Kabut berawan
Jangkrik memekik resah
Duka mencekam
Di tepi kali
Mengalir kebencian
Jiwa tersihir
Rintihan tangis
Suasana kemelut
Titisan peluh
Desa dan kota
Riwayat yang berlawan
Retak berkeping
Gelap gulita
Bunga mawar mengering
Tak rasa cinta
Daya ingatan
Tragedi manusia
Menuntut adil
MiRa - Amsterdam, 24 September 2010
Saturday, September 25, 2010
Tuesday, September 21, 2010
[Haiku] Musim Gugur
Tanah membukit
Berkarpet daun kuning
Pohon telanjang
Serasa miris
Angin dingin berhembus
Di tengah malam
Bulan purnama
Menyapa musim gugur
Selamat datang!
MiRa - E. Samsonstraat, 21 September 2010
Berkarpet daun kuning
Pohon telanjang
Serasa miris
Angin dingin berhembus
Di tengah malam
Bulan purnama
Menyapa musim gugur
Selamat datang!
MiRa - E. Samsonstraat, 21 September 2010
Sunday, September 19, 2010
[Esai] Jendral Kejam dari Belanda
Pada hari Sabtu nan cerah mentari seakan tak enggan memancarkan sinarnya, saát itu kusempatkan waktu bersepeda melewati daerah Amsterdam Oud Zuid, untuk menuju Vondelpark. Kali ini aku bersepeda menelusuri Apollolaan arah Olympiaplein, yang kemudian melintasi jalan pintas ke gedung sekolah Lyseum.
Bersepeda di rute jalan Apollolaan terasa lebih adem karena pada sisi kiri-kanan jalan ditumbuhi tanaman pohon-pohon besar dan berdaun rindang . Bila melalui jalan tersebut terkesan gelap dan kusam tapi nyaman rasanya terlindung dari sengatan teriknya matahari di musim panas. Disepanjang jalan Apollolaan itu pula berjejer bangunan rumah mewah model villa dari peninggalan zaman keemasan kolonial Belanda.
Sesampainya aku di sekitar Olympiaplein, tiba-tiba aku dikejutkan oleh semacam bentuk pandangan lain dari biasanya yang tak pernah kutemui sebelumnya. Persis di depan gedung sekolah Lyseum, terlihat ada sebuah patung tinggi semampai sosok wanita Belanda, seperti memakai gaun kebaya Jawa, tercermin ekspresi bangga di raut wajahnya dengan “peran Legislatif” di tangannya. Menurut keterangan seseorang bersama anjingnya, yang kebetulan sedang berada di tempat lokasi yang sama, mengatakan bahwa patung itu disimbolkan sebagai personifikasi kekuasaan pemerintahan Belanda di zaman penjajahan Hindia Belanda.
Patung wanita jangkung setinggi hampir empat setengah meter itu, berdiri pada alas yang disamping kiri dan kanannya terukir gambar yang katanya melambangkan Amsterdam dan Batavia. Ke dua kakinya dengan diapit oleh dua singa, oleh kalangan rakyat yang menghujat pendirian Monumen tersebut sampai saát ini, menyebutnya “Perawan Belanda dengan Anjingnya”.
Dinding dan dasar kolam juga merupakan bagian dari monumen. Di depan patung perempuan jangkung itu ada kolam air besar, yang di simbolkan sebagai pemisahan antara Indonesia dan Belanda. Lokasi monumen seluas 18, 5 meter itu dilatarbelakangi oleh dua dinding yang mengapit patung perempuan itu, dihiasi dengan gambar-gambar plakat ukiran yang menunjukkan lambang kepulauan Indonesia.
Maka, barulah kuketahui serta kumengerti makna dari monumen itu, yang kuanggap penuh dengan peristiwa misteri, dan kurasakan seketika menjadi merinding, tercermin seperti suasana lengang dan hening karena serasa begitu mencekam dan berduka buatku hadir di sekitar monumen tersebut.
Di tempat inilah rupanya yang disebut monumen van Heutsz, Yang menurut cerita sejarahnya sejak tahun 1930, katanya, menjadi bangunan kontroversia. Bahkan selama bertahun-tahun telah sering pula menjadi sasaran tempat protes aksi, bagi penentang dan menghujat peranan sosok komandan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL, Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger) wilayah Aceh, yang dikenal kejam selama periode perang kolonial.
KONTROVESIAL
J.B. van Heutsz (1851 - 1924), dikenal oleh rakyat Belanda sebagai sosok komandan militer. Pada tahun 1873, di usia 22 tahun ia di kirim oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk tujuan penyerangan operasi militer, yang secara kekerasan dengan melakukan pembunuhan massal di Aceh dan sekitar Sumatra Timur.
