Akhir Pekan dibulan puasa
Akhir pekan terasa panas
Sampai kapan dahaga bertahan
Harapan baru senilai emas
Rasa lapar tak bisa ditahan
Hasrat menggapai langit biru
Yang berujung tak semampai
Bayangan diri memburu kalbu
Menjulang tinggi menuju ilusi
Amsterdam,18 Juni 2017
Monday, June 19, 2017
Wednesday, May 10, 2017
#Justice4Ahok
Cahaya lilin
Mengusik rasa duka
Sinar rembulan
Merajut Cinta Damai
Semangat Persatuan
MiRa - Amsterdam, 10 Mei 2017
Wednesday, February 17, 2016
POLITIK AJI MUMPUNG
musim bersemi
mengusik jati diri
Badai korupsi
politik aji mumpung
urusan anti korupsi diplintir
ribet menghukum koruptor
resiko ilmu babi ngepet
gaun berkristal es
nyeri membalut luka
dalam khayalan ironis
si miskin meronta
MiRa - Amsterdam, 17 februari 2016
mengusik jati diri
Badai korupsi
politik aji mumpung
urusan anti korupsi diplintir
ribet menghukum koruptor
resiko ilmu babi ngepet
gaun berkristal es
nyeri membalut luka
dalam khayalan ironis
si miskin meronta
MiRa - Amsterdam, 17 februari 2016
Thursday, October 8, 2015
[Tanka] S E N Y A P
senyap membisu
sejarah peradaban
bersimbah darah
harapan kehidupan
suara kebenaran
MiRa - Amsterdam, 07 Oktober 2015
* S E N Y A P
: A film THE LOOK OF SILENCE
by Joshua Oppenheimer
sejarah peradaban
bersimbah darah
harapan kehidupan
suara kebenaran
MiRa - Amsterdam, 07 Oktober 2015
* S E N Y A P
: A film THE LOOK OF SILENCE
by Joshua Oppenheimer
Wednesday, October 7, 2015
[Tanka] Di awal musim gugur
mendung gerimis
di awal musim gugur
daun merunduk
tantangan kehidupan
gemuruh angin badai
MiRa - Amsterdam, 07/10/2015
di awal musim gugur
daun merunduk
tantangan kehidupan
gemuruh angin badai
MiRa - Amsterdam, 07/10/2015
[Haiku] Menanti Takdir
cahaya lilin
mengusik kerinduan
di masa lalu
penghujung waktu
di keheningan malam
mengusik kerinduan
di masa lalu
penghujung waktu
di keheningan malam
menanti takdir
harum semerbak
berganti musim gugur
daun menguning
MiRa - Amsterdam, 7 Oktober 2015
harum semerbak
berganti musim gugur
daun menguning
MiRa - Amsterdam, 7 Oktober 2015
Monday, March 9, 2015
[Haiku] CROCUS
Wednesday, March 4, 2015
[Haiku] Begal Anggaran
Para pejabat
merampas uang rakyat
begal anggaran
Elit politik
koruptor berjamaah
Rakyat sengsara
MiRa - Amsterdam, 3 Maret 2015
[Haiku] Kuncup Bunga
Aneka warna
kuncup bunga di taman
pesona jiwa
pancaran sinar
di awal musim semi
serasa segar
MiRa - Amsterdam, 3 Maret 2015
[Tanka] Rekening Gendut
Kepolisian
terkenal tukang palak
pemeras keji
Di perwira polisi
rekening gendut marak
rekening gendut marak
MiRa - Amsterdam, 3 Maret 2015
[Haiku] Kuncup Berbunga
sinar rembulan
dibalik tirai kusam
mimpi terjaga
menatap resah
ke orang putus asa
tanpa diasah
nasib menantang
harapan yang dinanti
tak kunjung datang
rumput ilalang
bersenandung jenaka
mendaur ulang
kuncup berbunga
merajut kehidupan
di musim semi
MiRa - Amsterdam, 4 Maret 2015
dibalik tirai kusam
mimpi terjaga
menatap resah
ke orang putus asa
tanpa diasah
nasib menantang
harapan yang dinanti
tak kunjung datang
rumput ilalang
bersenandung jenaka
mendaur ulang
kuncup berbunga
merajut kehidupan
di musim semi
MiRa - Amsterdam, 4 Maret 2015
Saturday, July 12, 2014
Rawan Kecurangan Pemilihan Presiden 2014

Sampai tgl 22 juli mendatang Indonesia sedang mengalami Rawan Kecurangan Pemilihan Presiden 2014. Ini karena PraHara nr. 1 masih saja belom mau merelakan atau menerima kenyataan hasil penghitungan suara sementara pilpres tgl. 7 juli lalu. Pihak kubu nr. 1 tetap melakukan aksi gerilya alias memiliki agenda tersembunyi untuk pemenangannya di pilpres 2014.
