Kawanan camar
Rebutan sisa roti
Di pinggir kali
Banjir kiriman
Melintas air beku
Ujian hidup
Menafsir tafsir
Pembunuhan karakter
Hati nurani
Manipulasi
Tragedi manusia
Fakta sosial
Mengusut kasus
Riwayat anak bangsa
Sejarah bingung
Stigmatisasi
Mitosnya Orde Baru
Digugat hukum
MiRa - Amsterdam, 13 Januari 2011
Friday, January 14, 2011
Sunday, January 9, 2011
Badut Bersandiwara
Kau telah membawaku
untuk suatu perubahan
Dimensi pemikiran
dimana arah yang dituju
nyatanya tidak relevan
Bahkan tak punya arti
bagi makna hidupku
Pembuluh darah tertidur
urat syaraf serasa gembira
Ketika perhatian diarahkan
di taman panggung terbuka
antara pemain dan ceritanya
bagaikan badut bersandiwara
Di lingkungan baru
dirasa tak nyaman
kehidupan hanya cemohan
Dibalik itu semua
dari adegannya yang lucu
adalah ketidakmampuannya
MiRa - Amsterdam, 9 Januari 2011
untuk suatu perubahan
Dimensi pemikiran
dimana arah yang dituju
nyatanya tidak relevan
Bahkan tak punya arti
bagi makna hidupku
Pembuluh darah tertidur
urat syaraf serasa gembira
Ketika perhatian diarahkan
di taman panggung terbuka
antara pemain dan ceritanya
bagaikan badut bersandiwara
Di lingkungan baru
dirasa tak nyaman
kehidupan hanya cemohan
Dibalik itu semua
dari adegannya yang lucu
adalah ketidakmampuannya
MiRa - Amsterdam, 9 Januari 2011
Saturday, January 8, 2011
[Haiku] Si Kutu Busuk
Mafia pajak
TNI dan Polisi
Suap menyuap
Tipu muslihat
Rangkaian kebohongan
Politik uang
Kasus korupsi
Hukumnya pengadilan
Manipulasi
Sidang pidana
Gayus bersilat lidah
Si kutu busuk
MiRa - Amsterdam, 8 Januari 2011
TNI dan Polisi
Suap menyuap
Tipu muslihat
Rangkaian kebohongan
Politik uang
Kasus korupsi
Hukumnya pengadilan
Manipulasi
Sidang pidana
Gayus bersilat lidah
Si kutu busuk
MiRa - Amsterdam, 8 Januari 2011
Tuesday, January 4, 2011
[Haiku] Sapi Perahan
Monument anti-Slavery, oosterpark - Amsterdam,17 des 2010
Sewaktu subuh
Di atas rumput hijau
Berkristal putih
Raut wajahnya
Tercermin pucat pasi
Sepanjang jalan
Senyum dan tawa
Membeku dihempas badai
Dingin menggigil
Merajalela
Kapitalisme ganas
Mililit krisis
Kaum pekerja
Jadi sapi perahan
Semangat rapuh
Musim berganti
Menanti kuncup bunga
Perjuanganmu!
