Showing posts with label ESAI. Show all posts
Showing posts with label ESAI. Show all posts

Monday, May 5, 2014

Pejuang Indonesia Melawan Fasisme Jerman di Belanda


Tanggal 5 Mei adalah hari peringatan Pembebasan Rakyat Belanda dari pendudukan rezim Fasis Hitler. 5 tahun lamanya (1940-1945) rakyat Belanda mengalami penderitaan, kesengsaraan dan kelaparan sehingga mengakibatkan banyak korban kematian. Bahkan mereka menyebutnya sebagai masa perang melawan fasisme Jerman, karena hampir semua lapisan masyarakat, termasuk warga Indonesia di Belanda, ketika itu turut berjuang melawan pendudukan rezim fasis Hitler.

Kekuasaan rezim Fasis Hitler di Jerman sejak tahun 1933 sampai 1945 dikenal sangat kejam dan sadis terhadap suku etnis Yahudi maupun terhadap lawan-lawan politiknya di Europa. Dan, tak terkecuali di Belanda telah memakan korban kematian terbesar di sepanjang abad 20, walau banyak pula yang menunjukan keberpihakannya pada kekuasaan pemerintah rezim Fasis Hitler. Total korban kematian di Belanda berjumlah 102 000 orang dari jumlah penduduknya sekitar  9 juta orang.

Antara tahun 1940 sampai 1945 rezim Fasis Jerman menduduki Belanda. Pada masa itu, banyak pula warga Indonesia turut serta dalam perjuangannya melawan Fasisme Jerman di Belanda, a.l. dari kalangan akademisi, mahasiswa, wartawan, kaum pekerja di pabrik dan awak kapal, bahkan kaum pekerja perempuan rumah tangga pun turut serta andil dalam perjuangannya, yang terhimpun dalam berbagai organisasi, seperti Perhimpunan Indonesia (PI),  "Roepi" dan "Soerapati" dibawah pimpinan Irawan Soejono.  Kegiatan aktivisme kelompok orang-orang Indonesia ada di berbagai kota di Belanda, dan terpusat di Amsterdam dan Leiden.


Jalan Irawan Soejono  - OSDORP, Amsterdam Oud Zuid  
Nama jalan sebagai penghargaan tanda jasa beliau aktif berjuang
melawan pendudukan rejim Fasis Hitler    
di Belanda '40 - '45 




Beberapa kegiatan jurnalistik yang aktip di media bawah tanah,mereka pun membantu dalam penyebaran publikasi maupun pendistribusian media jurnal Indonesia, bernama majalah  "Feiten" (Fakta). Juga, di beberapa  Majalah ( = jurnal ) Belanda, a.l. di De Vrije Pers, De Vrijheid, Vrij Nederland. Ada pula yang bekerjasama dengan beberapa media journal dari beberapa partai eksis di Belanda, seperti majalah De Waarheid (CPN), Parool (Partai Buruh) dan Trouw (Partai Kristen Demokrat) . Melalui majalah tersebut mereka mencoba untuk membangkitkan semangat perlawanan di Belanda melawan fasisme.

Adapun orang-orang Indonesia yang mengambil bagian dalam gerakan bawah tanah (perjuangan fisik ) dilakukan bersama para pejuang Belanda melawan fasisme, seperti  membantu dalam memberi fasilitas persembunyian atau perlindungan di rumahnya, melakukan sabotase dan kerja spionase, membuat pemalsuan dokumen, melakukan serangan2 terhadap lembaga distribusi melalui cara perjuangan fisik bawah tanah, dll

Pusat latihan militer di Leiden diadakan di ruang bawah tanah sebuah pabrik wol. Pos pasukan komando dan para editor media 'De Bevrijding' (Pembebasan) bertempat di rumah Nazir Datoek Pamontjak dan Hadiono Koesoemo Oetoyo, yang disebut sebagai pusat operasi bawah tanah. Diantaranya, perlawanan di Rotterdam di bawah komando T. Jusuf Muda Dalam, didapat kiriman persenjataannya dari Leiden, misalnya kebutuhan, seperti senapan mesin, pistol, granat dan amunisi . Sepeda adalah sarana transportasi dan pengangkutan persenjataan satu-satunya, dengan menghindari  celah rute pengontrolan ketat dari  Pos-pos Kontrol pemeriksaan militer Jerman.