Secara liciknya pihak kubu nr. 1 tetap berusaha mempengaruhi publik umum di Indonesia, dengan melalui mesin propaganda media pers, tv, selebaran gelap dll. Yang paling berbahaya pada momen hari H pilpres 2014, yang seketika kubu nr. 1 meluncurkan amunisi "quick count tandingan" sebagai senjata ampuhnya untuk mengalihkan perhatian rakyat yang sudah menyoblos JKWJK nr.2, untuk diarahkan ke keraguannya terhadap pihak yang akan berhak menang dalam pilpres 2014.
Juga, sementara itu pihak kubu nr. 1 terus bereaksi offensif memanfaatkan momentum pencitraan quick count abal-abalnya melalui alat mesin propagandanya. Bersamaan waktunya mereka pun mengerahkan pasukannya secara diam-diam menggerakan usaha-usaha sabotase, memanipulasi penghitungan surat suara pemilih di tingkat TPS lokal, terutama di lokasi tempat-tempat kotak suara yang susah di jangkau oleh para relawan TIMSES JKWJK. Untuk itu saya setuju dengan seruan TIMSES JKWJK untuk tetap fokus dan berkosentrasi penuh dalam mengerahkan pengawalan maupun pengawasan proses penghitungan surat suara di KPU dari tingkat daerah sampai di pusat.
Akan banyak macam yang beragam cara-cara licik dan jahat bisa dilakukan dari pihak kubu nr.1. Mereka bisa beli semuanya yang mereka inginkan untuk supaya bisa mencapai kemenangan pilpres 2014. Dan, mereka akan trus berusaha sampai titik darah penghabisan melakukan kecurangan di setiap TPS. Maka kasus "quick-count abal-abal" versi kubu nr. 1 selayaknya dibongkar kebohongannya sampai tuntas dan harus digugat sampai ke ranah hukum. Jangan ragu dan patah semangat, ingat KPK sudah meluncurkan WARNING untuk KPU-Bawaslu: "Jangan Main-main, KPK Tidak Tidur" Dengan pernyataan tersebut, berarti KPK sudah mengendus adanya kecurangan pilpres 2014.
Tetap semangat Menuju Indonesia Hebat! Salam Revolusi Mental dari Amsterdam.
WARNING KPK untuk KPU - Bawaslu, click here:
http://nasional.kompas.com/read/2014/07/10/20402451/.Warning.KPK.untuk.KPU-Bawaslu.Jangan.Main-main.KPK.Tidak.Tidur.?fb_action_ids=668336476568466&fb_action_types=og.shares
Bukti proposal abal-abal lembaga survey senilai 8 miliar, click here:
http://celotehpemilu.com/terbongkar-inilah-proposal-puskaptis-senilai-8-miliar-yang-ditolak-jokowi/
Tuesday, June 24, 2014
Jalan Bareng Mendukung Revolusi Mental

Kita Harus Menang Total
Dukung Revolusi Mental
Salam Dua Jari
Jangan lupa pilih Jokowi
Jalan bareng bersama Jokowi di Jakarta
https://www.youtube.com/watch?v=gizQp4wrAIw&feature=youtu.be
Jalan Bareng Bersama Pendukung JKW4P di Amsterdam, 21 Juni 2014
Rute: Monument Pembebasan di Dam square - Monument Patung Multatuli di Singel - Monument Rumah Yatim Piatu di Amsterdam Museum - Vondelpark.
Mengapa kami memilih Jokowi - Jusuf Kalla?
Pemilihan Presiden Republik Indonesia telah diambang pintu. Tanggal 9 Juli 2014 rakyat Indonesia akan memilih presiden dan wakil peresidennya. Pada hari ini, tanggal 21 Juni 2014, kami Anggota Paguyuban Pendukung Jokowi dan JK di Eropa yang saat ini berkumpul di Amsterdam, menyatakan akan memilih Joko Widodo (JKW) dan Jusuf Kalla (JK) menjadi pimpinan Negara dan Bangsa Indonesia
Alasan kami mendukung Jokowi dan JK untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia adalah:
1. Karena kami menilai Jokowi memiliki rekam jejak yang baik, tidak terlibat dalam KKN maupun pelanggaran HAM serta seorang pekerja keras. Dia adalah seorang pemimpin yang lahir dari rakyat dan berjuang untuk rakyat. Kami percaya bahwa Jokowi dan JK mampu menangani persoalan rakyat Indonesia yang sedang mengalami masa suram yang kelam.