MiRa - Amsterdam, 4 Januari 2011
Saturday, January 1, 2011
[Haiku] Kepingan Salju
Sunday, December 5, 2010
[Haiku] Memangsa sesama
Gagak menggaok
Terbang melayang lelah
Lapar terkapar
Malam mencekam
Awan putih berkapas
Menggumpal salju
Angin mendesir
Rindu dahan dan daun
Di pohon gundul
Sarang korupsi
Mengganas di trotoar
Pajakin warteg
Kaum marjinal
Dalam sungai membeku
Tertimbun bisu
Luka menganga
Kelam dikeheningan
Menapak tilas
Akar belukar
Kaktus di tanah tandus
Bergolak tegar
MiRa - Amsterdam, 5 Desember 2010
Terbang melayang lelah
Lapar terkapar
Malam mencekam
Awan putih berkapas
Menggumpal salju
Angin mendesir
Rindu dahan dan daun
Di pohon gundul
Sarang korupsi
Mengganas di trotoar
Pajakin warteg
Kaum marjinal
Dalam sungai membeku
Tertimbun bisu
Luka menganga
Kelam dikeheningan
Menapak tilas
Akar belukar
Kaktus di tanah tandus
Bergolak tegar
MiRa - Amsterdam, 5 Desember 2010
Wednesday, November 24, 2010
[Haiku] Bulan Purnama di Musim Dingin
Bulan purnama
Menyapa musim gugur
Cerah di hati
Bumi dan langit
Menghembus angin lembut
Serasa beku
Cuaca dingin
Pahitnya kehidupan
Racun dunia
Maju setapak
Kebijakan teladan
Bercermin mimpi
Cahaya bulan
Berselaput aura
Tidak bernyawa
Membara api
Memori bunga bersemi
Kekal abadi
MiRa - Amsterdam, 23 Nopember 2010
Menyapa musim gugur
Cerah di hati
Bumi dan langit
Menghembus angin lembut
Serasa beku
Cuaca dingin
Pahitnya kehidupan
Racun dunia
Maju setapak
Kebijakan teladan
Bercermin mimpi
Cahaya bulan
Berselaput aura
Tidak bernyawa
Membara api
Memori bunga bersemi
Kekal abadi
MiRa - Amsterdam, 23 Nopember 2010
Friday, November 19, 2010
[Haiku] Rindu Dendam
Mendesah resah
Hidup terkatung-katung
Terhalang pulang
Waktu terbuang
Menabur rindu dendam
Bersama angin
Pohon mendesir
Irama detak jantung
Menuai kasih
Di keheningan
Denyut nafas terakhir
Menghantar pergi
Ada saatnya
Kebenaran bersaksi
Cinta dan benci
MiRa - Amsterdam, 19 November 2010
Hidup terkatung-katung
Terhalang pulang
Waktu terbuang
Menabur rindu dendam
Bersama angin
Pohon mendesir
Irama detak jantung
Menuai kasih
Di keheningan
Denyut nafas terakhir
Menghantar pergi
Ada saatnya
Kebenaran bersaksi
Cinta dan benci
MiRa - Amsterdam, 19 November 2010
Friday, November 12, 2010
[Haiku] Surga Terbakar
Gemuruh angin
Daun terbang melayang
Tinggalkan pesan
Persahabatan
Tanpa sanak sodara
Sebatang kara
Bayangan hitam
Pantulan sinar lampu
Di dinding putih
Diburu teror
Rasa sakit dan pedih
Surga terbakar
Di pengasingan
Musim silih berganti
Tak ada sesal
MiRa -Amsterdam, 11 November 2010
Daun terbang melayang
Tinggalkan pesan
Persahabatan
Tanpa sanak sodara
Sebatang kara
Bayangan hitam
Pantulan sinar lampu
Di dinding putih
Diburu teror
Rasa sakit dan pedih
Surga terbakar
Di pengasingan
Musim silih berganti
Tak ada sesal
MiRa -Amsterdam, 11 November 2010
Sunday, November 7, 2010
[Haibun] Semburan Api
Mimpi bencana
Jatuhnya matahari
Ditengah malam
Agh..aku tak melihat Tuhan
tapi cahaya itu bersinar binar
tergeliat agresif menyembur dasyat
semburan api yang mengalir ganas
panas membumi hangus daratan
menjarah maut umat manusia dan hewan.
Ketika suara letusan menggema buas
menggelegar seakan ingin menelan alam
abu bertebaran bagai pecahan beling
menyebar racun di bumi pertiwi
semua kehidupan meratap duka
seperti hati tersayat pisau tajam
menusuk tembus ditubuhku
Gunung merapi
Menjelma bara merah
Berwajah murka
MiRa - Amsterdam, 6 Nopember 2010
Jatuhnya matahari
Ditengah malam
Agh..aku tak melihat Tuhan
tapi cahaya itu bersinar binar
tergeliat agresif menyembur dasyat
semburan api yang mengalir ganas
panas membumi hangus daratan
menjarah maut umat manusia dan hewan.
