauan kembali?
Mungkin juga anda menyarankan Prita lebih memilih jalan politik saja dengan meminta pengampunan dari presiden?
Bisa jadi anda berpendapat saatnya kembali menggelar solidaritas untuk Prita Mulyasari, sama seperti ketika pengumpulan koin untuk Prita guna menghimpun dana ganti rugi yang harus dibayar Prita.
Kirimkan ke indonesia@bbc.co.uk dan mohon sertakan nomor telepon jika Anda tidak keberatan untuk kami hubungi kembali.
Atau kirimkan lewat SMS ke +44 77 86 20 00 50 dan kami ingatkan operator jaringan telepon anda akan mengenakan tarif untuk setiap pengiriman SMS.
Mohon kiranya menyertakan nama dan asal kota anda ketika mengirimkan pesan lewat email maupun SMS.
Ruang Forum ini juga akan kami tampilkan di Halaman BBC Indonesia di Facebook dan akan disiarkan setiap Kamis Pukul 18.15 WIB.
Ragam pendapat
"Menurut saya, Bu Prita menempuh peninjauan kembali sekaligus mengambil jalan politik. Hal ini tidak terjadi jika jaksa tidak kasasi ke MA. Jaksa harusnya menerima putusan bebas di Pengadilan Tinggi." Satriyo Wibowo, Banjarnegara.
"Hukum yang berkeadilan di Indonesia itu tidak jalan, berpihak pada yang punya kekuasaan. Rakyat kecil siap-siap jadi korban."
Yusqi Mhd
"Saya fikir untuk kasus Prita yang telah menyita perhatian orang banyak, MA tidak lagi memikirkan keadilan tetapi bagaimana kasus ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan pribadi para abdi hukum itu sendiri atau untuk mengalihkan perhatian masyarakat demi kepentingan penguasa yang sedang dihujat habis-habisan. Kasus Prita adalah kasus ecek-ecek yang tidak lazim harus sampai MA. Oleh karenanya jangan bertanya: adilkah peradilan kita akan tetapi masih punya nurani manusiakah para abdi hukum kita? Banyak kasus-kasus besar justru nyaris tak terdengar lagi berkat kerja rapi para abdi hukum kita. Hukum yang berjalan sempurna di Indonesia adalah hukum Archimides, hukum Newton dan Hukum Rimba." Kakan Maskawan, Bogor.
"Indonesia negara hukum. Seharusnya hukum itu mengutamakan keadilan. namun pelaksanaannya lain. Hukum di Indonesia sudah dibeli dengan uang sehingga rasa keadilan dikesampingkan. Seharusnya masalah Prita dihentikan saja dan bebaskan dia. Rumah Sakit Omni tetap jalan dan tidak dirugikan apa-apa." Bonefasius Jehandut, Tangerang.
"Ini barangkali bentuk hukum yang sudah terbeli, yang tidak memahami hati nurani, dan RS Omni memang sanggup. Penganiayaan orang lemah oleh kecongkakan hukum. Doa kami Mbak Prita tabah." Nuryanto, Purwodadi.
"Bikin hopeless saja." Adi, Yogya.
"Sudah tentu aparat penegak hukum melihat, berpendapat, menuntut, membela dan memutuskan berdasarkan bukti fisik yang ada. Namun seringkali bukti fisik yang terlihat bisa direkayasa untuk memberatkan vonis hukuman bagi masyarakat lemah, dan meringankan bagi yang punya kuasa. Fakta hukum yang menjadi keputusan hukum seharusnya mampu memenuhi rasa keadilan yang berketuhanan, bukan keberpihakan pada pemilik kuasa yang lebih memiliki posisi tawar untuk 'membeli keputusan hukum'. Kasus Prita?" Prayascito Sidoyo, Klaten.
"Hati nurani yang tergadaikan." Henyo Era Rani.
"Benar-benar tidak adil. Hukum sudah diperjualbelikan dengan uang dan kayaknya kasus ini ada yang main belakang." Ubi Kalyu.
"Kalau saran saya sudahi saja. Seharusnya tidak perlu sampai PK. Khawatir semakin dilanjut malah semakin merusak citra yang sudah ada. Suara rakyat banyak buat Mbak Prita lho." Alfiyan, Bogor.
