Nuansa alam
Bumi pesona surga
Dan musim bunga
Di ambang pintu
Menanti musim gugur
Air menggenang
Bayangan gelap
Membina kearifan
Nafas terhempas
Waktu membeku
Nasib Ibu Pertiwi
Hening mencekam
Susunan kata
Meniti jalan panjang
Lintasan kilat
Sekilas hidup
Jejak hati nurani
Terjerat jiwa
Bulan ramadan
Kemiskinan menjamur
Bagai neraka
MiRa - Amsterdam, 30 Agustus 2010
Monday, August 30, 2010
Saturday, August 28, 2010
[Haibun] Pelangi
Sehabis hujan
Menatap cakrawala
Warna pelangi
Dibawah matahari
Bercermin kehidupan
Keindahan sesaat di kaki langit, proses alamiah mengukir sketsa bentuk garis putaran setengah busur, menelusuri jejak transparansi, membias cahaya aneka warna, pada secercah sinar mentari yang menembus awan putih, seakan terbersit makna dalam karya lukisan yang memancarkan aura kebersamaan.
Penghias alam
Kecantikan sempurna
Di musim panas
Merah, oranye, kuning, dan hijau,
cermin keajaiban alam di cakrawala,
biru, lila dan ungu menghias warna,
pelangi berdurasi pendek, seperti
memberi citra warna-warni kehidupan.
Warna pelangi yang cemerlang,
riak kolam masa lalu.
Tirai berwarna
Dalam catatan inti
Sinar membusur
Setetes hidup
Di sebuah cabang cinta
Bebaskan diri
MiRa - Amsterdam, 28 Agustus 2010
Menatap cakrawala
Warna pelangi
Dibawah matahari
Bercermin kehidupan
Keindahan sesaat di kaki langit, proses alamiah mengukir sketsa bentuk garis putaran setengah busur, menelusuri jejak transparansi, membias cahaya aneka warna, pada secercah sinar mentari yang menembus awan putih, seakan terbersit makna dalam karya lukisan yang memancarkan aura kebersamaan.
Penghias alam
Kecantikan sempurna
Di musim panas
Merah, oranye, kuning, dan hijau,
cermin keajaiban alam di cakrawala,
biru, lila dan ungu menghias warna,
pelangi berdurasi pendek, seperti
memberi citra warna-warni kehidupan.
Warna pelangi yang cemerlang,
riak kolam masa lalu.
Tirai berwarna
Dalam catatan inti
Sinar membusur
Setetes hidup
Di sebuah cabang cinta
Bebaskan diri
MiRa - Amsterdam, 28 Agustus 2010
Thursday, August 26, 2010
[Haibun] Kebebasan
Ketika orang berkata, "Bicaralah pada kami tentang Kebebasan."
Ada yang menjawab: "Di setiap pintu gerbang kehidupan, aroma kesuburan dan keindahan alam, bagaikan hidangan aneka ragam makanan, sebagai pembangkit semangat selera rasa dan bergairah hidup, padahal tantangan bagi kuli dan budak untuk kebebasan diri dari rasa lapar dan dahaga, tercermin jiwanya bersujut menyembah diri serta direndahkan harga dirinya, dihadapan seorang tiran yang rakus dan licik."
Penguasa zalim
Ngerinya kehidupan
Budaya kuli
Riwayat penjajahan
Politik adu-domba
Di tempat-tempat suci, dan,
ruangan dalam bayang-bayang tembok pembatas,
terlihat seperti ada yang paling bebas,
diantara orang-orang terjerat lilitan kawat berduri.
Hati berdarah didirinya,
karena ingin bebaskan diri,
dengan memanfaatkan,
keinginan antar sesama manusia.
Berhenti bicara tentang kebebasan?
Bila semua tujuannya terpenuhi.
Yang tidak adil
Belenggu penjajahan
Terfragmentasi
Kehidupan dunia
Alam Surga-Neraka
Dalam kenyataan itu,
ikatan rantai melilit kuat,
menjerat kemiskinan diri,
yang terlihat berkilauan,
di bawah pancaran sinar matahari,
serta menyilaukan mata,
menjadi pedih dan nyeri.
Kaya dan miskin
Peraturan tirani
Hidup berspiral
Bebas dan bangga
Kemenangan ilusi
Hukumnya kebal
Akal pikiran
Jiwa kemerdekaan
Dan kebangkitan
MiRa - Amsterdam, 26 Agustus 2010
Ada yang menjawab: "Di setiap pintu gerbang kehidupan, aroma kesuburan dan keindahan alam, bagaikan hidangan aneka ragam makanan, sebagai pembangkit semangat selera rasa dan bergairah hidup, padahal tantangan bagi kuli dan budak untuk kebebasan diri dari rasa lapar dan dahaga, tercermin jiwanya bersujut menyembah diri serta direndahkan harga dirinya, dihadapan seorang tiran yang rakus dan licik."