100 Orang Indonesia meninggal

Walau perlawanan warga Indonesia ketika itu dilakukan sangat hati-hati, namun ada pula orang-orang yang tidak beruntung . Mereka tertangkap, disiksa dan dimasukkan ke dalam penjara atau bahkan diangkut ke kamp konsentrasi . Dan mereka tidak pernah kembali ! Begitu pula bernasib buruk bagi orang2 Indonesia yang ketika itu tidak turut serta dalam perjuangan melawan militer fasisme, telah pula menjadi korban tawanan perang . Orang Indonesia Biasa - non - aktivis yang tertangkap kemudian dijebloskan dalam penjara di Vught , Scheveningen, Amsterdam dll. Bahkan, tak sedikit pula yang mati, karena mengalami kelaparan, penyakit TBC atau sebagai akibat penyiksaan fisik karena mereka tidak memberikan informasi yang diinginkan oleh kaum fasisten. Sekitar 100 orang Indonesia hilang atau meninggal dunia selama periode pendudukan fasisme Jerman di Belanda. Pada masa itu jumlah penduduk warga Indonesia di Belanda kurang -lebih 800 orang.

Pada paska pendudukan rezim Fasisme Jerman, Pemerintah Belanda telah memberi penghargaan dan tanda jasa kepahlawanan ke orang-orang Indonesia yang turut berjuang melawan Fasisme, dan beberapa orang yang berjasa itu telah pula mendapat kepercayaan serta dipilih oleh rakyat Belanda untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan Belanda. Misalnya,   Mr R. M. Soejono , ayah dari yang dibunuh bernama Irawan, adalah seorang menteri dalam pemerintahan Belanda di pengasingan - Inggris . R. M. Setiadjit menjadi anggota Dewan Penasihat Agung ilegalitas - Belanda, kemudian juga menjadi anggota DPR - Belanda . Soenito dipilih sebagai anggota Dewan Penasehat Nasional Belanda, Rustam Effendi dipilih menjadi anggota DPR.

Daftar nama pemimpin PI lainnya, yang perlu di ingat dan di kenang atas jasa2nya dalam perjuangan melawan fasisme Jerman:  P. Loebis , Sidartawan , Djajeng Pratomo , Moen Soendaroe , Dradjat Doerma Keswara , Poetiray , Kajat , Hamid dan Bima Jodjana . Dan, jangan lupa seorang mahasiswa Irawan Soejono  sebagai anggota Pasukan dalam negeri Belanda,  yang pada 13 Januari 1945 ditembak di jalan di kota Leiden oleh seorang tentara SS  Ia ditembak mati ketika ia sedang memindahkan mesin stensil yang baru selesai mencetak pamflet,.Korban lain yang kita tidak akan dilupakan adalah : Makatita , Latuparisa , Mas Soemitro , Ds Max Wignyosoehardjo , dan Annie Manusama.

Wawancara Herman Keppy dengan Iwan Faiman


slametfaiman
Kiri bawah: Slamet Faiman (sebelah kanannya: M.Hatta)

Raden Slamet Faiman ( Karang Anjer, 3 September 1909 - Amsterdam,10 September 1985) adalah seorang nasionalis yang aktip di Perhimpunan Indonesia dan aktivis komunis. Pada masa perang ia tinggal di Van Eeghenlaan 4 di Amsterdam . Anaknya Iwan mengatakan : " Sejak sebelum masa perang beliau telah aktip dalam kelompok organisasi Indonesia melawan fasisme. saya sendiri memiliki laporan dari Yayasan '40 - '45, dan dalam data tersebut menunjukkan bahwa ayah saya membantu orang2 Yahudi untuk disembunyikan di tempat-tempat persembunyian, juga membantu dalam pembuatan pemalsuan dokumen identitas. Beliaupun pernah pula membantu Irawan Soejono untuk bersembunyi di tempat tinggalnya pada sebelum ia ditembak oleh Jerman. Selain itu ayah saya juga membantu istri orang Indonesia bernama L. Notohadinegoro - Brilleman Ada juga pernyataan dari seorang penulis terkenal bernama Bert Schierbeek, yang , menyatakan bahwa Dick ter Beek memiliki foto ayah saya yang sedang dipindahkan oleh militer fasis."