Dengan kematian Van Heutsz di Swiss tahun 1924, lalu para pengagumnya mengumpulkan dana dalam jumlah besar, selain untuk biaya pemakaman, juga akan dibangun sebuah monumen peringatan van Heutsz di tempat lain tapi di kota yang sama, Amsterdam. Pada tahun 1930 monumen tersebut dibangun dengan mendapat ijin dari pemda Amsterdam, akan tetapi pelaksanaan proyek monumen sudah menimbulkan reaksi pro dan kontra.
Ada pendapat umum menyebutnya tidak pantas untuk dibangun Monumen Peringatan Van Heutsz yang seharusnya bertanggung jawab atas sekitar 70.000 kematian penduduk di Aceh. Bahkan, proses pembangunannya sempat mengalami penundaan waktu sampai 5 tahun, ini disebabkan antara lain oleh aksi pemogokan pekerja yang bekerja pada proyek pembangunan Monumen tersebut.
Ada pula pendapat lain dari yang pro pembangunan monumen tersebut, dengan ditampilkan sebuah plakat, yang pernyataannya dilihat dari gagasan kontemporer tentang masa kolonial. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah nama monumen. Tujuan ini dinyatakan dapat dilakukan, misalnya, harus menyatakan kelahiran dan kematian Jenderal Van Heutsz dan tindakannya di atas prasasti.
Pematung “Perempuan Jangkung” Frits van Hall (1899-1945), yang pula dikenal seorang Komunis dan pejuang Belanda dimasa pendudukan rejim Fasisme-Hitler, juga dianggap sebagai sosok peran yang menimbulkan reaksi pro dan kontra.
Ia sebagai pemenang bersama arsitek Gijsbert Friedhoff dalam kontes perancang pembuatan monumen van Heutsz, itupun oleh sebagian besar kawan-kawan alumni seperjuangannya zaman pendudukan rejim Fasis-Hitler, dianggap aneh atas keikutsertaan van Hall dalam pembuatan monumen van Heutsz di awal tahun 1930.
Di balik itu semua, keikutsertaan sang pematung van Hall dalam merancang monumen van Heutsz, ternyata dilatar belakangi oleh pengaruh sejarah kehidupan van Hall pribadi yang lahir di Yogyakarta, dan sejak masa kecil sampai usia 10 tahun bermukim di Hindia Belanda. Namun apakah alasan latar belakang sejarah hidup pribadinya bisa meyakinkan keraguan penilaian kawan2 seperjuangannya itu, biarpun ia pernah mengatakan pada koleganya bernama Jan Meefout bahwa plakat ukiran nama “J.B. van Heutsz” di mendatang bisa dihapus, lalu diganti dengan kata-kata “Pembebasan”, atau “Indonesia Merdeka”, sehingga gambar van Heutsz akan memiliki makna pengertian “Pembebasan”.
Tahun 1984 plakat berukir nama “J.B. van Heutsz” tersebut dicuri, dan kemudian ditemukan kembali tanpa ada huruf-huruf nama van Heutsz. Pada tahun yang sama ada pula serangan bom di monumen tersebut, kali ini dilakukan oleh kelompok Koetoh Reh (Nama sebuah kamp ketika tahun 1904 hukuman pidana Belanda dibantai).
Sebelumnya, Pada tanggal 10 Maret 1967 patung singa di sisi kanan rusak akibat serangan bom, yang dilakukan oleh club’s pasifis dari Pemuda Sosialis. Aksi serangan tesebut dimaksudkan untuk menggagalkan pernikahan Putri Beatrix dan Claus von Amsberg.
Buat bangsa kita yang sejak tahun 1945 telah memproklamasikan Merdeka dari Penjajahan Belanda, tak mungkin bisa melupakan catatan riwayat sejarah berdarah peristiwa kejahatan kemanusiaan, yang di pimpin oleh Letnan Jenderal sebagai komandan militer KNIL, bernama J.B. van Heutsz.
Dan, masih banyak lagi peristiwa berdarah lainnya yang tak mungkin bisa disebutkan kejadiannya semasa usia 350 tahun penjajahan Belanda. Ini merupakan pengalaman terpahit bagi saudara setanah air, bagi yang mengalaminya dalam perjalanan sejarah hidupnya, dengan penuh pengorbanan dirinya berjuang demi kemerdekaan bangsa dan rakyat Indoneia.