2. Karena kami percaya Jokowi dan JK mampu mengatasi persoalan Kemiskinan struktural akibat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang semakin merajalela dan melakukan penegakan hukum sehingga pada masa mendatang tidak ada lagi hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
3. Karena menurut kami Jokowi sudah membuktikan apa yang dikatakannya dalam tindakan yang nyata dan tidak sekedar retorika belaka. Menurut kami program-program yang dicanangkan oleh Jokowi dan JK sangat realistis dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.
4. Kami percaya bahwa Jokowi dan JK mampu mengembangkan bidang ekonomi kreatif yang seperti yang mereka canangkan tanpa meninggalkan falsafah Bhineka Tunggal Ika yang menjunjung tinggi pluralisme.
5. Karena kami percaya program Jokowi dan JK menuju Indonesia Hebat di bidang pendidikan, kesehatan dan penciptaan lapangan kerja, serta revolusi mental termasuk pembangunan etos kerja dapat membantu meningkatkan kemakmuran rakyat.
Mari kita sukseskan Pilpres 2014 dengan memilih JKW dan JK. Sebagai perantau di Luar Negeri mari kita tunjukkan martabat Bangsa, kegembiraan dan kejujujuran hati nurani kita dengan memilih calon pemimpin yang baik untuk menuju Indonesia Hebat!. Seperti dinyatakan Jokowi: “Pilpres adalah sebuah pemilihan yang bermartabat, tanpa kecurangan dan harus kita tunjukkan sebagai kegembiraan politik, bukan sebuah ketakutan,”
Sekali Merdeka, Tetap Merdeka,
Salam dua jari
Paguyuban Pendukung JOKOWI JK Eropa By Wahyu
Paguyuban Pendukung JOKOWI JK Eropa By Wahyu
Paguyuban Pendukung JOKOWI JK Eropa By Wahyu
Paguyuban
Pendukung JOKOWI _ JK ikut memeriahkan Ulang Tahun JOKOWI yg ke 53. 21
Juni 2014 di Amsterdam. Koordinator : Mira Kusuma, Nonce Yuli…
|
|||||
Preview by Yahoo
|
|||||
Memeriahkan H U T JOKOWI di Amsterdam Up 1 By Wahyu
Memeriahkan H U T JOKOWI di Amsterdam Up 1 By Wahyu
Memeriahkan H U T JOKOWI di Amsterdam Up 1 By Wahyu
Suasana
yg sangat meriah di Amsterdam Para Sahabat PAGUYUBAN PENDUKUNG JOKOWI -
JK. Ikut Merayakan H.U.T Jokowi yg ke 53. Teri…
|
|||||
Preview by Yahoo
|
|||||
Paguyuban Pendukung JOKOWI JK Eropa Up2 By Wahyu
Paguyuban Pendukung JOKOWI JK Eropa Up2 By Wahyu
Paguyuban Pendukung JOKOWI JK Eropa Up2 B…
Tak
Ketinggalan Warga Eropa Bersatu Padu dlm wadah Paguyuban Pendukung
JOKOWI - JK. Suatu Bukti bahwa Rakyat Menghendaki Calon Presiden Kita
adal…
|
|||||
Preview by Yahoo
|
|||||
Saturday, May 17, 2014
Tiada Daya Merindukanmu: Untuk kawanku ORTU
Tiada Daya Merindukanmu
: Untuk kawanku ORTU
jika kupejamkan mataku, seakan kau hadir disini
kau menatapku, lalu tersenyum dan menyapaku
katamu: "semuanya baik, walau waktu berhenti"
kehadiranmu, membuatku tenang dan merasa nyaman
kau telah meyakinkanku, berani mengutarakan yang diinginkan
Ketika kau ada, aku punya kawan
sejak awal kau selalu ada, dan siap hadir tanpa pamrih
setelah kepergianmu, tak seorangpun yang kukenal
karena tak seorang pun sepertimu, yang tau tentang diriku
sejenak mata terpejam, bermimpi sebuah keinginan
untuk kembali ke saat ini, tanpa kehadiran?