"Keadilan harus tetap ditegakkan dengan tidak mengenyampingkan efek sosial yang dapat terjadi. Tetapi negara kita adalah negara hukum tanpa memandang siapa pun dia. Saran saya adalah keputusan MA ditindak lanjuti dengan jalan politis melaluli pengampunan dari presiden karena ada indikasi putusan MA yang politis." Hasdar.
"Seharusnya rumah sakit menyembuhkan orang sakit, bukan malah menyakiti orang yang ingin sembuh." Syamsul, Cilacap.
"Inilah Indonesia, pasien yang membutuhkan informasi mengenai penyakit dan obat yang diberikan kepada dirinya justru akhirnya digugat pencemaran nama baik oleh RS, yang seharusnya memberikan pemahaman kepada pasien."
Toton Suryotono
"Setelah diangkat ke media, saya jamin pasti ada TV swasta yang mengupas tuntas lagi masalah Prita ini (seperti Infotainment) sehingga masyarakat Indonesia dibikin lupa sama kasus yang lebih besar dari seorang Prita, yakni kasus kebobrokan para aparatur negara yang sedang main lempar batu sembunyi tangan, yang justru merupakan musuh rakyat Indonesia." Dena.
"Katanya tiap warga negara bebas untuk menyuarakan semua keluh kesah. Untuk Prita, apa yang menjadi pencemaran nama baik? Ia hanya mengungkapkan semua keluhan kesahnya atas ketidakpuasan pelayanan rumah sakit. Apa email tersebut diterbitkan olehnya. Ia hanya 'curhat' pada seorang sahabat. Salahkah seorang warga negara yang berkeluh-kesah? Hukum di negara ini sangat aneh, orang kecil tidak pernah mendapat keadilan di negara ini. Hukum terkesan bisa dibeli. Bukan hanya Prita, kasus seperti mencuri biji kopi yang telah jatuh pun dihukum berbulan-bulan sedangkan koruptor bisa menikmati terus udara kebebasan dengan berbagai alasan. Sakitlah atau pemeriksaan kesehatanlah, bahkan kasus tertentu malah di peti es kan." Ferry.
"Sebenarnya saya ingin berkomentar banyak tetapi saya takut dituntut seperti Prita. Maka dari itu saya akan hanya memberi usulan: sebaiknya penggelaran dana untuk Bu Prita diadakan kembali." Anisa, Bandar Lampung.
"MA mengabulkan kasasi Kejaksaan Agung terhadap Prita Mulyasari, yang menunjukkan hukum berpihak pada pemilik modal. Menyangkut kasus rakyat kecil, rata-rata kalah di tingkat MA. Jangan sampai pengumuman ini untuk mengalihkan isu dari banyaknya hakim yang tertangkap oleh KPK. Komisi Yudisial sebaiknya mempelajari keputusan MA: apakah ada kejanggalan? Prita Mulyasari, jika Anda merasa benar teruslah berjuang melawan kolaborasi hukum, pemilik modal, kekuasaan." Wahjoe, Nganjuk.
"Mudah-mudahan diberi kesempatan sekali lagi bagi Prita Mulyasari. Jangan seperti Nazarudin kabur ke luar negeri tanpa ada laporan dulu. Kalau Prita hanya diam di Indonesia tetapi Nazarudin malah kabur dengan alasan yang tidak jelas." Sony Rusdiyan, Serang.
"Oleh aparat hukum dibebaskan tapi oleh aparat hukum yang sama dijerat lagi. Sebenarnya aparat hukum ini memakai landasan hukum yang mana? Seharusnya pihak Omni juga jangan keras kepala dan jadikan saja ini sebagai bahan untuk berbenah. Walau dianggap atau merasa tercemar, kalau Omni terus melakukan perbaikan pelayanan, ya apa masalahnya." Adianto, Aceh.
"Keputusan MA tersebut menunjukkan majelis hakim hanya terpaku kepada aspek yuridis tanpa memperhatikan aspek sosial dan moral. Jika saya yang mengalami kasus tersebut, maka saya akan menempuh segala upaya hukum yang tersedia termasuk PK dan grasi demi menegakkan nilai kebenaran dan keadilan." Aristides Mota, Bogor.
"Saya kurang mengerti soal hukum. Tapi hati kecil saya merasakan hal ini tidak adil. Saya tidak tahu kenapa tidak ada keberpihakan kepada Prita sebagai orang kecil. Setuju digelar lagi solidaritas untuk Prita." Martin Iskandar, Jakarta.