Klarifikasi tertulis dari Raden Mas Djajeng Pratomo

djajengstenniepratomo
        Djajeng en Stennie Pratomo 


Raden Mas Djajeng Pratomo (Bagan Siapiapi, 22 februari 1914):
"Pada bulan Juni 1941, Sicherheitsdienst (SD) dari kaum nazi mengadakan penggeledahan di berbagai tempat tinggal mahasiswa Indonesia di Leiden. Mereka mencari empat anggota pimpinan dari grup perlawanan Indonesia 'Perhimpunan Indonesia'. Dua di antara mereka tertangkap, yaitu R.M. Sidartawan dan P. Lubis, sedang yang lain dapat meloloskan diri.
Pagi-pagi hari tanggal 18 Januari 1943 SD mengadakan penggeledahan kembali di tempat tinggal orang-orang Indonesia di Den Haag. Mereka menangkap dua orang mahasiswa dan dua orang buruh: R.M. Sundaru, R.M. Djajeng Pratomo, Kajat, dan Hamid. Empat orang tawanan ini diseret dari kamp konsentrasi yang satu ke kamp yang lain: Schoorl, Amersfoort, Vught, Neuengamme, Buchenwald, Oranienburg-Saxenhausen, Dachau. Dua orang dari mereka tewas karena siksasn dan penderitaan di kamp-kamp tsb. Sidartawan di Dachau dan Mun Sundaru di Neuengamme."

Sumber:
 http://www.ravagedigitaal.org/1992/115/Indonesische_115.htm
 http://www.hermankeppy.com/index.php?id=nederlands-indie-tegen-duits-nederland

MiRa - Amsterdam, 05 Mei 2014

Sunday, March 23, 2014

KopDar di Pondok Ningsih

KopDar di Pondok Ningsih

23 March 2014 at 17:10

Menyenangkan kemarin "kopi darat" (KopDar) bersama dua teman Face Book, pula berkenalan dengan beberapa orang yang hadir di salah satu tempat pemukiman Nieuwegein dekat kota Utrecht, juga ada satu orang yang hadir berasal dari Vietnam.

ehm..suasana ramah tamah sesama warga perantauan kali ini bersifat "kekeluargaan", buatku hal unik karena selain acara untuk pembacaan puisi oleh sang penyair cyber Heri Latief, ada diskusi tentang pemilu caleg&capres untuk Indonesia Baru 2014, dan membahas seputar peristiwa sejarah Tragedi Kemanusiaan 1965/66, pula dengan diselingi hidangan jajanan, menu makanan yg eunak&nikmat.

Biasanya, ada kesan2 tersendiri yang kita alami bila hadir dalam pertemuan ramah tamah antar sesama di perantauan, atau mungkin bisa pula menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja bagi kebanyakan orang di perantauan. Maka tak heran bila ada seseorang bermukim di perantauan, yang selain punya partner hidup, pula memiliki teman akrab atau lingkungan teman-teman akrab. Lantaran menjalin pertemanan atau keakraban itu mengasyikan dan bisa menjadi hiburan menyenangkan bila punya teman atau sahabat yang bisa dipercaya. Lalu menjadi teman curhat atau bahkan sebagai teman yang bisa ada saling tolong menolong antar sesama perantau. Hal ini mengingat kehidupan rutinitas, berkeluarga dan kontak sosial itu sudah menjadi hakekat kebutuhan manusia dalam hidupnya di perantauan. Dan, tentunya pilihan setiap orang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kepentingan selera masing-masing. Orang Belanda menyebutnya "soort zoekt soort". Kebutuhan kontak sosial sejenis "soort zoekt soort" itu memang sudah menjadi tradisi budaya hidup bermasyarakat di Belanda, yang prinsip individualisme sudah menjadi acuan dalam kehidupannya.