MiRa - Amsterdam, 17 Mei 2014
: Untuk kawanku ORTU
jika kupejamkan mataku, seakan kau hadir disini
kau menatapku, lalu tersenyum dan menyapaku
katamu: "semuanya baik, walau waktu berhenti"
kehadiranmu, membuatku tenang dan merasa nyaman
kau telah meyakinkanku, berani mengutarakan yang diinginkan
Ketika kau ada, aku punya kawan
sejak awal kau selalu ada, dan siap hadir tanpa pamrih
setelah kepergianmu, tak seorangpun yang kukenal
karena tak seorang pun sepertimu, yang tau tentang diriku
sejenak mata terpejam, bermimpi sebuah keinginan
untuk kembali ke saat ini, tanpa kehadiran?
MiRa - Amsterdam, 17 Mei 2014
Tuesday, May 13, 2014
Kebenaran untuk Kemanusiaan
Air di parit mengalir
ke sungai lalu ke laut
namun, nilai nominasi
pada musim paceklik
kering kerontang, tercekik
lalu, seperti apa kemiskinan itu
dan, apakah perampasan kekayaan
yang kau miliki atas nama kebesaran Tuhan
Aku mempertanyakan
dimana kebenaran
dari kebohongan, yang
kau nyatakan benar
Dan, tetap mempertanyakan
mengapa masih terus terjadi
yang besar bertambah besar
yang kecil menjadi lebih kecil
Jika pena tak lagi menuliskan
cerita yang ada dalam pikiran
maka tersirat kata tak bermakna
Dalam bait puisi yang disuarakan
tergerus pada alur kisah disonansi
maka tak menyentuh hatinurani
Ada susunan kata-kata usang
yang tak seorangpun menghiraukan
walau puisi kebenaran untuk kemanusiaan
Aku mempertanyakan
akan mengarah kemana
susunan rangkaian kata-kata
yang dinyatakannya, mengapa
terhenti membisu di keheningan
Masih mencekam di kuburan massal
dan, aku tetap mempertanyakannya
dimanakah kebenaran yang benar
Ada kasak-kusuk kemunafikan manusia
yang selaras dengan kehidupan hipokrisi
cepat atau lambat kejahatan akan terungkap
MiRa - Amsterdam, 13 Mei 2014
ke sungai lalu ke laut
namun, nilai nominasi
pada musim paceklik
kering kerontang, tercekik
lalu, seperti apa kemiskinan itu
dan, apakah perampasan kekayaan
yang kau miliki atas nama kebesaran Tuhan
Aku mempertanyakan
dimana kebenaran
dari kebohongan, yang
kau nyatakan benar
Dan, tetap mempertanyakan
mengapa masih terus terjadi
yang besar bertambah besar
yang kecil menjadi lebih kecil
Jika pena tak lagi menuliskan
cerita yang ada dalam pikiran
maka tersirat kata tak bermakna
Dalam bait puisi yang disuarakan
tergerus pada alur kisah disonansi
maka tak menyentuh hatinurani
Ada susunan kata-kata usang
yang tak seorangpun menghiraukan
walau puisi kebenaran untuk kemanusiaan
Aku mempertanyakan
akan mengarah kemana
susunan rangkaian kata-kata
yang dinyatakannya, mengapa
terhenti membisu di keheningan
Masih mencekam di kuburan massal
dan, aku tetap mempertanyakannya
dimanakah kebenaran yang benar
Ada kasak-kusuk kemunafikan manusia
yang selaras dengan kehidupan hipokrisi
cepat atau lambat kejahatan akan terungkap
MiRa - Amsterdam, 13 Mei 2014
Monday, May 12, 2014
Acara Pembacaan Puisi di Rumah Mawie Ananda Jonie
Dalam rangka merayakan Ulang Tahun penyair Mawie Ananta Jonie ke 74
tahun di kota Almere diadakan acara hari Pembacaan Puisi di rumah Pak
Mawie. Acara yang diadakan pada hari sabtu, 10 Mei 2014 itu, dimaksud
pula untuk memperingati 50 tahun Pak Mawie di Luar negeri sebagai
penyair eksil Indonesia di Belanda
Pak Mawie lahir pada tanggal 5 Mei 1940 di Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Sejak tahun 1990 beliau bersama istri dan dua putranya bermukim di kota Almere, yang kemudian pak Mawie bekerja di Biro Sport dan Rekreasi. Pada usia 65 tahun beliau mendapat pensiun pegawai negeri di Belanda.
Acara Pembacaan Puisi yang dihadiri lebih dari 20 orang itu, diadakan oleh Stichting Perhimpunan Dokumentasi Indonesia (PERDOI) dan Yayasan Sejarah dan Budaya (YSBI). Acara tersebut di awali dengan kata pengantar oleh ketua YSBI, bernama K. Soelardjo, kemudian Sarmadji (Perdoi) membacakan bagian dari karya tulisan buku Mawie Ananta Jonie, berjudul: “Anak Minang itu ke Peking”.