"Kasusnya sudah sangat jelas bahwa RS Omni tidak mau mengakui kesalahannya padahal jelas mereka merugikan pasien, namun yang terjadi di sini adalah RS Omni menunjukkan arogansi mereka sebagai sebuah instansi besar yang mengedepankan citra. Menurut saya perlu ditinjau lebih jauh lagi kenapa MA mengabulkan kasasi itu? Atas dasar apa keputusan itu?" Eva, Yogyakarta.
"Kasihan Mbak Prita," Mateus Suseno.
"Inilah Indonesia, pasien yang membutuhkan informasi mengenai penyakit dan obat yang diberikan kepada dirinya justru akhirnya digugat pencemaran nama baik oleh RS, yang seharusnya memberikan pemahaman kepada pasien. Di Indonesia hal ini belum dipahami oleh praktisi hukum termasuk MA."Toton Suryotono.
"Ikut bersimpati yang mendalam buat Bu Prita." Budhi Nightwish.
"Hukum yang berkeadilan di Indonesia itu tidak jalan, berpihak pada yang punya kekuasaan. Rakyat kecil siap-siap jadi korban." Yusqi Mhd.
"Dukung terus Bu Prita." Yayuk Wib.
Pohon-pohonan roboh
Di musim panas
Ulat kepompong
Reformasinya basi
Metamorfosa
Membakar hutan
Terik panas menyengat
Alam menggugat
Prita digugat
Tuntutan keadilan
Direkayasa
Kekuasaan
Formasi penguasa
Politik uang
MiRa - Amsterdam, 15 Juli 2011
------
Info Terkait:
Sumber: http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/07/110708_forumpriita.shtml
Kasasi MA akan mengirim Prita ke penjara
Masih ingat Prita Mulyasari? Dua tahun lalu ia digugat RS Omni International Tangerang karena mencemarkan nama baik akibat emailnya yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit tersebut.
Prita sempat bebas di pengadilan tinggi namun keputusan MA yang mengabulkan kasasi Kejaksaan Agung membuat dia terancam masuk penjara.
Akan tetapi MA membebaskan Prita dari tuntutan perdata sehingga tidak harus membayar ganti rugi Rp20 miliar kepada Omni.
Tanpa bermaksud mencampuri keputusan hukum, apa komentar maupun saran Anda atas kasus ini?
Apakah keputusan MA itu sudah mencerminkan keadilan karena bagaimanapun hukum harus ditegakkan terlepas dari simpati masyarakat umum terhadap Prita?
Mungkin anda menyarankan sudah saatnya Prita mengakhiri kasus ini dan menerima keputusan MA dengan segala konsekuensinya.
Atau sebaiknya Prita sebisa mungkin menempuh jalan hukum dalam bentuk peninjauan kembali?
Mungkin juga anda menyarankan Prita lebih memilih jalan politik saja dengan meminta pengampunan dari presiden?
Bisa jadi anda berpendapat saatnya kembali menggelar solidaritas untuk Prita Mulyasari, sama seperti ketika pengumpulan koin untuk Prita guna menghimpun dana ganti rugi yang harus dibayar Prita.
Kirimkan ke indonesia@bbc.co.uk dan mohon sertakan nomor telepon jika Anda tidak keberatan untuk kami hubungi kembali.
Atau kirimkan lewat SMS ke +44 77 86 20 00 50 dan kami ingatkan operator jaringan telepon anda akan mengenakan tarif untuk setiap pengiriman SMS.
Mohon kiranya menyertakan nama dan asal kota anda ketika mengirimkan pesan lewat email maupun SMS.
Ruang Forum ini juga akan kami tampilkan di Halaman BBC Indonesia di Facebook dan akan disiarkan setiap Kamis Pukul 18.15 WIB.
Ragam pendapat
"Menurut saya, Bu Prita menempuh peninjauan kembali sekaligus mengambil jalan politik. Hal ini tidak terjadi jika jaksa tidak kasasi ke MA. Jaksa harusnya menerima putusan bebas di Pengadilan Tinggi." Satriyo Wibowo, Banjarnegara.