Ketika suara letusan menggema buas
menggelegar seakan ingin menelan alam
abu bertebaran bagai pecahan beling
menyebar racun di bumi pertiwi
semua kehidupan meratap duka
seperti hati tersayat pisau tajam
menusuk tembus ditubuhku
Gunung merapi
Menjelma bara merah
Berwajah murka
MiRa - Amsterdam, 6 Nopember 2010
Sunday, October 17, 2010
[Haibun] Organis Kehidupan
Adil dan makmur
Kebutuhan alami
Sandang dan pangan
Organis kehidupan
Keadilan sosial
Namun catatan sejarah kelahiran kemerdekaan dari kandungan Ibu pertiwi, sudah dicemari Tragedi Kemanusiaan 1965/1966. Dan, kekayaan sumber daya manusia maupun kekayaan alam di bumi Nusantara, menjadi lahan jarahan modal asing dan anjang fasilitas ladang KKN, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Lalu apakah sikap dan perilaku penguasa saat ini mewarisi isi pesan secara tersurat dan tersirat dalam norma kehidupan manusia...
Ah...acuan yang memuat nilai haram, halal dan dosa keturunan itu dikemas pada sistem kekuasaan hidup bernegara, dalam tuntutan hak keadilan tebang pilih, mengacu sikap perilaku berwujud gila hormat, gila kekuasaan, sok pintar, cari selamat dan cari aman. Selama 45 tahun peradaban hidup berbangsa dan bernegara, menghantar ke proses pemiskinan inovasi kerja otak dan kerja badan.
Tani dan buruh
Sumber tenaga kerja
Tanpa hak hidup
Mesin industri
Pekerja padat karya
Rentan hidupnya
Tanah garapan
Tenaga buruh tani
Tak hidup layak
Akar gerakan
Daulat keadilan
Hak bernegara
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 17 Oktober 2010
Kebutuhan alami
Sandang dan pangan
Organis kehidupan
Keadilan sosial
Namun catatan sejarah kelahiran kemerdekaan dari kandungan Ibu pertiwi, sudah dicemari Tragedi Kemanusiaan 1965/1966. Dan, kekayaan sumber daya manusia maupun kekayaan alam di bumi Nusantara, menjadi lahan jarahan modal asing dan anjang fasilitas ladang KKN, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Lalu apakah sikap dan perilaku penguasa saat ini mewarisi isi pesan secara tersurat dan tersirat dalam norma kehidupan manusia...
Ah...acuan yang memuat nilai haram, halal dan dosa keturunan itu dikemas pada sistem kekuasaan hidup bernegara, dalam tuntutan hak keadilan tebang pilih, mengacu sikap perilaku berwujud gila hormat, gila kekuasaan, sok pintar, cari selamat dan cari aman. Selama 45 tahun peradaban hidup berbangsa dan bernegara, menghantar ke proses pemiskinan inovasi kerja otak dan kerja badan.