Penguasa zalim
Ngerinya kehidupan
Budaya kuli
Riwayat penjajahan
Politik adu-domba
Di tempat-tempat suci, dan,
ruangan dalam bayang-bayang tembok pembatas,
terlihat seperti ada yang paling bebas,
diantara orang-orang terjerat lilitan kawat berduri.
Hati berdarah didirinya,
karena ingin bebaskan diri,
dengan memanfaatkan,
keinginan antar sesama manusia.
Berhenti bicara tentang kebebasan?
Bila semua tujuannya terpenuhi.
Yang tidak adil
Belenggu penjajahan
Terfragmentasi
Kehidupan dunia
Alam Surga-Neraka
Dalam kenyataan itu,
ikatan rantai melilit kuat,
menjerat kemiskinan diri,
yang terlihat berkilauan,
di bawah pancaran sinar matahari,
serta menyilaukan mata,
menjadi pedih dan nyeri.
Kaya dan miskin
Peraturan tirani
Hidup berspiral
Bebas dan bangga
Kemenangan ilusi
Hukumnya kebal
Akal pikiran
Jiwa kemerdekaan
Dan kebangkitan
MiRa - Amsterdam, 26 Agustus 2010
Sunday, August 22, 2010
[Tanka] Bulan Puasa
Penderitaan
Saat bulan puasa
Merintih lapar
Di waktu tidur nyenyak
Mimpi memburu tikus
Harapan duka
Rindu dihibur cinta
Bunga melayu
Pembaharuan sesat
Maraknya lintah darat
Daratan lelah
Wacana diperbarui
Tikus membiak
Kucing geram mengerang
Cemas, berkuku tumpul
Menatap bulan
Dalam alam pikiran
Penuh semangat
Rasa resah menderu
Naluri terbang jauh
MiRa - Amsterdam, 22 Agustus 2010
Saat bulan puasa
Merintih lapar
Di waktu tidur nyenyak
Mimpi memburu tikus
Harapan duka
Rindu dihibur cinta
Bunga melayu
Pembaharuan sesat
Maraknya lintah darat
Daratan lelah
Wacana diperbarui
Tikus membiak
Kucing geram mengerang
Cemas, berkuku tumpul
Menatap bulan
Dalam alam pikiran
Penuh semangat
Rasa resah menderu
Naluri terbang jauh
MiRa - Amsterdam, 22 Agustus 2010
Thursday, August 12, 2010
[HAIKU] Riwayat Kehidupan
Foto kenangan
Terucap penuh cinta
Dalam benaknya
Kehadirannya
Dikeheningan malam
Bersama kelam
Hujan mengetok
Kata-kata mengalir
Ke ambang pintu
Sejauh mata
Awan melangkah jauh
Tanpa suara
Menelusuri
Riwayat kehidupan
Pengais sampah
Sepanjang jalan
Angin membelai lembut
Daun berbisik
Pesan terakhir
Tak perlu disesalkan
Waktu berlalu
Ingat kembali
Bulan menyapa ramah
Bintang di langit
MiRa - Amsterdam, 12 Agustus 2010
Terucap penuh cinta
Dalam benaknya
Kehadirannya
Dikeheningan malam
Bersama kelam
Hujan mengetok
Kata-kata mengalir
Ke ambang pintu
Sejauh mata
Awan melangkah jauh
Tanpa suara
Menelusuri
Riwayat kehidupan
Pengais sampah
Sepanjang jalan
Angin membelai lembut
Daun berbisik
Pesan terakhir
Tak perlu disesalkan
Waktu berlalu
Ingat kembali
Bulan menyapa ramah
Bintang di langit
MiRa - Amsterdam, 12 Agustus 2010
Tuesday, August 10, 2010
[HAIBUN] Cermin Kemerdekaan
[HAIBUN] Cermin Kemerdekaan
: Refleksi diri buat Ibunda
Di kaki langit
Awan gelap menggantung
Tersenyum muram
Dikeheningan malam
Masa lalu mencekam
Ah..ingatan peristiwa melawan penjajahan,
massal ribuan orang, tak kenal menyerah,
medan perang menjadi lautan bara api.
Riwayat perjuangan bangsa Indonesia,
dari yang berlawan mungkin tak kembali,
darah dan jiwa raga jadi tempat kematiannya.
Pada peristiwa itu, serangan serdadu asing,
bersama bom-bom pemusnah umat manusia,
katanya, digunakan untuk perdamaian dunia,
ketika itu, tak ada yang mampu menghalanginya,
harga diri bangsanya, berkorban atau dikorbankan,
tak menjadi soal baginya, demi pembebasan rakyatnya.
Rasa senasib
Pahitnya penjajahan
Sepenanggungan
Jati dirinya, bertekad baja,
sikapnya, berwatak keras,
jiwa perlawanannya,
menjejak perjuangan,
Demi kemerdekaan.
Semua itu di dunia, tujuannya,
nasionalisme dan cinta tanah air,
patriotisme sebagai penghargaan,
persatuan dan kesatuan bangsanya.