"Hukum yang berkeadilan di Indonesia itu tidak jalan, berpihak pada yang punya kekuasaan. Rakyat kecil siap-siap jadi korban."
Yusqi Mhd
"Saya fikir untuk kasus Prita yang telah menyita perhatian orang banyak, MA tidak lagi memikirkan keadilan tetapi bagaimana kasus ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan pribadi para abdi hukum itu sendiri atau untuk mengalihkan perhatian masyarakat demi kepentingan penguasa yang sedang dihujat habis-habisan. Kasus Prita adalah kasus ecek-ecek yang tidak lazim harus sampai MA. Oleh karenanya jangan bertanya: adilkah peradilan kita akan tetapi masih punya nurani manusiakah para abdi hukum kita? Banyak kasus-kasus besar justru nyaris tak terdengar lagi berkat kerja rapi para abdi hukum kita. Hukum yang berjalan sempurna di Indonesia adalah hukum Archimides, hukum Newton dan Hukum Rimba." Kakan Maskawan, Bogor.
"Indonesia negara hukum. Seharusnya hukum itu mengutamakan keadilan. namun pelaksanaannya lain. Hukum di Indonesia sudah dibeli dengan uang sehingga rasa keadilan dikesampingkan. Seharusnya masalah Prita dihentikan saja dan bebaskan dia. Rumah Sakit Omni tetap jalan dan tidak dirugikan apa-apa." Bonefasius Jehandut, Tangerang.
"Ini barangkali bentuk hukum yang sudah terbeli, yang tidak memahami hati nurani, dan RS Omni memang sanggup. Penganiayaan orang lemah oleh kecongkakan hukum. Doa kami Mbak Prita tabah." Nuryanto, Purwodadi.
"Bikin hopeless saja." Adi, Yogya.
"Sudah tentu aparat penegak hukum melihat, berpendapat, menuntut, membela dan memutuskan berdasarkan bukti fisik yang ada. Namun seringkali bukti fisik yang terlihat bisa direkayasa untuk memberatkan vonis hukuman bagi masyarakat lemah, dan meringankan bagi yang punya kuasa. Fakta hukum yang menjadi keputusan hukum seharusnya mampu memenuhi rasa keadilan yang berketuhanan, bukan keberpihakan pada pemilik kuasa yang lebih memiliki posisi tawar untuk 'membeli keputusan hukum'. Kasus Prita?" Prayascito Sidoyo, Klaten.
"Hati nurani yang tergadaikan." Henyo Era Rani.
"Benar-benar tidak adil. Hukum sudah diperjualbelikan dengan uang dan kayaknya kasus ini ada yang main belakang." Ubi Kalyu.
"Kalau saran saya sudahi saja. Seharusnya tidak perlu sampai PK. Khawatir semakin dilanjut malah semakin merusak citra yang sudah ada. Suara rakyat banyak buat Mbak Prita lho." Alfiyan, Bogor.
"Keadilan harus tetap ditegakkan dengan tidak mengenyampingkan efek sosial yang dapat terjadi. Tetapi negara kita adalah negara hukum tanpa memandang siapa pun dia. Saran saya adalah keputusan MA ditindak lanjuti dengan jalan politis melaluli pengampunan dari presiden karena ada indikasi putusan MA yang politis." Hasdar.
"Seharusnya rumah sakit menyembuhkan orang sakit, bukan malah menyakiti orang yang ingin sembuh." Syamsul, Cilacap.
"Inilah Indonesia, pasien yang membutuhkan informasi mengenai penyakit dan obat yang diberikan kepada dirinya justru akhirnya digugat pencemaran nama baik oleh RS, yang seharusnya memberikan pemahaman kepada pasien."
Toton Suryotono
"Setelah diangkat ke media, saya jamin pasti ada TV swasta yang mengupas tuntas lagi masalah Prita ini (seperti Infotainment) sehingga masyarakat Indonesia dibikin lupa sama kasus yang lebih besar dari seorang Prita, yakni kasus kebobrokan para aparatur negara yang sedang main lempar batu sembunyi tangan, yang justru merupakan musuh rakyat Indonesia." Dena.