Begitu pula dengan pengalaman pahit pada paska kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan 45 tahun peristiwa sejarah berdarah 1965/1966 telah diambang pintu. Ratusan ribu umat manusia, mengalami kematian massal, yang sampai saát ini tidak bisa dibuktikan secara data fakta tentang siapa menjadi korban kemanusiaan maupun siapa sebagai dalang pelaku pembunuhan. Kapan Pemerintah Negara Republik Indonesia mengakui peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965/ 1966 sebagai Kebenaran Sejarah Pembunuhan massal.
MiRa - Amsterdam, 19 September 2010
Friday, September 17, 2010
[Tanka] Musim gugur
Monday, September 13, 2010
[Haiku] Kamar Beton
Bumi berputar
Pembakaran Ingatan
Tanpa berakhir
Darah menetes
Setiap kamar beton
Gelap dan dingin
Cahaya lilin
Di langit musim gugur
Mencari bulan
Dalam catatan
Menuntut kebenaran
Bicara adil
Jengah menanti
Pada usia senja
Berdukacita
MiRa - Amsterdam, 13 September 2010
Pembakaran Ingatan
Tanpa berakhir
Darah menetes
Setiap kamar beton
Gelap dan dingin
Cahaya lilin
Di langit musim gugur
Mencari bulan
Dalam catatan
Menuntut kebenaran
Bicara adil
Jengah menanti
Pada usia senja
Berdukacita
MiRa - Amsterdam, 13 September 2010
Saturday, September 4, 2010
[Haibun] Kenangan Musim Gugur
Bulan separuh
Indah dikegelapan
Menghias langit
Cahaya remang
Dari tirai jendela
Mengusik malam
Teringat wajah
Dalam rangkuman foto
Suka dan duka
Ada rekaman ingatan abad lalu, peluh riuh mencekam malam, diterjemahkan begitu banyak kesan pahit dan manisnya kehidupan. Peristiwa kumpulan cerita gambar-gambar foto lama itu, belum pula dikukuhkan susunan urutan kejadiannya, yang mengisyaratkan kesaksian dan data fakta pada cabang-cabang kenangan kelabu, dalam duka kesedihan, merambah luka nanah di sepanjang sungai wilayah pegunungan nusantara.
Air mengalir
Jernih berubah keruh
Kerana ranah
Kenangan peristiwa mendalur ulang tragedi kemanusiaan , menyertai hadirnya kembali sosok-sosok ikon tanpa wajah dari sisi tempat lain, menapak jalan dengan memproyeksikan pengalaman masa lalu menuju ke masa depan, dalam jejak langkah arah yang tak bisa ditentukan.
Satu masa terlewati,
dari rasio tak terhitung,
pada lembaran halaman kematian,
nama terdaftar di atas meja hijau,
diserahkan ke tangan bersarung tangan.
Neraka diciptakan untuk kegagalan mahligai,
Kehidupan sosial abad ini dalam kemiskinan batin.
Bayangan diri
Di muka cermin kaca
Gema rintihan
Peristiwa misteri
Kenangan musim gugur
Lupa ingatan yang telah terjadi pada peristiwa itu,
kini makna hidup terbakar, kenangan lama dimusnahkan,
mungkin ingatan dihilangkan demi gairah memburu materi,
ketidakberdayaan dirintis tanpa memiliki nilai harga diri,
sampai saat ini tanah Ibu Pertiwi dipersembahkan pada orang asing,
dengan melalui lintasan korupsi, kolusi dan nepotisme,
mendekap daratan sumber daya kekayaan alam,
yang menebar jera sumber daya manusia,
eksistensi menjadi tahanan dirinya di tanah air sendiri,
orang tua dan anaknya menggantung diri di rumah kumuh,
perempuan yang belum menikah mereka siksa dan perkosa,
kebahagiaan dan kegembiraan menjadi kering dalam hati nurani,
senyuman dan tawa riang terbang melayang, terbawa angin badai,
di sepanjang rel kereta api, dan sepanjang jalan-jalan tak berujung,
telah membahayakan sumber kehidupan insani, walau untuk sesuap nasi.
Ada sesuatu dalam jiwa yang pernah meronta,
tak jera menuntut janji demi kemerdekaan diri,
rangkaian ingatan yang tertulis pena di garis tipis,
menjadi seperti samar-samar, tanpa substansi.
Dikala tinta emas terukir di atas kertas putih,
bangga dan murni merintis hidup sejahtera rakyat,
dari mereka yang tahu tentang makna berjuang.
keadilan untuk kemakmuran warga negara bangsa,
kehidupannya di isi dengan semangat jiwa api bara,
membawa tongkat estafet kebebasan nasional.