Namun tantangan di masa kekinian,
nilai percaya diri tumbuh dalam kevakuman.
dari cermin jiwa ketegarannya, tak bermakna,
dalam citra mempertahankan dan mengisi kemerdekaan,
semangat juang tanpa tanda-tanda kehidupan kebersamaan,
ketika rakyatnya menuntut keadilan atas hak hidup sejahtera.
Roda kehidupan berorganisasi,
berpaling ke massa mengambang,
sistim hidup bernegara dan berbangsa,
berganti haluan, tak terlihat wujudnya,
terbius, seruan kemiskinan dibutatulikan.
Hal itu seperti menjadi ruang hampa udara,
tujuan kemandirian hanyalah isapan jempol,
kerakusan mengancam kekayaan alamnya,
bunga hutang negara menumpuk bukit limbah,
ilusi kemakmuran dijadikan bencana gersang,
atau mungkin ada sisi kelemahan manusia,
terlihat semakin rapuh, hati nuraninya membatu.
Tantangan hidup
Ketidakberdayaan
Tidak memudar
Dalam bayangan
Mimpi bunga di taman
Aneka warna
Jiwa semangat
Kedaulatan rakyat
Kemandirian
MiRa - Amsterdam, 10 Agustus 2010
: Refleksi diri buat Ibunda
Di kaki langit
Awan gelap menggantung
Tersenyum muram
Dikeheningan malam
Masa lalu mencekam
Ah..ingatan peristiwa melawan penjajahan,
massal ribuan orang, tak kenal menyerah,
medan perang menjadi lautan bara api.
Riwayat perjuangan bangsa Indonesia,
dari yang berlawan mungkin tak kembali,
darah dan jiwa raga jadi tempat kematiannya.
Pada peristiwa itu, serangan serdadu asing,
bersama bom-bom pemusnah umat manusia,
katanya, digunakan untuk perdamaian dunia,
ketika itu, tak ada yang mampu menghalanginya,
harga diri bangsanya, berkorban atau dikorbankan,
tak menjadi soal baginya, demi pembebasan rakyatnya.
Rasa senasib
Pahitnya penjajahan
Sepenanggungan
Jati dirinya, bertekad baja,
sikapnya, berwatak keras,
jiwa perlawanannya,
menjejak perjuangan,
Demi kemerdekaan.
Semua itu di dunia, tujuannya,
nasionalisme dan cinta tanah air,
patriotisme sebagai penghargaan,
persatuan dan kesatuan bangsanya.
Namun tantangan di masa kekinian,
nilai percaya diri tumbuh dalam kevakuman.
dari cermin jiwa ketegarannya, tak bermakna,
dalam citra mempertahankan dan mengisi kemerdekaan,
semangat juang tanpa tanda-tanda kehidupan kebersamaan,
ketika rakyatnya menuntut keadilan atas hak hidup sejahtera.
Roda kehidupan berorganisasi,
berpaling ke massa mengambang,
sistim hidup bernegara dan berbangsa,
berganti haluan, tak terlihat wujudnya,
terbius, seruan kemiskinan dibutatulikan.
Hal itu seperti menjadi ruang hampa udara,
tujuan kemandirian hanyalah isapan jempol,
kerakusan mengancam kekayaan alamnya,
bunga hutang negara menumpuk bukit limbah,
ilusi kemakmuran dijadikan bencana gersang,
atau mungkin ada sisi kelemahan manusia,
terlihat semakin rapuh, hati nuraninya membatu.
Tantangan hidup
Ketidakberdayaan
Tidak memudar
Dalam bayangan
Mimpi bunga di taman
Aneka warna
Jiwa semangat
Kedaulatan rakyat
Kemandirian
MiRa - Amsterdam, 10 Agustus 2010
Tuesday, August 3, 2010
[Haibun] Pikiran Manusia
Akar dan daun
Embun di tepi sungai
Berubah sejuk
Pikiran manusia
Mimpi dikegelapan
Ada yang mengatakan,
menggunakan tenaga kerja,
dari kekuatan daya tahannya,
tak ada yang bisa dibanggakan,
karena kecerdasan manusia, diukur,
kemampuan berpikir ilmu pengetahuan,
yang tidak perlu memahami semua isinya,
tentang kebenaran hakekat kehidupan manusia.
Lalu, apakah pemikiran manusia terbatas?
atau dibatasi dengan lapisan pagar berduri,
untuk menghitung jumlah kekayaan alam dalam tanah.
Kesemuanya itu, api obor menuntut hak keadilan digelapkan,
tak ada celah cahaya bisa menerangi harapan perubahan,
bekal hidup kaum pekerja untuk esok hari adalah tantangan.
Tenaga padat karya
dengan disiplin kerjanya
kebutuhan hidup minimal
tanpa ada daya beli
bahu rapuh memandu duka
beban berat masa derita
siapa menanggung?