"Katanya tiap warga negara bebas untuk menyuarakan semua keluh kesah. Untuk Prita, apa yang menjadi pencemaran nama baik? Ia hanya mengungkapkan semua keluhan kesahnya atas ketidakpuasan pelayanan rumah sakit. Apa email tersebut diterbitkan olehnya. Ia hanya 'curhat' pada seorang sahabat. Salahkah seorang warga negara yang berkeluh-kesah? Hukum di negara ini sangat aneh, orang kecil tidak pernah mendapat keadilan di negara ini. Hukum terkesan bisa dibeli. Bukan hanya Prita, kasus seperti mencuri biji kopi yang telah jatuh pun dihukum berbulan-bulan sedangkan koruptor bisa menikmati terus udara kebebasan dengan berbagai alasan. Sakitlah atau pemeriksaan kesehatanlah, bahkan kasus tertentu malah di peti es kan." Ferry.
"Sebenarnya saya ingin berkomentar banyak tetapi saya takut dituntut seperti Prita. Maka dari itu saya akan hanya memberi usulan: sebaiknya penggelaran dana untuk Bu Prita diadakan kembali." Anisa, Bandar Lampung.
"MA mengabulkan kasasi Kejaksaan Agung terhadap Prita Mulyasari, yang menunjukkan hukum berpihak pada pemilik modal. Menyangkut kasus rakyat kecil, rata-rata kalah di tingkat MA. Jangan sampai pengumuman ini untuk mengalihkan isu dari banyaknya hakim yang tertangkap oleh KPK. Komisi Yudisial sebaiknya mempelajari keputusan MA: apakah ada kejanggalan? Prita Mulyasari, jika Anda merasa benar teruslah berjuang melawan kolaborasi hukum, pemilik modal, kekuasaan." Wahjoe, Nganjuk.
"Mudah-mudahan diberi kesempatan sekali lagi bagi Prita Mulyasari. Jangan seperti Nazarudin kabur ke luar negeri tanpa ada laporan dulu. Kalau Prita hanya diam di Indonesia tetapi Nazarudin malah kabur dengan alasan yang tidak jelas." Sony Rusdiyan, Serang.
"Oleh aparat hukum dibebaskan tapi oleh aparat hukum yang sama dijerat lagi. Sebenarnya aparat hukum ini memakai landasan hukum yang mana? Seharusnya pihak Omni juga jangan keras kepala dan jadikan saja ini sebagai bahan untuk berbenah. Walau dianggap atau merasa tercemar, kalau Omni terus melakukan perbaikan pelayanan, ya apa masalahnya." Adianto, Aceh.
"Keputusan MA tersebut menunjukkan majelis hakim hanya terpaku kepada aspek yuridis tanpa memperhatikan aspek sosial dan moral. Jika saya yang mengalami kasus tersebut, maka saya akan menempuh segala upaya hukum yang tersedia termasuk PK dan grasi demi menegakkan nilai kebenaran dan keadilan." Aristides Mota, Bogor.
"Saya kurang mengerti soal hukum. Tapi hati kecil saya merasakan hal ini tidak adil. Saya tidak tahu kenapa tidak ada keberpihakan kepada Prita sebagai orang kecil. Setuju digelar lagi solidaritas untuk Prita." Martin Iskandar, Jakarta.
"Kasusnya sudah sangat jelas bahwa RS Omni tidak mau mengakui kesalahannya padahal jelas mereka merugikan pasien, namun yang terjadi di sini adalah RS Omni menunjukkan arogansi mereka sebagai sebuah instansi besar yang mengedepankan citra. Menurut saya perlu ditinjau lebih jauh lagi kenapa MA mengabulkan kasasi itu? Atas dasar apa keputusan itu?" Eva, Yogyakarta.
"Kasihan Mbak Prita," Mateus Suseno.
"Inilah Indonesia, pasien yang membutuhkan informasi mengenai penyakit dan obat yang diberikan kepada dirinya justru akhirnya digugat pencemaran nama baik oleh RS, yang seharusnya memberikan pemahaman kepada pasien. Di Indonesia hal ini belum dipahami oleh praktisi hukum termasuk MA."Toton Suryotono.
"Ikut bersimpati yang mendalam buat Bu Prita." Budhi Nightwish.
"Hukum yang berkeadilan di Indonesia itu tidak jalan, berpihak pada yang punya kekuasaan. Rakyat kecil siap-siap jadi korban." Yusqi Mhd.
"Dukung terus Bu Prita." Yayuk Wib.
Subscribe to:
Posts (Atom)