Tani dan buruh
Sumber tenaga kerja
Tanpa hak hidup
Mesin industri
Pekerja padat karya
Rentan hidupnya
Tanah garapan
Tenaga buruh tani
Tak hidup layak
Akar gerakan
Daulat keadilan
Hak bernegara
MiRa - Elisabeth Samsonstr, 17 Oktober 2010
Wednesday, October 13, 2010
[HAIBUN] Cinta Kata Kerja

Dari balik tirai kaca jendela, kumelihat ke luar
sosok bayangan seakan sedang melambaikan tangan
seirama alunan suara seperti mendesis resah
begitu lesu menyapaku tanpa susunan katakata
Ah..hitungan waktu kehadiranmu begitu cepat berlalu
untuk bisa menikmati gaun kemegahan alam ciptamu
yang menghias tubuhmu dalam pesta musim semi
Pohon berdansa
Elok memukau sukma
Penghibur lara
Fata morgana
Tarian kupu-kupu
Merajut kasih
Kini kau tanggalkan gaun indah dan anggun
hiasan ornamen terbang menghampiriku
menembus sekat ruang kegelapan
Tak kuasa sentuhanmu penuh kelembutan
menandakan pesan akhirmu telah diambang pintu
badai angin menyertai perpisahan musim semi
tak sirna ketegaran akar pohon dan akar rumput
Dahan dan ranting
Menabur daun kering
Berpupuk kompos
cinta kasih yang tidak didambakan
kunanti kehadiranmu kembali
masih kuingat ungkapan kata
: cinta bukan kata benda tapi kata kerja
MiRa, Amsterdam, 13 Oktober 2010
Friday, October 8, 2010
[Haiku] Belenggu Dusta
Angin berbisik
Waktu terdiam bisu
Terbersit makna
Perjalanannya
Mengusung kehidupan
Dalam belenggu
Kemerdekaan
Menapak bercak darah
Di luka lama
Jejak ingatan
Warisan penjajahan
Memberkas dusta
Hidup dan mati
Menggugat keadilan
Di cermin diri
MiRa - Amsterdam, 7 Oktober 2010
Waktu terdiam bisu
Terbersit makna
Perjalanannya
Mengusung kehidupan
Dalam belenggu
Kemerdekaan
Menapak bercak darah
Di luka lama
Jejak ingatan
Warisan penjajahan
Memberkas dusta
Hidup dan mati
Menggugat keadilan
Di cermin diri
MiRa - Amsterdam, 7 Oktober 2010
Tuesday, October 5, 2010
[Tanka] Disinformasi
Musim beralih
Lintasan angin badai
Pohon bersiul
Ratapan tangis bayi
Ketakutan mencekam
Di kala hujan
Bulan berawan kelam
Konflik militer
Air sungai mengeruh
Luluh lantak Negara
Jiwa digadai
Peristiwa berdarah
Disinformasi
Ingatan pembunuhan
Terkubur tanpa nama
Mengayuh laju
Diselang kesibukan
Sarang korupsi
Antara kaya-miskin
Melebar tanpa batas
MiRa - Amsterdam, 3 Oktober 2010
GaneshA - grafiti dinding apartemen - Apeldoorn, 210 2010
Lintasan angin badai
Pohon bersiul
Ratapan tangis bayi
Ketakutan mencekam
Di kala hujan
Bulan berawan kelam
Konflik militer
Air sungai mengeruh
Luluh lantak Negara
Jiwa digadai
Peristiwa berdarah
Disinformasi
Ingatan pembunuhan
Terkubur tanpa nama
Mengayuh laju
Diselang kesibukan
Sarang korupsi
Antara kaya-miskin
Melebar tanpa batas
MiRa - Amsterdam, 3 Oktober 2010
GaneshA - grafiti dinding apartemen - Apeldoorn, 210 2010
Saturday, September 25, 2010
[Haiku] Tragedi Manusia 1965/1966
Kabut berawan
Jangkrik memekik resah
Duka mencekam
Di tepi kali
Mengalir kebencian
Jiwa tersihir
Rintihan tangis
Suasana kemelut
Titisan peluh
Desa dan kota
Riwayat yang berlawan
Retak berkeping
Gelap gulita
Bunga mawar mengering
Tak rasa cinta
Daya ingatan
Tragedi manusia
Menuntut adil
MiRa - Amsterdam, 24 September 2010
Jangkrik memekik resah
Duka mencekam
Di tepi kali
Mengalir kebencian
Jiwa tersihir
Rintihan tangis
Suasana kemelut
Titisan peluh
Desa dan kota
Riwayat yang berlawan
Retak berkeping
Gelap gulita
Bunga mawar mengering
Tak rasa cinta
Daya ingatan
Tragedi manusia
Menuntut adil
MiRa - Amsterdam, 24 September 2010
Tuesday, September 21, 2010
[Haiku] Musim Gugur
Tanah membukit
Berkarpet daun kuning
Pohon telanjang
Serasa miris
Angin dingin berhembus
Di tengah malam
Bulan purnama
Menyapa musim gugur
Selamat datang!