MiRa - Amsterdam, 3 September 2010
Indah dikegelapan
Menghias langit
Cahaya remang
Dari tirai jendela
Mengusik malam
Teringat wajah
Dalam rangkuman foto
Suka dan duka
Ada rekaman ingatan abad lalu, peluh riuh mencekam malam, diterjemahkan begitu banyak kesan pahit dan manisnya kehidupan. Peristiwa kumpulan cerita gambar-gambar foto lama itu, belum pula dikukuhkan susunan urutan kejadiannya, yang mengisyaratkan kesaksian dan data fakta pada cabang-cabang kenangan kelabu, dalam duka kesedihan, merambah luka nanah di sepanjang sungai wilayah pegunungan nusantara.
Air mengalir
Jernih berubah keruh
Kerana ranah
Kenangan peristiwa mendalur ulang tragedi kemanusiaan , menyertai hadirnya kembali sosok-sosok ikon tanpa wajah dari sisi tempat lain, menapak jalan dengan memproyeksikan pengalaman masa lalu menuju ke masa depan, dalam jejak langkah arah yang tak bisa ditentukan.
Satu masa terlewati,
dari rasio tak terhitung,
pada lembaran halaman kematian,
nama terdaftar di atas meja hijau,
diserahkan ke tangan bersarung tangan.
Neraka diciptakan untuk kegagalan mahligai,
Kehidupan sosial abad ini dalam kemiskinan batin.
Bayangan diri
Di muka cermin kaca
Gema rintihan
Peristiwa misteri
Kenangan musim gugur
Lupa ingatan yang telah terjadi pada peristiwa itu,
kini makna hidup terbakar, kenangan lama dimusnahkan,
mungkin ingatan dihilangkan demi gairah memburu materi,
ketidakberdayaan dirintis tanpa memiliki nilai harga diri,
sampai saat ini tanah Ibu Pertiwi dipersembahkan pada orang asing,
dengan melalui lintasan korupsi, kolusi dan nepotisme,
mendekap daratan sumber daya kekayaan alam,
yang menebar jera sumber daya manusia,
eksistensi menjadi tahanan dirinya di tanah air sendiri,
orang tua dan anaknya menggantung diri di rumah kumuh,
perempuan yang belum menikah mereka siksa dan perkosa,
kebahagiaan dan kegembiraan menjadi kering dalam hati nurani,
senyuman dan tawa riang terbang melayang, terbawa angin badai,
di sepanjang rel kereta api, dan sepanjang jalan-jalan tak berujung,
telah membahayakan sumber kehidupan insani, walau untuk sesuap nasi.
Ada sesuatu dalam jiwa yang pernah meronta,
tak jera menuntut janji demi kemerdekaan diri,
rangkaian ingatan yang tertulis pena di garis tipis,
menjadi seperti samar-samar, tanpa substansi.
Dikala tinta emas terukir di atas kertas putih,
bangga dan murni merintis hidup sejahtera rakyat,
dari mereka yang tahu tentang makna berjuang.
keadilan untuk kemakmuran warga negara bangsa,
kehidupannya di isi dengan semangat jiwa api bara,
membawa tongkat estafet kebebasan nasional.
MiRa - Amsterdam, 3 September 2010
Monday, August 30, 2010
[Haiku] Ramadan
Nuansa alam
Bumi pesona surga
Dan musim bunga
Di ambang pintu
Menanti musim gugur
Air menggenang
Bayangan gelap
Membina kearifan
Nafas terhempas
Waktu membeku
Nasib Ibu Pertiwi
Hening mencekam
Susunan kata
Meniti jalan panjang
Lintasan kilat
Sekilas hidup
Jejak hati nurani
Terjerat jiwa
Bulan ramadan
Kemiskinan menjamur
Bagai neraka
MiRa - Amsterdam, 30 Agustus 2010
Bumi pesona surga
Dan musim bunga
Di ambang pintu
Menanti musim gugur
Air menggenang
Bayangan gelap
Membina kearifan
Nafas terhempas
Waktu membeku
Nasib Ibu Pertiwi
Hening mencekam
Susunan kata
Meniti jalan panjang
Lintasan kilat
Sekilas hidup
Jejak hati nurani
Terjerat jiwa
Bulan ramadan
Kemiskinan menjamur
Bagai neraka
MiRa - Amsterdam, 30 Agustus 2010
Saturday, August 28, 2010
[Haibun] Pelangi
Sehabis hujan
Menatap cakrawala
Warna pelangi
Dibawah matahari
Bercermin kehidupan
Keindahan sesaat di kaki langit, proses alamiah mengukir sketsa bentuk garis putaran setengah busur, menelusuri jejak transparansi, membias cahaya aneka warna, pada secercah sinar mentari yang menembus awan putih, seakan terbersit makna dalam karya lukisan yang memancarkan aura kebersamaan.