Massa kosumsi
Tak butuh jadi penting
Di pasar bebas
Kepentingan diuji
Hasilnya tak dilacak
Api membara
Dalam sekejap mata
Ilusi padam
Ada cahaya palsu menyebar bias
dalam kegelapan, jejaknya tak diketahui
hidangan makan sepiring nasi
jiwa rakus, berselera racun
MiRa - Amsterdam, 3 Agustus 2010
Embun di tepi sungai
Berubah sejuk
Pikiran manusia
Mimpi dikegelapan
Ada yang mengatakan,
menggunakan tenaga kerja,
dari kekuatan daya tahannya,
tak ada yang bisa dibanggakan,
karena kecerdasan manusia, diukur,
kemampuan berpikir ilmu pengetahuan,
yang tidak perlu memahami semua isinya,
tentang kebenaran hakekat kehidupan manusia.
Lalu, apakah pemikiran manusia terbatas?
atau dibatasi dengan lapisan pagar berduri,
untuk menghitung jumlah kekayaan alam dalam tanah.
Kesemuanya itu, api obor menuntut hak keadilan digelapkan,
tak ada celah cahaya bisa menerangi harapan perubahan,
bekal hidup kaum pekerja untuk esok hari adalah tantangan.
Tenaga padat karya
dengan disiplin kerjanya
kebutuhan hidup minimal
tanpa ada daya beli
bahu rapuh memandu duka
beban berat masa derita
siapa menanggung?
Massa kosumsi
Tak butuh jadi penting
Di pasar bebas
Kepentingan diuji
Hasilnya tak dilacak
Api membara
Dalam sekejap mata
Ilusi padam
Ada cahaya palsu menyebar bias
dalam kegelapan, jejaknya tak diketahui
hidangan makan sepiring nasi
jiwa rakus, berselera racun
MiRa - Amsterdam, 3 Agustus 2010
Sunday, August 1, 2010
Sepenggal Ingatan
Udara pagi begitu sejuk,
aku berdiri di stasiun kereta api,
menatap ke kejauhan, seakan-akan
masa depan sedang menanti.
Setiap orang memilih arahnya,
keinginannya, demi masa depannya,
dengan apa yang telah diputuskan,
menuju pilihan jalan hidupnya,
sampai ke akhir tujuan tempatnya.
Nyatanya, begitu banyak orang tidak bahagia,
aku masih sering mendengar mereka mengeluh,
ketidak puasan dengan nasib hidupnya,
juga berlaku bagi orang-orang di sekitar mereka,
Ah...hidup ini sangat tidak adil, dan
mereka merasa sangat sendiri.
Lihatlah di sekitar lingkunganmu,
lalu kemudian kau berkaca diri,
dihadapan orang-orang itu,
kau akan merasa bertanggung jawab,
dengan apa yang dilakukannya setiap hari,
karena jalan hidup yang dilaluinya,
adalah berbeda dengan apa,
yang harus ditentukan orang lain.
Bila harga dirimu telah di tanganmu,
maka ilusi menjadi kenyataan.
MiRa - Amsterdam, 1 Agustus 2010
aku berdiri di stasiun kereta api,
menatap ke kejauhan, seakan-akan
masa depan sedang menanti.
Setiap orang memilih arahnya,
keinginannya, demi masa depannya,
dengan apa yang telah diputuskan,
menuju pilihan jalan hidupnya,
sampai ke akhir tujuan tempatnya.
Nyatanya, begitu banyak orang tidak bahagia,
aku masih sering mendengar mereka mengeluh,
ketidak puasan dengan nasib hidupnya,
juga berlaku bagi orang-orang di sekitar mereka,
Ah...hidup ini sangat tidak adil, dan
mereka merasa sangat sendiri.
Lihatlah di sekitar lingkunganmu,
lalu kemudian kau berkaca diri,
dihadapan orang-orang itu,
kau akan merasa bertanggung jawab,
dengan apa yang dilakukannya setiap hari,
karena jalan hidup yang dilaluinya,
adalah berbeda dengan apa,
yang harus ditentukan orang lain.
Bila harga dirimu telah di tanganmu,
maka ilusi menjadi kenyataan.
MiRa - Amsterdam, 1 Agustus 2010
Monday, July 26, 2010
[Haiku] Zomerfestival
In de zomertijd
De volle maan wordt gezweet
Bij Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Festival Musim Panas
Di musim panas
Bulan purnama berkeringat
Ketika Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
De volle maan wordt gezweet
Bij Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Festival Musim Panas
Di musim panas
Bulan purnama berkeringat
Ketika Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Kabinet formatie
Na verkiezingsfeest
Het klok draaiende zonder eind
Op het toneelspel
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Kabinet Formasi
Setelah pemilihan partai
Arah putaran jam tanpa henti
Di permainan teater
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
Het klok draaiende zonder eind
Op het toneelspel
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Kabinet Formasi
Setelah pemilihan partai
Arah putaran jam tanpa henti
Di permainan teater
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
Sunday, July 25, 2010
[Haibun] Absurditas
Di atas pohon
Burung camar melayang
Hati gelisah
Aku berdiri di sini, pada titik pandang yang tinggi di bawah langit biru, terbayang ingatan bencana kehidupan akibat hempasan gelombang korupsi, bagaikan besarnya gelombang laut menggulung daratan bumi pertiwi, yang membumi hangus sumber daya manusia, mengerikan peristiwa musibah itu, seakan-akan seperti penguasa jagat alam sedang murka, ataukah berduka pada alam ciptanya dalam kehidupan tanpa daya?