MiRa - E. Samsonstraat, 21 September 2010
Berkarpet daun kuning
Pohon telanjang
Serasa miris
Angin dingin berhembus
Di tengah malam
Bulan purnama
Menyapa musim gugur
Selamat datang!
MiRa - E. Samsonstraat, 21 September 2010
Sunday, September 19, 2010
[Esai] Jendral Kejam dari Belanda
Pada hari Sabtu nan cerah mentari seakan tak enggan memancarkan sinarnya, saát itu kusempatkan waktu bersepeda melewati daerah Amsterdam Oud Zuid, untuk menuju Vondelpark. Kali ini aku bersepeda menelusuri Apollolaan arah Olympiaplein, yang kemudian melintasi jalan pintas ke gedung sekolah Lyseum.
Bersepeda di rute jalan Apollolaan terasa lebih adem karena pada sisi kiri-kanan jalan ditumbuhi tanaman pohon-pohon besar dan berdaun rindang . Bila melalui jalan tersebut terkesan gelap dan kusam tapi nyaman rasanya terlindung dari sengatan teriknya matahari di musim panas. Disepanjang jalan Apollolaan itu pula berjejer bangunan rumah mewah model villa dari peninggalan zaman keemasan kolonial Belanda.
Sesampainya aku di sekitar Olympiaplein, tiba-tiba aku dikejutkan oleh semacam bentuk pandangan lain dari biasanya yang tak pernah kutemui sebelumnya. Persis di depan gedung sekolah Lyseum, terlihat ada sebuah patung tinggi semampai sosok wanita Belanda, seperti memakai gaun kebaya Jawa, tercermin ekspresi bangga di raut wajahnya dengan “peran Legislatif” di tangannya. Menurut keterangan seseorang bersama anjingnya, yang kebetulan sedang berada di tempat lokasi yang sama, mengatakan bahwa patung itu disimbolkan sebagai personifikasi kekuasaan pemerintahan Belanda di zaman penjajahan Hindia Belanda.
Patung wanita jangkung setinggi hampir empat setengah meter itu, berdiri pada alas yang disamping kiri dan kanannya terukir gambar yang katanya melambangkan Amsterdam dan Batavia. Ke dua kakinya dengan diapit oleh dua singa, oleh kalangan rakyat yang menghujat pendirian Monumen tersebut sampai saát ini, menyebutnya “Perawan Belanda dengan Anjingnya”.
Dinding dan dasar kolam juga merupakan bagian dari monumen. Di depan patung perempuan jangkung itu ada kolam air besar, yang di simbolkan sebagai pemisahan antara Indonesia dan Belanda. Lokasi monumen seluas 18, 5 meter itu dilatarbelakangi oleh dua dinding yang mengapit patung perempuan itu, dihiasi dengan gambar-gambar plakat ukiran yang menunjukkan lambang kepulauan Indonesia.
Maka, barulah kuketahui serta kumengerti makna dari monumen itu, yang kuanggap penuh dengan peristiwa misteri, dan kurasakan seketika menjadi merinding, tercermin seperti suasana lengang dan hening karena serasa begitu mencekam dan berduka buatku hadir di sekitar monumen tersebut.
Di tempat inilah rupanya yang disebut monumen van Heutsz, Yang menurut cerita sejarahnya sejak tahun 1930, katanya, menjadi bangunan kontroversia. Bahkan selama bertahun-tahun telah sering pula menjadi sasaran tempat protes aksi, bagi penentang dan menghujat peranan sosok komandan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL, Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger) wilayah Aceh, yang dikenal kejam selama periode perang kolonial.
KONTROVESIAL
J.B. van Heutsz (1851 - 1924), dikenal oleh rakyat Belanda sebagai sosok komandan militer. Pada tahun 1873, di usia 22 tahun ia di kirim oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk tujuan penyerangan operasi militer, yang secara kekerasan dengan melakukan pembunuhan massal di Aceh dan sekitar Sumatra Timur.