Pertama, pembacaan puisi oleh mantan Dosen Sastra Rusia dari Universitas Leiden Agus Salim, berjudul “Museum Perang”, “Bukit Tinggi” dan “Medan”. Kemudian disusul oleh, penyair Heri Latief dengan 3 karya puisinya “Budak Melayu”, “Balada sepiring nasi tempe” dan “Sepuluh tahun reformasi Basi”. Dini Setyowati sebagai korban peristiwa Tragedi Nasional 1965/66 generasi ke dua trurut membacakan karya puisinya berjudul “Wisma Kebun Nanas” dan “Burung Rajawali”.
Sementara hamparan angin menderu yang mengiringi hujan rintik di plataran rumah Mawie Ananta Jonie, tak mengurangi rasa kebersamaan antar sesama yang hadir. Bahkan suasana acara di rumah Pak Mawie menjadi lebih hangat dan ceria ketika penulis Asahan Aidit membacakan puisi satirenya berjudul “Begitu Banyak Yang sudah Berlalu”. Pula, memberi inspirasi pencerahan bagi yang hadir saat penulis, penyair dan pendiri Sanggar Bumi Tarung Koeslan Budiman membacakan karya puisi Li Tai Po, berjudul “Di bawah Terang bulan Minum Anggur sendirian”. Setelah itu Ibu Melia membacakan karya puisi Mawie Ananta Jonie yang kemudian disertai penjelasan oleh Lily, isteri saudara Mawie.
Saya pun turut serta membacakan puisi karya penyair Lekra Sabar Anantaguna, berjudul “Kecapi Terali Besi” dan “Di Depan Senayan”. Dan, akhir dari acara pembacaan puisi, penyair Chalik Hamid membacakan karya puisinya penyair muda Banyu Bening, berjudul “Romansa di Kebun Tebu” dan karya puisinya sendiri, berjudul “Kuburan Kami ada Dimana-mana” .
Sebagai penutupan acara pembacaan puisi penyair Mawie Ananta Jonie menyatakan kebahagiannya dan terharu serta mengucapkan terimakasih atas kesediaan kawan-kawannya yang hadir untuk berkumpul bersama merayakan Ulang Tahunnya yang ke 74 tahun.
MiRa - Amsterdam, 11 Mei 2014

Chalik Hamid (membaca puisi),Asahan Aidit, Roeslan Budiman
Pak Mawie lahir pada tanggal 5 Mei 1940 di Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Sejak tahun 1990 beliau bersama istri dan dua putranya bermukim di kota Almere, yang kemudian pak Mawie bekerja di Biro Sport dan Rekreasi. Pada usia 65 tahun beliau mendapat pensiun pegawai negeri di Belanda.
Acara Pembacaan Puisi yang dihadiri lebih dari 20 orang itu, diadakan oleh Stichting Perhimpunan Dokumentasi Indonesia (PERDOI) dan Yayasan Sejarah dan Budaya (YSBI). Acara tersebut di awali dengan kata pengantar oleh ketua YSBI, bernama K. Soelardjo, kemudian Sarmadji (Perdoi) membacakan bagian dari karya tulisan buku Mawie Ananta Jonie, berjudul: “Anak Minang itu ke Peking”.
Pertama, pembacaan puisi oleh mantan Dosen Sastra Rusia dari Universitas Leiden Agus Salim, berjudul “Museum Perang”, “Bukit Tinggi” dan “Medan”. Kemudian disusul oleh, penyair Heri Latief dengan 3 karya puisinya “Budak Melayu”, “Balada sepiring nasi tempe” dan “Sepuluh tahun reformasi Basi”. Dini Setyowati sebagai korban peristiwa Tragedi Nasional 1965/66 generasi ke dua trurut membacakan karya puisinya berjudul “Wisma Kebun Nanas” dan “Burung Rajawali”.
Sementara hamparan angin menderu yang mengiringi hujan rintik di plataran rumah Mawie Ananta Jonie, tak mengurangi rasa kebersamaan antar sesama yang hadir. Bahkan suasana acara di rumah Pak Mawie menjadi lebih hangat dan ceria ketika penulis Asahan Aidit membacakan puisi satirenya berjudul “Begitu Banyak Yang sudah Berlalu”. Pula, memberi inspirasi pencerahan bagi yang hadir saat penulis, penyair dan pendiri Sanggar Bumi Tarung Koeslan Budiman membacakan karya puisi Li Tai Po, berjudul “Di bawah Terang bulan Minum Anggur sendirian”. Setelah itu Ibu Melia membacakan karya puisi Mawie Ananta Jonie yang kemudian disertai penjelasan oleh Lily, isteri saudara Mawie.