Aku sebagai salah satu perantau, yang bermukim di Amsterdam selama hampir 32 tahun, tentunya sudah terbiasa hidup di kota besar dengan langgam budaya kehidupan individualisme. Sejak abad 15 Amsterdam adalah ibukota Nederland, yang memiliki keunikan tersendiri dalam mewarnai kehidupan perkotaan di Belanda. Juga, Amsterdam dikenal sebagai kota pemukiman bangsa asing dari daratan Europa maupun non-Europa. Sejak tahun 2012 kota Amsterdam memiliki jumlah penduduk sebanyak 790.044 orang, dengan jumlah warga asingnya sampai 50,5% dari 117 suku bangsa warga dunia.

Kembali ke suasana ramah tamah di rumah teman facebook di Nieuwegein. Buatku mereka yang hadir itu, selain dua teman yang kukenal lewat facebook, adalah wajah-wajah baru yang sebelumnya tak pernah kukenal. Dari beberapa wajah baru yang hadir itu,  ada dua orang yang tinggalnya tidak jauh dari rumah si yang punya hajat. Salah satu dari tetangganya itu, kira-kira berusia diatas 60 tahun, yang ternyata memberi kesan tersendiri buatku. Entah kenapa dan apa alasannya aku terkesan dengan beliau yang hadir diantara teman-teman usia antara 35 - 55 tahun.

Pertemuan ramah-tamah diawali dengan pembacaan puisi oleh Heri Latief, kemudian ngobrol soal keadaan di Indonesia, membahas pemilu untuk Indonesia Baru 2014 dan juga berdiskusi mengenai sejarah Tragedi Kemanusiaan 1965/66. Suasana ramah-tamah semakin menjadi akrab antar sesama yang hadir, dalam keakraban obrolanyapun menyiratkan kehangatan, yang kemudian terbersit keinginan tauku pada ibu yang berusia diatas 60an itu. Lantas ku tanya ke beliau kapan beliau meninggalkan tanah air. Lalu, jawabnya: "sejak tahun 1965".  Mendengar jawaban tersebut tentunya membuat aku jadi tambah penasaran serta ingin tau kenapa beliau meninggalkan tanah air tahun 1965?  kemudian jawabnya: "saya menikah dengan suami, yang tahun 1963 kembali ke Indonesia dari Suriname, kemudian bulan april 1965 saya&suami pergi merantau, dan bermukim di Suriname sampai tahun 1975. Tanyaku lagi: "Bukankah suriname Merdeka tahun 1975?", lalu jawabnya: "ya, Suriname Merdeka tahun 1975, lantas kami hijrah ke Belanda".

Begitulah sekelumit pengalamanku berkunjung ke salah satu teman facebook di pondok Ningsih - Nieuwegein. Merupakan pertemuan awal menyambut musim semi yang menyenangkan, memberi kesan tersendiri karena bertemu dan berkenalan dengan sesama warga perantauan di Belanda. Terimakasih Ningsih atas kebaikan hatimu, kesediaanmu menyediakan tempat dan makanan yang sedaaap dan nikmaat. Juga, mengucapkan terimakasih buat Regina atas cendolnya yang eunaak..


MiRa, Amsterdam, 23 Maret 2014

Tuesday, January 7, 2014

Kasus Kenaikan Harga Elpiji nonsubsidi sebagai Kejutan Awal Tahun Baru 2014

Kenaikan harga elpiji nonsubsidi 12 kilogram, yang diberlakukan tanggal 1 Januari 2014 menuai keresahan dan kepanikan masyarakat golongan menengah ke bawah, terutama rakyat miskin papa. see info: http://cardiacku.blogspot.nl/2014/01/masyarakat-resah-akibat-kenaikan-harga.html

Bahkan para pedagang kecil maupun rakyat miskinnya menjadi tak berdaya, see info: http://megapolitan.kompas.com/read/2014/01/05/1402397/Harga.Gas.12.Kg.Naik.Pemilik.Warteg.Tak.Ingin.Rugi

Bila jatah kebutuhan gas elpiji subsidi 3 kg habis di pasar, karena diborong oleh para spekulan atau para konsumen golongan menengahnya, maka kondisi pengusaha kecil terpuruk dan nasib pekerjanya di PHK, see info: http://www.tribunnews.com/regional/2014/01/06/pengusaha-roti-di-tasikmalaya-phk-buruh-karena-harga-gas-12-kg-naik