Peradabannya
Kehidupan sosial
Kaya dan miskin
Ada satu hal
Pertaruhan hidupnya
Tidak bermakna
Ah..pandangan dunia tentang jiwa nasionalisme dan patriotisme telah dianggap usang, ataukah menyerah pada paradigma perubahan? Ada yang mengingatkan bahwa ketinggian dimensi kesadaran manusia telah dieliminasi.
Di sepanjang garis rencana,
antara penghubung sumbu penyulut api,
menunjukkan bagaimana rentannya luka lama,
jejak semangat kemerdekaan dan berdikari,
tak lagi seperti hamparan padang ilalang,
yang tanpa mengenal lelah melambai dengan,
beraneka warna bunga yang tumbuh, serta
tak pernah mengenal kegersangan, ketegaran
menuai nilai bibit ketabahan melawan cobaan hidup.
Ingatan masa lalu, mencatat sisi lipatan,
mengikuti sepanjang barisan kumpulan kata,
yang bernada irama nafas sehamparan ilalang,
betapa kuatnya nilai kebersamaan,
menggapai asa dan manfaat bersama,
Di saat ini,
kepastian hidupnya
Rakus materi
Hidup tanpa kemudi
Dirinya dinistakan
MiRa - Amsterdam, 24 Juli 2010
Burung camar melayang
Hati gelisah
Aku berdiri di sini, pada titik pandang yang tinggi di bawah langit biru, terbayang ingatan bencana kehidupan akibat hempasan gelombang korupsi, bagaikan besarnya gelombang laut menggulung daratan bumi pertiwi, yang membumi hangus sumber daya manusia, mengerikan peristiwa musibah itu, seakan-akan seperti penguasa jagat alam sedang murka, ataukah berduka pada alam ciptanya dalam kehidupan tanpa daya?
Peradabannya
Kehidupan sosial
Kaya dan miskin
Ada satu hal
Pertaruhan hidupnya
Tidak bermakna
Ah..pandangan dunia tentang jiwa nasionalisme dan patriotisme telah dianggap usang, ataukah menyerah pada paradigma perubahan? Ada yang mengingatkan bahwa ketinggian dimensi kesadaran manusia telah dieliminasi.
Di sepanjang garis rencana,
antara penghubung sumbu penyulut api,
menunjukkan bagaimana rentannya luka lama,
jejak semangat kemerdekaan dan berdikari,
tak lagi seperti hamparan padang ilalang,
yang tanpa mengenal lelah melambai dengan,
beraneka warna bunga yang tumbuh, serta
tak pernah mengenal kegersangan, ketegaran
menuai nilai bibit ketabahan melawan cobaan hidup.
Ingatan masa lalu, mencatat sisi lipatan,
mengikuti sepanjang barisan kumpulan kata,
yang bernada irama nafas sehamparan ilalang,
betapa kuatnya nilai kebersamaan,
menggapai asa dan manfaat bersama,
Di saat ini,
kepastian hidupnya
Rakus materi
Hidup tanpa kemudi
Dirinya dinistakan
MiRa - Amsterdam, 24 Juli 2010
Thursday, July 22, 2010
[Haiku] Paradoksal
Monday, July 19, 2010
[Tanka] Harapan
Sebutir pasir
Dihempas ombak, jauh
Sampai pesisir
Yang telah dilalui
Akan terbawa serta
Di hulu sungai
Pernah mengalir jernih
Tetesan air
Ada harapan baru
Di seberang lautan
Kumpulan bintang
Membentang sinar binar
Di langit gelap
Tak mungkin tergapai
Mimpi mentari cerah
MiRa - Amsterdam, 19 Juli 2010
Dihempas ombak, jauh
Sampai pesisir
Yang telah dilalui
Akan terbawa serta
Di hulu sungai
Pernah mengalir jernih
Tetesan air
Ada harapan baru
Di seberang lautan
Kumpulan bintang
Membentang sinar binar
Di langit gelap
Tak mungkin tergapai
Mimpi mentari cerah
MiRa - Amsterdam, 19 Juli 2010
Friday, July 16, 2010
[Haibun] Pesan Terakhir
Di kekosongan
Masuk akal pikiran
Bersarat makna
Putih sabar menunggu
Biarkan tinta kering
Saling memandang
Mata berbinar jalang
Kesengsaraan
Genggamlah tanganmu, bersama
dalam aliran darah kita,
untuk menggugat keberanian,
membebaskan penderitaan,
keadilan harus ditegakkan.
Walaupun angin topan,
menembus rasa duka lara,
jiwa semangatmu tak akan punah.
Ah..ku pikir, kau merasa,
Semuanya benar-benar nyata.