Saya pun turut serta membacakan puisi karya penyair Lekra Sabar Anantaguna, berjudul “Kecapi Terali Besi” dan “Di Depan Senayan”. Dan, akhir dari acara pembacaan puisi, penyair Chalik Hamid membacakan karya puisinya penyair muda Banyu Bening, berjudul “Romansa di Kebun Tebu” dan karya puisinya sendiri, berjudul “Kuburan Kami ada Dimana-mana” .
Sebagai penutupan acara pembacaan puisi penyair Mawie Ananta Jonie menyatakan kebahagiannya dan terharu serta mengucapkan terimakasih atas kesediaan kawan-kawannya yang hadir untuk berkumpul bersama merayakan Ulang Tahunnya yang ke 74 tahun.
MiRa - Amsterdam, 11 Mei 2014

foto bersama di pelataran rumah Mawie Ananta Jonie
Chalik Hamid (membaca puisi),Asahan Aidit, Roeslan Budiman
Monday, May 5, 2014
Pejuang Indonesia Melawan Fasisme Jerman di Belanda
Tanggal 5 Mei adalah hari peringatan Pembebasan Rakyat Belanda dari pendudukan rezim Fasis Hitler. 5 tahun lamanya (1940-1945) rakyat Belanda mengalami penderitaan, kesengsaraan dan kelaparan sehingga mengakibatkan banyak korban kematian. Bahkan mereka menyebutnya sebagai masa perang melawan fasisme Jerman, karena hampir semua lapisan masyarakat, termasuk warga Indonesia di Belanda, ketika itu turut berjuang melawan pendudukan rezim fasis Hitler.
Kekuasaan rezim Fasis Hitler di Jerman sejak tahun 1933 sampai 1945 dikenal sangat kejam dan sadis terhadap suku etnis Yahudi maupun terhadap lawan-lawan politiknya di Europa. Dan, tak terkecuali di Belanda telah memakan korban kematian terbesar di sepanjang abad 20, walau banyak pula yang menunjukan keberpihakannya pada kekuasaan pemerintah rezim Fasis Hitler. Total korban kematian di Belanda berjumlah 102 000 orang dari jumlah penduduknya sekitar 9 juta orang.
Antara tahun 1940 sampai 1945 rezim Fasis Jerman menduduki Belanda. Pada masa itu, banyak pula warga Indonesia turut serta dalam perjuangannya melawan Fasisme Jerman di Belanda, a.l. dari kalangan akademisi, mahasiswa, wartawan, kaum pekerja di pabrik dan awak kapal, bahkan kaum pekerja perempuan rumah tangga pun turut serta andil dalam perjuangannya, yang terhimpun dalam berbagai organisasi, seperti Perhimpunan Indonesia (PI), "Roepi" dan "Soerapati" dibawah pimpinan Irawan Soejono. Kegiatan aktivisme kelompok orang-orang Indonesia ada di berbagai kota di Belanda, dan terpusat di Amsterdam dan Leiden.
| Jalan Irawan Soejono - OSDORP, Amsterdam Oud Zuid Nama jalan sebagai penghargaan tanda jasa beliau aktif berjuang melawan pendudukan rejim Fasis Hitler di Belanda '40 - '45 |
Adapun orang-orang Indonesia yang mengambil bagian dalam gerakan bawah tanah (perjuangan fisik ) dilakukan bersama para pejuang Belanda melawan fasisme, seperti membantu dalam memberi fasilitas persembunyian atau perlindungan di rumahnya, melakukan sabotase dan kerja spionase, membuat pemalsuan dokumen, melakukan serangan2 terhadap lembaga distribusi melalui cara perjuangan fisik bawah tanah, dll
Pusat latihan militer di Leiden diadakan di ruang bawah tanah sebuah pabrik wol. Pos pasukan komando dan para editor media 'De Bevrijding' (Pembebasan) bertempat di rumah Nazir Datoek Pamontjak dan Hadiono Koesoemo Oetoyo, yang disebut sebagai pusat operasi bawah tanah. Diantaranya, perlawanan di Rotterdam di bawah komando T. Jusuf Muda Dalam, didapat kiriman persenjataannya dari Leiden, misalnya kebutuhan, seperti senapan mesin, pistol, granat dan amunisi . Sepeda adalah sarana transportasi dan pengangkutan persenjataan satu-satunya, dengan menghindari celah rute pengontrolan ketat dari Pos-pos Kontrol pemeriksaan militer Jerman.