Dengan kematian Van Heutsz di Swiss tahun 1924, lalu para pengagumnya mengumpulkan dana dalam jumlah besar, selain untuk biaya pemakaman, juga akan dibangun sebuah monumen peringatan van Heutsz di tempat lain tapi di kota yang sama, Amsterdam. Pada tahun 1930 monumen tersebut dibangun dengan mendapat ijin dari pemda Amsterdam, akan tetapi pelaksanaan proyek monumen sudah menimbulkan reaksi pro dan kontra.
Ada pendapat umum menyebutnya tidak pantas untuk dibangun Monumen Peringatan Van Heutsz yang seharusnya bertanggung jawab atas sekitar 70.000 kematian penduduk di Aceh. Bahkan, proses pembangunannya sempat mengalami penundaan waktu sampai 5 tahun, ini disebabkan antara lain oleh aksi pemogokan pekerja yang bekerja pada proyek pembangunan Monumen tersebut.
Ada pula pendapat lain dari yang pro pembangunan monumen tersebut, dengan ditampilkan sebuah plakat, yang pernyataannya dilihat dari gagasan kontemporer tentang masa kolonial. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah nama monumen. Tujuan ini dinyatakan dapat dilakukan, misalnya, harus menyatakan kelahiran dan kematian Jenderal Van Heutsz dan tindakannya di atas prasasti.
Pematung “Perempuan Jangkung” Frits van Hall (1899-1945), yang pula dikenal seorang Komunis dan pejuang Belanda dimasa pendudukan rejim Fasisme-Hitler, juga dianggap sebagai sosok peran yang menimbulkan reaksi pro dan kontra.
Ia sebagai pemenang bersama arsitek Gijsbert Friedhoff dalam kontes perancang pembuatan monumen van Heutsz, itupun oleh sebagian besar kawan-kawan alumni seperjuangannya zaman pendudukan rejim Fasis-Hitler, dianggap aneh atas keikutsertaan van Hall dalam pembuatan monumen van Heutsz di awal tahun 1930.
Di balik itu semua, keikutsertaan sang pematung van Hall dalam merancang monumen van Heutsz, ternyata dilatar belakangi oleh pengaruh sejarah kehidupan van Hall pribadi yang lahir di Yogyakarta, dan sejak masa kecil sampai usia 10 tahun bermukim di Hindia Belanda. Namun apakah alasan latar belakang sejarah hidup pribadinya bisa meyakinkan keraguan penilaian kawan2 seperjuangannya itu, biarpun ia pernah mengatakan pada koleganya bernama Jan Meefout bahwa plakat ukiran nama “J.B. van Heutsz” di mendatang bisa dihapus, lalu diganti dengan kata-kata “Pembebasan”, atau “Indonesia Merdeka”, sehingga gambar van Heutsz akan memiliki makna pengertian “Pembebasan”.
Tahun 1984 plakat berukir nama “J.B. van Heutsz” tersebut dicuri, dan kemudian ditemukan kembali tanpa ada huruf-huruf nama van Heutsz. Pada tahun yang sama ada pula serangan bom di monumen tersebut, kali ini dilakukan oleh kelompok Koetoh Reh (Nama sebuah kamp ketika tahun 1904 hukuman pidana Belanda dibantai).
Sebelumnya, Pada tanggal 10 Maret 1967 patung singa di sisi kanan rusak akibat serangan bom, yang dilakukan oleh club’s pasifis dari Pemuda Sosialis. Aksi serangan tesebut dimaksudkan untuk menggagalkan pernikahan Putri Beatrix dan Claus von Amsberg.
Buat bangsa kita yang sejak tahun 1945 telah memproklamasikan Merdeka dari Penjajahan Belanda, tak mungkin bisa melupakan catatan riwayat sejarah berdarah peristiwa kejahatan kemanusiaan, yang di pimpin oleh Letnan Jenderal sebagai komandan militer KNIL, bernama J.B. van Heutsz.
Dan, masih banyak lagi peristiwa berdarah lainnya yang tak mungkin bisa disebutkan kejadiannya semasa usia 350 tahun penjajahan Belanda. Ini merupakan pengalaman terpahit bagi saudara setanah air, bagi yang mengalaminya dalam perjalanan sejarah hidupnya, dengan penuh pengorbanan dirinya berjuang demi kemerdekaan bangsa dan rakyat Indoneia.