Ataukah hanya mimpi,
yang dihimpit cermin diri,
dari masa lalunya
Dalam hidupnya
Yang tidak tampak
Menjadi fakta
Di bumi pertiwi,
kekayaan alammu,
terkuras habis,
air jernih,
menjadi,
keruh.
Langit memerah
Matahari merona
Berbunga api
Pesan terakhir
Mengarah jejak langkah
Untuk mendatang
Musim silih berganti
Anak zaman menantang
MiRa - Amsterdam, 15 Juli 2010
Masuk akal pikiran
Bersarat makna
Putih sabar menunggu
Biarkan tinta kering
Saling memandang
Mata berbinar jalang
Kesengsaraan
Genggamlah tanganmu, bersama
dalam aliran darah kita,
untuk menggugat keberanian,
membebaskan penderitaan,
keadilan harus ditegakkan.
Walaupun angin topan,
menembus rasa duka lara,
jiwa semangatmu tak akan punah.
Ah..ku pikir, kau merasa,
Semuanya benar-benar nyata.
Ataukah hanya mimpi,
yang dihimpit cermin diri,
dari masa lalunya
Dalam hidupnya
Yang tidak tampak
Menjadi fakta
Di bumi pertiwi,
kekayaan alammu,
terkuras habis,
air jernih,
menjadi,
keruh.
Langit memerah
Matahari merona
Berbunga api
Pesan terakhir
Mengarah jejak langkah
Untuk mendatang
Musim silih berganti
Anak zaman menantang
MiRa - Amsterdam, 15 Juli 2010
Sunday, July 11, 2010
[Haibun] Warga Negara
Bangkit, lihatlah
Kekayaan alammu
Berlimpah ruah
Sumber aneka ragam
Berlumur limbah nista
Engkau, yang mulia,
penentu arah jalan air sungai mengalir,
penjelajah sumber air jernih,
yang kemudian menjamah sumber daya alam,
sebagai kekayaan bangsamu,
namun tangan-tangan kotormu,
menodai kesuburan alam fana,
dizinah dan dijarah isi perut bumi pertiwi,
tanpa jiwa prikemanusiaan.
Di tempat ini,
tanah airmu tak lagi punya belantara,
laut melepas pantai, erosi
jiwa kehidupan rakyatmu,
mengering, kurus kerontang,
Ingatkah kau, yang mulia,
Sejarah kemerdekaan,
diperjuangkan untuk semua,
bangsa dan negara dibangun,
dengan darah juang rakyatmu,
membangkitkan berlawan,
berpijak anti penindasan
Kini hak-hak keadilan dikhianati,
baja bergolak dalam arena rebut kuasa,
di bawah ancaman moncong senjatamu,
Konstitusi dibuat,
tidak menegaskan tentang hak sipil,
dirintis dalam kumpulan individu,
memimpikan tanah garapan,
menjadi lahan korupsi,
demi menjamin kesejahteraan koruptor.
Lintasan pegunungan yang menjulang megah,
sumber daya alam berkubang nista dosa,
penguasa daya guna mencincang lumat jiwa dan raga wargamu,
susunan kata-kata terukir selama 45 tahun,
bertinta lumuran darah, yang
mencatat cerita dusta niscaya,
nyatanya rakyatmu terkubur,
dalam timbunan waktu usia uzur,
rentan tenaga kerjanya, lalu
menjadi korban perdagangan orang,
demi penikmat jiwa durjana.
Ah..bukankah Negara ini bagaikan sebuah taman bunga,
kita semua bunga yang berbeda warna, dan
memiliki kekuatan jati dirinya,
untuk merintis kehidupan mandiri,
yang setara, adil dan makmur.
Warga negara
Berdamai dengan alam
Sepanjang musim
Biarlah bunga mekar
Indah merekah harum
MiRa - Amsterdam, 10 Juli 2010
Kekayaan alammu
Berlimpah ruah
Sumber aneka ragam
Berlumur limbah nista
Engkau, yang mulia,
penentu arah jalan air sungai mengalir,
penjelajah sumber air jernih,
yang kemudian menjamah sumber daya alam,
sebagai kekayaan bangsamu,
namun tangan-tangan kotormu,
menodai kesuburan alam fana,
dizinah dan dijarah isi perut bumi pertiwi,
tanpa jiwa prikemanusiaan.
Di tempat ini,
tanah airmu tak lagi punya belantara,
laut melepas pantai, erosi
jiwa kehidupan rakyatmu,
mengering, kurus kerontang,
Ingatkah kau, yang mulia,
Sejarah kemerdekaan,
diperjuangkan untuk semua,
bangsa dan negara dibangun,
dengan darah juang rakyatmu,
membangkitkan berlawan,
berpijak anti penindasan
Kini hak-hak keadilan dikhianati,
baja bergolak dalam arena rebut kuasa,
di bawah ancaman moncong senjatamu,
Konstitusi dibuat,
tidak menegaskan tentang hak sipil,
dirintis dalam kumpulan individu,
memimpikan tanah garapan,
menjadi lahan korupsi,
demi menjamin kesejahteraan koruptor.