Dengan adanya keresahan, kepanikan dan ketidakberdayaan masyarakat akibat dirugikan oleh kebijakan pihak penguasa, akhirnya menimbulkan ketegangan sosial, see info:  http://megapolitan.kompas.com/read/2014/01/06/1203235/Protes.Harga.Elpiji.Buruh.DKI.Ancam.Unjuk.Rasa

Pihak oposisi PDIP pun memprotes ke pemerintahannya yang tidak peduli terhadap kepentingan rakyat kecil, sehingga bereaksi keras, serta mengajak rakyat secara nasional untuk protes menolak kenaikan harga Elpiji non subsidi.  see info: http://www.beritasatu.com/nasional/158893-pdip-ajak-rakyat-tolak-kenaikan-elpiji-12-kg.html

Sementara itu tanggapan para politisi elit pendukung rezim SBY sibuk dengan pernyataannya masing-masing. Dengan memanfaatkan momentum kenaikan harga elpiji nonsubsidi,  maka di jelang pemilu 2014 ini dipakai sebagai anjang promosi kepentingan dirinya dan partainya . Para anggota DPR - masing-masing saling berlomba “pernyataan” guna menarik simpati publik, dan dianggap sebagai pahlawan “anti kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi”.

Para politisi elit tersebut, yang bergabung dalam kongsi kekuasaan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, yaitu dari Partai Demokrat, Partai Golkar, PKS, PAN, PKB, dan PPP itu, menyikapi seperti lupa diri, atau mungkin sudah keblinger ngiler jabatan politiknya sebagai anggota legislatif. Misalnya, nada pernyataan GOLKAR yang dialamatkan kepada bossnya Partai Demokrat: “…Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pura-pura tidak mengetahui rencana Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kilogram…”, selanjutnya baca info di:  http://nasional.kompas.com/read/2014/01/05/1427019/SBY.Dianggap.Pura-pura.Tak.Tahu.Rencana.Kenaikan.Harga.Elpiji

Presiden SBY dan para menteri KIB jilit II seakan-akan berperan belagak gila, yang menanggapinya seperti pejabat sedang hilang ingatan. Tak heran bila Eva K Sundari, anggota Komisi III dari Fraksi PDIP, berkomentar di media: “Aneh, presiden menyesali naiknya elpiji. Saya baca pagi-pagi kok dia menyesal,” see info http://nonblok.com/ekbiz/energi/item/59057-pdip-heran-presiden-sby-menyesali-kenaikan-harga-gas-elpiji-12-kg?tmpl=component&print=1

Memasuki hari pertama Tahun Baru 2014, merujuk pada kasus kenaikan harga elpiji nonsubsidi. Hal ihwal kejutan awal Tahun Baru 2014  itu, faktanya adalah merugikan kehidupan rumah tangga masyarakat. Pada khususnya rakyat miskin selalu yang menjadi korbannya, bahkan pula dijadikan tumbal antar kepentingan penguasa yang tidak berpihak pada Keadilan Sosial.

Terkait dengan protes penolakan kenaikan harga elpiji nonsubsidi, politisi PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka di Jakarta, Minggu (5/1), menyatakan: “Apabila Pemerintah SBY melanjutkan keputusan politik menaikan harga elpiji, saya mengajak seluruh rakyat bergerak bersama dalam satu barisan perlawanan. Tahun 2014 adalah tahun politik, bukan tahun manipulasi politis atas nama kerugian Pertamina,”

Maka kita tunggu saja hasil protes politisi PDIP, Rieke Diah Pitaloka, semoga  misi aksi perlawanannya bersih dan murni, walhasil sukses untuk membangun proses Keadilan Sosial dan Kesejahteraan Umum bagi seluruh rakyat Indonesia.  Wallahu a’lam bish-shawab.

MiRa, Amsterdam, 6 Januari 2014

Sunday, September 19, 2010

[Esai] Jendral Kejam dari Belanda




Pada hari Sabtu nan cerah mentari seakan tak enggan memancarkan sinarnya, saát itu kusempatkan waktu bersepeda melewati daerah Amsterdam Oud Zuid, untuk menuju Vondelpark. Kali ini aku bersepeda menelusuri Apollolaan arah Olympiaplein, yang kemudian melintasi jalan pintas ke  gedung sekolah Lyseum.