Begitu pula dengan pengalaman pahit pada paska kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan 45 tahun peristiwa sejarah berdarah 1965/1966 telah diambang pintu. Ratusan ribu umat manusia, mengalami kematian massal, yang sampai saát ini tidak bisa dibuktikan secara data fakta tentang siapa menjadi korban kemanusiaan maupun siapa sebagai dalang pelaku pembunuhan. Kapan Pemerintah Negara Republik Indonesia mengakui peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965/ 1966 sebagai Kebenaran Sejarah Pembunuhan massal.
MiRa - Amsterdam, 19 September 2010
Friday, September 17, 2010
[Tanka] Musim gugur
Monday, September 13, 2010
[Haiku] Kamar Beton
Bumi berputar
Pembakaran Ingatan
Tanpa berakhir
Darah menetes
Setiap kamar beton
Gelap dan dingin
Cahaya lilin
Di langit musim gugur
Mencari bulan
Dalam catatan
Menuntut kebenaran
Bicara adil
Jengah menanti
Pada usia senja
Berdukacita
MiRa - Amsterdam, 13 September 2010
Pembakaran Ingatan
Tanpa berakhir
Darah menetes
Setiap kamar beton
Gelap dan dingin
Cahaya lilin
Di langit musim gugur
Mencari bulan
Dalam catatan
Menuntut kebenaran
Bicara adil
Jengah menanti
Pada usia senja
Berdukacita
MiRa - Amsterdam, 13 September 2010
Saturday, September 4, 2010
[Haibun] Kenangan Musim Gugur
Bulan separuh
Indah dikegelapan
Menghias langit
Cahaya remang
Dari tirai jendela
Mengusik malam
Teringat wajah
Dalam rangkuman foto
Suka dan duka
Ada rekaman ingatan abad lalu, peluh riuh mencekam malam, diterjemahkan begitu banyak kesan pahit dan manisnya kehidupan. Peristiwa kumpulan cerita gambar-gambar foto lama itu, belum pula dikukuhkan susunan urutan kejadiannya, yang mengisyaratkan kesaksian dan data fakta pada cabang-cabang kenangan kelabu, dalam duka kesedihan, merambah luka nanah di sepanjang sungai wilayah pegunungan nusantara.
Air mengalir
Jernih berubah keruh
Kerana ranah
Kenangan peristiwa mendalur ulang tragedi kemanusiaan , menyertai hadirnya kembali sosok-sosok ikon tanpa wajah dari sisi tempat lain, menapak jalan dengan memproyeksikan pengalaman masa lalu menuju ke masa depan, dalam jejak langkah arah yang tak bisa ditentukan.
Satu masa terlewati,
dari rasio tak terhitung,
pada lembaran halaman kematian,
nama terdaftar di atas meja hijau,
diserahkan ke tangan bersarung tangan.
Neraka diciptakan untuk kegagalan mahligai,
Kehidupan sosial abad ini dalam kemiskinan batin.
Bayangan diri
Di muka cermin kaca
Gema rintihan
Peristiwa misteri
Kenangan musim gugur
Lupa ingatan yang telah terjadi pada peristiwa itu,
kini makna hidup terbakar, kenangan lama dimusnahkan,
mungkin ingatan dihilangkan demi gairah memburu materi,
ketidakberdayaan dirintis tanpa memiliki nilai harga diri,
sampai saat ini tanah Ibu Pertiwi dipersembahkan pada orang asing,
dengan melalui lintasan korupsi, kolusi dan nepotisme,
mendekap daratan sumber daya kekayaan alam,
yang menebar jera sumber daya manusia,
eksistensi menjadi tahanan dirinya di tanah air sendiri,
orang tua dan anaknya menggantung diri di rumah kumuh,
perempuan yang belum menikah mereka siksa dan perkosa,
kebahagiaan dan kegembiraan menjadi kering dalam hati nurani,
senyuman dan tawa riang terbang melayang, terbawa angin badai,
di sepanjang rel kereta api, dan sepanjang jalan-jalan tak berujung,
telah membahayakan sumber kehidupan insani, walau untuk sesuap nasi.