Lintasan pegunungan yang menjulang megah,
sumber daya alam berkubang nista dosa,
penguasa daya guna mencincang lumat jiwa dan raga wargamu,
susunan kata-kata terukir selama 45 tahun,
bertinta lumuran darah, yang
mencatat cerita dusta niscaya,
nyatanya rakyatmu terkubur,
dalam timbunan waktu usia uzur,
rentan tenaga kerjanya, lalu
menjadi korban perdagangan orang,
demi penikmat jiwa durjana.
Ah..bukankah Negara ini bagaikan sebuah taman bunga,
kita semua bunga yang berbeda warna, dan
memiliki kekuatan jati dirinya,
untuk merintis kehidupan mandiri,
yang setara, adil dan makmur.
Warga negara
Berdamai dengan alam
Sepanjang musim
Biarlah bunga mekar
Indah merekah harum
MiRa - Amsterdam, 10 Juli 2010
Thursday, July 8, 2010
[Haiku] Pencerahan
(1)
Langit membiru
Mata masih terjaga
Burung berkicau
(2)
Berbagi payung
Samping kantor polisi
Pesta prasmanan
(3)
Di teras kaca
Hening bersama Bunda
Angin semilir
(4)
Menuju rumah
Di simpang jalan rawa
Kodok menyapa
(5)
Di atas metro
Sepanjang kabel listrik
Burung berbaris
MiRa - Amsterdam, 27 Juni 2010
Langit membiru
Mata masih terjaga
Burung berkicau
(2)
Berbagi payung
Samping kantor polisi
Pesta prasmanan
(3)
Di teras kaca
Hening bersama Bunda
Angin semilir
(4)
Menuju rumah
Di simpang jalan rawa
Kodok menyapa
(5)
Di atas metro
Sepanjang kabel listrik
Burung berbaris
MiRa - Amsterdam, 27 Juni 2010
Monday, July 5, 2010
[Haibun] Di Pasar Bebas
Pintu pasar bebas sistim ekonomi kapitalisme semakin terbuka lebar, arus badai produk import mengalir deras, meluber tak tertanggulangi di Ibu pertiwi, bagaikan air bah yang meluap liar, menerjang garang dan mengganas melibas produk lahan sektor dalam negeri.
Di pasar bebas
Ekonomi liberal
Buruh di pecat
Sumber alam dikuras
Tergantung barang impor
Aah...kehidupan sosial ekonomi liberalisasi, nyatanya di dukung dan ditunjang oleh sistim pemerintah paska Orde Baru, peran individu dan mekanisme pasar telah mendominasi kekuatan penawaran dan permintaan barang konsumsi impor, dengan harga dijajakan lebih murah dari pada barang barang produk dalam negeri, memproses kehancuran usaha sektor industri padat karya.
Kalah bersaing
Yang dari pengusaha
Jadi pedagang
Diperdagangkan
Semuanya dijarah
Broker politik
Pemecatan kerja, pengangguran yang kehilangan sumber mata pencahariannya, telah merubah nasib rakyat semakin terjerumus dalam jurang kemiskinan dan ketidakberdayaan, bahkan harga kebutuhan bahan pokok, menghimpit roda kehidupan masyarakat pengangguran dan miskin, lalu sampai kapankah berakhir?
Mulia dan megah,
Hidup pengabdi uang
Membungkuk damai
Eksploitasi
Dari barat ke timur
Dikhianati
Bebaskan jiwa budak!
Kemenangan direbut
MiRa - Amsterdam, 5 Juli 2010
Di pasar bebas
Ekonomi liberal
Buruh di pecat
Sumber alam dikuras
Tergantung barang impor
Aah...kehidupan sosial ekonomi liberalisasi, nyatanya di dukung dan ditunjang oleh sistim pemerintah paska Orde Baru, peran individu dan mekanisme pasar telah mendominasi kekuatan penawaran dan permintaan barang konsumsi impor, dengan harga dijajakan lebih murah dari pada barang barang produk dalam negeri, memproses kehancuran usaha sektor industri padat karya.
Kalah bersaing
Yang dari pengusaha
Jadi pedagang
Diperdagangkan
Semuanya dijarah
Broker politik
Pemecatan kerja, pengangguran yang kehilangan sumber mata pencahariannya, telah merubah nasib rakyat semakin terjerumus dalam jurang kemiskinan dan ketidakberdayaan, bahkan harga kebutuhan bahan pokok, menghimpit roda kehidupan masyarakat pengangguran dan miskin, lalu sampai kapankah berakhir?
Mulia dan megah,
Hidup pengabdi uang
Membungkuk damai
Eksploitasi
Dari barat ke timur
Dikhianati
Bebaskan jiwa budak!
Kemenangan direbut
MiRa - Amsterdam, 5 Juli 2010
Saturday, July 3, 2010
[Haibun] Imigrasi
Rembulan di senja hari, Amstelkade - 25 Mai 2010Di balik cadar
Mulutnya komat-kamit
Begitu pucat
Hidangan makan malam
Berisi kepedihan
Ah.. kisah pahit
Tak ada yang peduli
Dan dilupakan
Beranjak dari duduk
Dia terhuyung-huyung.