Bersepeda di rute jalan Apollolaan terasa lebih adem karena pada sisi kiri-kanan jalan ditumbuhi tanaman pohon-pohon besar dan berdaun rindang . Bila melalui jalan tersebut terkesan gelap dan kusam tapi nyaman rasanya terlindung dari sengatan teriknya matahari di musim panas. Disepanjang jalan Apollolaan itu pula berjejer bangunan rumah mewah model villa dari peninggalan zaman keemasan kolonial Belanda.

Sesampainya aku di sekitar Olympiaplein, tiba-tiba aku dikejutkan oleh semacam bentuk pandangan lain dari biasanya yang tak pernah kutemui sebelumnya. Persis di depan gedung sekolah Lyseum, terlihat ada sebuah patung tinggi semampai sosok wanita Belanda, seperti memakai gaun kebaya Jawa, tercermin ekspresi bangga di raut wajahnya dengan “peran Legislatif” di tangannya. Menurut keterangan seseorang bersama anjingnya, yang kebetulan sedang berada di tempat lokasi yang sama, mengatakan bahwa patung itu disimbolkan sebagai personifikasi kekuasaan pemerintahan Belanda di zaman penjajahan Hindia Belanda.

Patung wanita jangkung setinggi hampir empat setengah meter itu, berdiri pada alas yang disamping kiri dan kanannya terukir gambar yang katanya melambangkan Amsterdam dan Batavia. Ke dua kakinya dengan diapit oleh dua singa, oleh kalangan rakyat yang menghujat pendirian Monumen tersebut sampai saát ini, menyebutnya “Perawan Belanda dengan Anjingnya”.

Dinding dan dasar kolam juga merupakan bagian dari monumen. Di depan patung perempuan jangkung itu ada kolam air besar, yang di simbolkan sebagai pemisahan antara Indonesia dan Belanda. Lokasi monumen seluas 18, 5 meter itu dilatarbelakangi oleh dua dinding yang mengapit patung perempuan itu, dihiasi dengan gambar-gambar plakat ukiran yang menunjukkan lambang kepulauan Indonesia.

Maka, barulah kuketahui serta kumengerti makna dari monumen itu, yang kuanggap penuh dengan peristiwa misteri, dan kurasakan seketika menjadi merinding, tercermin seperti suasana lengang dan hening karena serasa begitu mencekam dan berduka buatku hadir di sekitar monumen tersebut.

Di tempat inilah rupanya yang disebut monumen van Heutsz, Yang menurut cerita sejarahnya sejak tahun 1930, katanya, menjadi bangunan kontroversia. Bahkan selama bertahun-tahun telah sering pula menjadi sasaran tempat protes aksi, bagi penentang dan menghujat peranan sosok komandan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL, Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger) wilayah Aceh, yang dikenal kejam selama periode perang kolonial.

KONTROVESIAL

J.B. van Heutsz (1851 - 1924), dikenal oleh rakyat Belanda sebagai sosok komandan militer. Pada tahun 1873, di usia 22 tahun ia di kirim oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk tujuan penyerangan operasi militer, yang secara kekerasan dengan melakukan pembunuhan massal di Aceh dan sekitar Sumatra Timur.

Dengan kematian Van Heutsz di Swiss tahun 1924, lalu para pengagumnya mengumpulkan dana dalam jumlah besar, selain untuk biaya pemakaman, juga akan dibangun sebuah monumen peringatan van Heutsz di tempat lain tapi di kota yang sama, Amsterdam. Pada tahun 1930 monumen tersebut dibangun dengan mendapat ijin dari pemda Amsterdam, akan tetapi pelaksanaan proyek monumen sudah menimbulkan reaksi pro dan kontra.

Ada pendapat umum menyebutnya tidak pantas untuk dibangun Monumen Peringatan Van Heutsz yang seharusnya bertanggung jawab atas sekitar 70.000 kematian penduduk di Aceh. Bahkan, proses pembangunannya sempat mengalami penundaan waktu sampai 5 tahun, ini disebabkan antara lain oleh aksi pemogokan pekerja yang bekerja pada proyek pembangunan Monumen tersebut.