100 Orang Indonesia meninggal
Walau perlawanan warga Indonesia ketika itu dilakukan sangat hati-hati, namun ada pula orang-orang yang tidak beruntung . Mereka tertangkap, disiksa dan dimasukkan ke dalam penjara atau bahkan diangkut ke kamp konsentrasi . Dan mereka tidak pernah kembali ! Begitu pula bernasib buruk bagi orang2 Indonesia yang ketika itu tidak turut serta dalam perjuangan melawan militer fasisme, telah pula menjadi korban tawanan perang . Orang Indonesia Biasa - non - aktivis yang tertangkap kemudian dijebloskan dalam penjara di Vught , Scheveningen, Amsterdam dll. Bahkan, tak sedikit pula yang mati, karena mengalami kelaparan, penyakit TBC atau sebagai akibat penyiksaan fisik karena mereka tidak memberikan informasi yang diinginkan oleh kaum fasisten. Sekitar 100 orang Indonesia hilang atau meninggal dunia selama periode pendudukan fasisme Jerman di Belanda. Pada masa itu jumlah penduduk warga Indonesia di Belanda kurang -lebih 800 orang.
Pada paska pendudukan rezim Fasisme Jerman, Pemerintah Belanda telah memberi penghargaan dan tanda jasa kepahlawanan ke orang-orang Indonesia yang turut berjuang melawan Fasisme, dan beberapa orang yang berjasa itu telah pula mendapat kepercayaan serta dipilih oleh rakyat Belanda untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan Belanda. Misalnya, Mr R. M. Soejono , ayah dari yang dibunuh bernama Irawan, adalah seorang menteri dalam pemerintahan Belanda di pengasingan - Inggris . R. M. Setiadjit menjadi anggota Dewan Penasihat Agung ilegalitas - Belanda, kemudian juga menjadi anggota DPR - Belanda . Soenito dipilih sebagai anggota Dewan Penasehat Nasional Belanda, Rustam Effendi dipilih menjadi anggota DPR.
Daftar nama pemimpin PI lainnya, yang perlu di ingat dan di kenang atas jasa2nya dalam perjuangan melawan fasisme Jerman: P. Loebis , Sidartawan , Djajeng Pratomo , Moen Soendaroe , Dradjat Doerma Keswara , Poetiray , Kajat , Hamid dan Bima Jodjana . Dan, jangan lupa seorang mahasiswa Irawan Soejono sebagai anggota Pasukan dalam negeri Belanda, yang pada 13 Januari 1945 ditembak di jalan di kota Leiden oleh seorang tentara SS Ia ditembak mati ketika ia sedang memindahkan mesin stensil yang baru selesai mencetak pamflet,.Korban lain yang kita tidak akan dilupakan adalah : Makatita , Latuparisa , Mas Soemitro , Ds Max Wignyosoehardjo , dan Annie Manusama.
Wawancara Herman Keppy dengan Iwan Faiman
Kiri bawah: Slamet Faiman (sebelah kanannya: M.Hatta)
Raden Slamet Faiman ( Karang Anjer, 3 September 1909 - Amsterdam,10 September 1985) adalah seorang nasionalis yang aktip di Perhimpunan Indonesia dan aktivis komunis. Pada masa perang ia tinggal di Van Eeghenlaan 4 di Amsterdam . Anaknya Iwan mengatakan : " Sejak sebelum masa perang beliau telah aktip dalam kelompok organisasi Indonesia melawan fasisme. saya sendiri memiliki laporan dari Yayasan '40 - '45, dan dalam data tersebut menunjukkan bahwa ayah saya membantu orang2 Yahudi untuk disembunyikan di tempat-tempat persembunyian, juga membantu dalam pembuatan pemalsuan dokumen identitas. Beliaupun pernah pula membantu Irawan Soejono untuk bersembunyi di tempat tinggalnya pada sebelum ia ditembak oleh Jerman. Selain itu ayah saya juga membantu istri orang Indonesia bernama L. Notohadinegoro - Brilleman Ada juga pernyataan dari seorang penulis terkenal bernama Bert Schierbeek, yang , menyatakan bahwa Dick ter Beek memiliki foto ayah saya yang sedang dipindahkan oleh militer fasis."