Di hari kerja
Menuai kebencian
Terjerat krisis
Kemiskinan membukit
Kesenjangan sosial
Kelahiran imigran diperbudak!
Uang dan kekuasaan menjadi bencana kejahatan manusia
Keindahan sayap kupu-kupu dicukur,
terkubur dalam usia kepompong.
Orang kaya tidak membayar tenaga kerja kita
Bunga uangpun hasil rampasan kekayaan alam,
yang dimiliki nenek moyang kita.
Kelaparan waktu tak pernah mati
Awan kelabu
Menyelimuti bulan
Di kegelapan
Tenang, menyapa aneh
: "Jangan berdiri di angin!"
Hatinya surut
Memori matahari,
Mengalir kering
Keheningan membisu
Waktu mengalahkan kita.
Keberuntungan,
sistim kapitalisme
Jiwa apatis
Lintasan kehidupan
Menggali kuburannya
Bercermin diri
Kecemasan menggumpal
Miskin dan hina
Musim silih berganti
Ada saat melawan!
MiRa - Amsterdam, 20 Juni 2010
Haibun buat Mawie Ananta Jonie

Kita berkumpul
Suasana bersama
Di Hari ini
Kehangatan musim semi di Almere, tercipta rangkaian bunga kehidupan, menjalin citra kenangan perjalanan panjang sampai usia kini, perputaran jarum jam, berdetak tanpa henti, dari pondok Melati menebar bibit jiwa kemanusiaan, bersemi menyambut kuncup bunga bermekaran, takjub, memberi lebih kaya warna pada dimensi kehidupan baru, meniti generasi anak dan cucu.
Dari kampung halaman
Kehadirannya
Telah dilaluinya
Menukik tapak jejak
Semangat perjuangan
Perjalanannya
Proses alamiahnya
Silih berganti
Ingatan masa lalu
Mengusik cita rasa
Bersama puisi, bercermin pada makna hidupnya, merintis sampai tunas kecil, tumbuh dan subur di taman rumah penyair Mawi Ananta Jonie, selamat Ulang tahun ke 70!
MiRa - Amsterdam, 5 Juni 2010
Catatan:
Puisi ini adalah salah satu karya, dibacakan pada acara pesta Ulang tahun Penyair Mawie Ananta Jonie ke 70 tahun, di Almere, tgl 5 Juni 2010
[Haibun] Amnesia Lumpur Beracun
Berkontradiksi
Perubahan ilusi
Nihil logika
Struktur ribet
Bencana lumpur panas
Tanpa solusi
Aah..akibat jalur berpikir dipersimpangan jalan, dirintis arus komunikasi error, maka sistim perubahan menapak pada jejak keputusan berpihak, mengatas namakan untuk kebenaran, keadilan dan hak Azasi Manusia, nyatanya politik elit menjadi wadah anjang rebutan rezeki penjualan kesengsaraan rakyatnya.
Tipu muslihat
Persepsi anomali
Berkedok bisnis
Saling berkepentingan
Buta mata hatinya
Melawan penindasan, menepis daya ingatan budaya kesadaran kolektif, kebangkitan semangat persatuan dan kesatuan demi mempertahankan kemerdekaan jati diri bangsa, untuk perjuangan keadilan sosial seperti mengalami amnesia bernuansa hampa udara, dirasakan hanyalah saling menyakiti dan melukai antar saudara setanah air.
Penetrasi kapital
Gas bumi murka
Dosanya penguasa
Integrasi korupsi
Budaya kebatilan
Kaya dan miskin
Ketidaksetaraan
Diperjuangkan
Pergolakan sosial
Cermin kemandirian
MiRa - Amsterdam, 2 Juni 2010
Perubahan ilusi
Nihil logika
Struktur ribet
Bencana lumpur panas
Tanpa solusi
Aah..akibat jalur berpikir dipersimpangan jalan, dirintis arus komunikasi error, maka sistim perubahan menapak pada jejak keputusan berpihak, mengatas namakan untuk kebenaran, keadilan dan hak Azasi Manusia, nyatanya politik elit menjadi wadah anjang rebutan rezeki penjualan kesengsaraan rakyatnya.
Tipu muslihat
Persepsi anomali
Berkedok bisnis
Saling berkepentingan
Buta mata hatinya
Melawan penindasan, menepis daya ingatan budaya kesadaran kolektif, kebangkitan semangat persatuan dan kesatuan demi mempertahankan kemerdekaan jati diri bangsa, untuk perjuangan keadilan sosial seperti mengalami amnesia bernuansa hampa udara, dirasakan hanyalah saling menyakiti dan melukai antar saudara setanah air.
Penetrasi kapital
Gas bumi murka
Dosanya penguasa
Integrasi korupsi
Budaya kebatilan
Kaya dan miskin
Ketidaksetaraan
Diperjuangkan
Pergolakan sosial
Cermin kemandirian
MiRa - Amsterdam, 2 Juni 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)