Ada pula pendapat lain dari yang pro pembangunan monumen tersebut, dengan ditampilkan sebuah plakat, yang pernyataannya dilihat dari gagasan kontemporer tentang masa kolonial. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah nama monumen. Tujuan ini dinyatakan dapat dilakukan, misalnya, harus menyatakan kelahiran dan kematian Jenderal Van Heutsz dan tindakannya di atas prasasti.

Pematung “Perempuan Jangkung” Frits van Hall (1899-1945), yang pula dikenal seorang Komunis dan pejuang Belanda dimasa pendudukan rejim Fasisme-Hitler, juga dianggap sebagai sosok peran yang menimbulkan reaksi pro dan kontra.

Ia sebagai pemenang bersama arsitek Gijsbert Friedhoff dalam kontes perancang pembuatan monumen van Heutsz, itupun oleh sebagian besar kawan-kawan alumni seperjuangannya zaman pendudukan rejim Fasis-Hitler, dianggap aneh atas keikutsertaan van Hall dalam pembuatan monumen van Heutsz di awal tahun 1930.

Di balik itu semua, keikutsertaan sang pematung van Hall dalam merancang monumen van Heutsz, ternyata dilatar belakangi oleh pengaruh sejarah kehidupan van Hall pribadi yang lahir di Yogyakarta, dan sejak masa kecil sampai usia 10 tahun bermukim di Hindia Belanda. Namun apakah alasan latar belakang sejarah hidup pribadinya bisa meyakinkan keraguan penilaian kawan2 seperjuangannya itu, biarpun ia pernah mengatakan pada koleganya bernama Jan Meefout bahwa plakat ukiran nama “J.B. van Heutsz” di mendatang bisa dihapus, lalu diganti dengan kata-kata “Pembebasan”, atau “Indonesia Merdeka”, sehingga gambar van Heutsz akan memiliki makna pengertian “Pembebasan”.

Tahun 1984 plakat berukir nama “J.B. van Heutsz” tersebut dicuri, dan kemudian ditemukan kembali tanpa ada huruf-huruf nama van Heutsz. Pada tahun yang sama ada pula serangan bom di monumen tersebut, kali ini dilakukan oleh kelompok Koetoh Reh (Nama sebuah kamp ketika tahun 1904 hukuman pidana Belanda dibantai).
Sebelumnya, Pada tanggal 10 Maret 1967 patung singa di sisi kanan rusak akibat serangan bom, yang dilakukan oleh club’s pasifis dari Pemuda Sosialis. Aksi serangan tesebut dimaksudkan untuk menggagalkan pernikahan Putri Beatrix dan Claus von Amsberg.

Buat bangsa kita yang sejak tahun 1945 telah memproklamasikan Merdeka dari Penjajahan Belanda, tak mungkin bisa melupakan catatan riwayat sejarah berdarah peristiwa kejahatan kemanusiaan, yang di pimpin oleh Letnan Jenderal sebagai komandan militer KNIL, bernama J.B. van Heutsz.

Dan, masih banyak lagi peristiwa berdarah lainnya yang tak mungkin bisa disebutkan kejadiannya semasa usia 350 tahun penjajahan Belanda. Ini merupakan pengalaman terpahit bagi saudara setanah air, bagi yang mengalaminya dalam perjalanan sejarah hidupnya, dengan penuh pengorbanan dirinya berjuang demi kemerdekaan bangsa dan rakyat Indoneia.

Begitu pula dengan pengalaman pahit pada paska kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan 45 tahun peristiwa sejarah berdarah 1965/1966 telah diambang pintu. Ratusan ribu umat manusia, mengalami kematian massal, yang sampai saát ini tidak bisa dibuktikan secara data fakta tentang siapa menjadi korban kemanusiaan maupun siapa sebagai dalang pelaku pembunuhan. Kapan Pemerintah Negara Republik Indonesia mengakui peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965/ 1966 sebagai Kebenaran Sejarah Pembunuhan massal.

MiRa - Amsterdam, 19 September 2010