Klarifikasi tertulis dari Raden Mas Djajeng Pratomo
Djajeng en Stennie Pratomo
Raden Mas Djajeng Pratomo (Bagan Siapiapi, 22 februari 1914):
"Pada bulan Juni 1941, Sicherheitsdienst (SD) dari kaum nazi mengadakan penggeledahan di berbagai tempat tinggal mahasiswa Indonesia di Leiden. Mereka mencari empat anggota pimpinan dari grup perlawanan Indonesia 'Perhimpunan Indonesia'. Dua di antara mereka tertangkap, yaitu R.M. Sidartawan dan P. Lubis, sedang yang lain dapat meloloskan diri.
Pagi-pagi hari tanggal 18 Januari 1943 SD mengadakan penggeledahan kembali di tempat tinggal orang-orang Indonesia di Den Haag. Mereka menangkap dua orang mahasiswa dan dua orang buruh: R.M. Sundaru, R.M. Djajeng Pratomo, Kajat, dan Hamid. Empat orang tawanan ini diseret dari kamp konsentrasi yang satu ke kamp yang lain: Schoorl, Amersfoort, Vught, Neuengamme, Buchenwald, Oranienburg-Saxenhausen, Dachau. Dua orang dari mereka tewas karena siksasn dan penderitaan di kamp-kamp tsb. Sidartawan di Dachau dan Mun Sundaru di Neuengamme."
Sumber:
http://www.ravagedigitaal.org/1992/115/Indonesische_115.htm
http://www.hermankeppy.com/index.php?id=nederlands-indie-tegen-duits-nederland
MiRa - Amsterdam, 05 Mei 2014
Monday, April 21, 2014
[Tanka] Kisah Aktivis 1997-1998
1,
Gelap gulita
Hening mencekam malam
Tersirat kelam
Menjejak masa lalu
penculikan Tim Mawar
2
Kejahatan HAM
Rekam jejak ingatan
Yang mengerikan
Penculikan aktivis
Tanggungjawab prabowo
MiRa - Amsterdam, 21 April 2014
Gelap gulita
Hening mencekam malam
Tersirat kelam
Menjejak masa lalu
penculikan Tim Mawar
2
Kejahatan HAM
Rekam jejak ingatan
Yang mengerikan
Penculikan aktivis
Tanggungjawab prabowo
MiRa - Amsterdam, 21 April 2014
Friday, April 11, 2014
Harapan Menagih Janji
di buffet laci antik
tertumpuk kertas tulisan
merekam jejak perjuangan
demi untuk keadilan sosial
diantara kata kecewa
tertumpu harapan
rakyat bergerak
terpilah pilah
harapan menagih janji,
jiwa tertindas serasa nyeri
pedih bosannya kebohongan,
orbais berjubah demokrasi
harapan menagih janji,
pembebasan dari penjajah
siapa berani berkorban,
melawan perubahan semu
harapan menagih janji,
seiring proses regenerasi
berdialektis mengikuti zaman,
anak bangsa berkontradiksi
harapan menagih janji,
siapa pembela kebenaran
intinya rakyat bosan menanti,
kawan disangka lawan
harapan hanya harapan,
bibir bergincu warna pemilu
rakyat tetap sadar manipulasi,
siapa kawan dan siapa lawan
MiRa - Amsterdam, 11 / 04/ 2014
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
List of books, click: http://sastrapembebasan.wordpress.com/
tertumpuk kertas tulisan
merekam jejak perjuangan
demi untuk keadilan sosial
diantara kata kecewa
tertumpu harapan
rakyat bergerak
terpilah pilah
harapan menagih janji,
jiwa tertindas serasa nyeri
pedih bosannya kebohongan,
orbais berjubah demokrasi
harapan menagih janji,
pembebasan dari penjajah
siapa berani berkorban,
melawan perubahan semu
harapan menagih janji,
seiring proses regenerasi
berdialektis mengikuti zaman,
anak bangsa berkontradiksi
harapan menagih janji,
siapa pembela kebenaran
intinya rakyat bosan menanti,
kawan disangka lawan
harapan hanya harapan,
bibir bergincu warna pemilu
rakyat tetap sadar manipulasi,
siapa kawan dan siapa lawan
MiRa - Amsterdam, 11 / 04/ 2014
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
List of books, click: http://sastrapembebasan.wordpress.com/
Saturday, March 29, 2014
[Haiku] the flower of broken hearts
a broken hearts
only time will tell
to remember how well

MiRa - Amsterdam, 29/03/2014
only time will tell
to remember how well

MiRa - Amsterdam, 29/03/2014
Subscribe to:
Posts (Atom)