Ada sesuatu dalam jiwa yang pernah meronta,
tak jera menuntut janji demi kemerdekaan diri,
rangkaian ingatan yang tertulis pena di garis tipis,
menjadi seperti samar-samar, tanpa substansi.
Dikala tinta emas terukir di atas kertas putih,
bangga dan murni merintis hidup sejahtera rakyat,
dari mereka yang tahu tentang makna berjuang.
keadilan untuk kemakmuran warga negara bangsa,
kehidupannya di isi dengan semangat jiwa api bara,
membawa tongkat estafet kebebasan nasional.
MiRa - Amsterdam, 3 September 2010
Indah dikegelapan
Menghias langit
Cahaya remang
Dari tirai jendela
Mengusik malam
Teringat wajah
Dalam rangkuman foto
Suka dan duka
Ada rekaman ingatan abad lalu, peluh riuh mencekam malam, diterjemahkan begitu banyak kesan pahit dan manisnya kehidupan. Peristiwa kumpulan cerita gambar-gambar foto lama itu, belum pula dikukuhkan susunan urutan kejadiannya, yang mengisyaratkan kesaksian dan data fakta pada cabang-cabang kenangan kelabu, dalam duka kesedihan, merambah luka nanah di sepanjang sungai wilayah pegunungan nusantara.
Air mengalir
Jernih berubah keruh
Kerana ranah
Kenangan peristiwa mendalur ulang tragedi kemanusiaan , menyertai hadirnya kembali sosok-sosok ikon tanpa wajah dari sisi tempat lain, menapak jalan dengan memproyeksikan pengalaman masa lalu menuju ke masa depan, dalam jejak langkah arah yang tak bisa ditentukan.
Satu masa terlewati,
dari rasio tak terhitung,
pada lembaran halaman kematian,
nama terdaftar di atas meja hijau,
diserahkan ke tangan bersarung tangan.
Neraka diciptakan untuk kegagalan mahligai,
Kehidupan sosial abad ini dalam kemiskinan batin.
Bayangan diri
Di muka cermin kaca
Gema rintihan
Peristiwa misteri
Kenangan musim gugur
Lupa ingatan yang telah terjadi pada peristiwa itu,
kini makna hidup terbakar, kenangan lama dimusnahkan,
mungkin ingatan dihilangkan demi gairah memburu materi,
ketidakberdayaan dirintis tanpa memiliki nilai harga diri,
sampai saat ini tanah Ibu Pertiwi dipersembahkan pada orang asing,
dengan melalui lintasan korupsi, kolusi dan nepotisme,
mendekap daratan sumber daya kekayaan alam,
yang menebar jera sumber daya manusia,
eksistensi menjadi tahanan dirinya di tanah air sendiri,
orang tua dan anaknya menggantung diri di rumah kumuh,
perempuan yang belum menikah mereka siksa dan perkosa,
kebahagiaan dan kegembiraan menjadi kering dalam hati nurani,
senyuman dan tawa riang terbang melayang, terbawa angin badai,
di sepanjang rel kereta api, dan sepanjang jalan-jalan tak berujung,
telah membahayakan sumber kehidupan insani, walau untuk sesuap nasi.
Ada sesuatu dalam jiwa yang pernah meronta,
tak jera menuntut janji demi kemerdekaan diri,
rangkaian ingatan yang tertulis pena di garis tipis,
menjadi seperti samar-samar, tanpa substansi.
Dikala tinta emas terukir di atas kertas putih,
bangga dan murni merintis hidup sejahtera rakyat,
dari mereka yang tahu tentang makna berjuang.
keadilan untuk kemakmuran warga negara bangsa,
kehidupannya di isi dengan semangat jiwa api bara,
membawa tongkat estafet kebebasan nasional.
MiRa - Amsterdam, 3 September 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)