Penghias alam
Kecantikan sempurna
Di musim panas
Merah, oranye, kuning, dan hijau,
cermin keajaiban alam di cakrawala,
biru, lila dan ungu menghias warna,
pelangi berdurasi pendek, seperti
memberi citra warna-warni kehidupan.
Warna pelangi yang cemerlang,
riak kolam masa lalu.
Tirai berwarna
Dalam catatan inti
Sinar membusur
Setetes hidup
Di sebuah cabang cinta
Bebaskan diri
MiRa - Amsterdam, 28 Agustus 2010
Menatap cakrawala
Warna pelangi
Dibawah matahari
Bercermin kehidupan
Keindahan sesaat di kaki langit, proses alamiah mengukir sketsa bentuk garis putaran setengah busur, menelusuri jejak transparansi, membias cahaya aneka warna, pada secercah sinar mentari yang menembus awan putih, seakan terbersit makna dalam karya lukisan yang memancarkan aura kebersamaan.
Penghias alam
Kecantikan sempurna
Di musim panas
Merah, oranye, kuning, dan hijau,
cermin keajaiban alam di cakrawala,
biru, lila dan ungu menghias warna,
pelangi berdurasi pendek, seperti
memberi citra warna-warni kehidupan.
Warna pelangi yang cemerlang,
riak kolam masa lalu.
Tirai berwarna
Dalam catatan inti
Sinar membusur
Setetes hidup
Di sebuah cabang cinta
Bebaskan diri
MiRa - Amsterdam, 28 Agustus 2010
Thursday, August 26, 2010
[Haibun] Kebebasan
Ketika orang berkata, "Bicaralah pada kami tentang Kebebasan."
Ada yang menjawab: "Di setiap pintu gerbang kehidupan, aroma kesuburan dan keindahan alam, bagaikan hidangan aneka ragam makanan, sebagai pembangkit semangat selera rasa dan bergairah hidup, padahal tantangan bagi kuli dan budak untuk kebebasan diri dari rasa lapar dan dahaga, tercermin jiwanya bersujut menyembah diri serta direndahkan harga dirinya, dihadapan seorang tiran yang rakus dan licik."
Penguasa zalim
Ngerinya kehidupan
Budaya kuli
Riwayat penjajahan
Politik adu-domba
Di tempat-tempat suci, dan,
ruangan dalam bayang-bayang tembok pembatas,
terlihat seperti ada yang paling bebas,
diantara orang-orang terjerat lilitan kawat berduri.
Hati berdarah didirinya,
karena ingin bebaskan diri,
dengan memanfaatkan,
keinginan antar sesama manusia.
Berhenti bicara tentang kebebasan?
Bila semua tujuannya terpenuhi.
Yang tidak adil
Belenggu penjajahan
Terfragmentasi
Kehidupan dunia
Alam Surga-Neraka
Dalam kenyataan itu,
ikatan rantai melilit kuat,
menjerat kemiskinan diri,
yang terlihat berkilauan,
di bawah pancaran sinar matahari,
serta menyilaukan mata,
menjadi pedih dan nyeri.
Kaya dan miskin
Peraturan tirani
Hidup berspiral
Bebas dan bangga
Kemenangan ilusi
Hukumnya kebal
Akal pikiran
Jiwa kemerdekaan
Dan kebangkitan
MiRa - Amsterdam, 26 Agustus 2010
Ada yang menjawab: "Di setiap pintu gerbang kehidupan, aroma kesuburan dan keindahan alam, bagaikan hidangan aneka ragam makanan, sebagai pembangkit semangat selera rasa dan bergairah hidup, padahal tantangan bagi kuli dan budak untuk kebebasan diri dari rasa lapar dan dahaga, tercermin jiwanya bersujut menyembah diri serta direndahkan harga dirinya, dihadapan seorang tiran yang rakus dan licik."
Penguasa zalim
Ngerinya kehidupan
Budaya kuli
Riwayat penjajahan
Politik adu-domba
Di tempat-tempat suci, dan,
ruangan dalam bayang-bayang tembok pembatas,
terlihat seperti ada yang paling bebas,
diantara orang-orang terjerat lilitan kawat berduri.
Hati berdarah didirinya,
karena ingin bebaskan diri,
dengan memanfaatkan,
keinginan antar sesama manusia.
Berhenti bicara tentang kebebasan?
Bila semua tujuannya terpenuhi.
Yang tidak adil
Belenggu penjajahan
Terfragmentasi
Kehidupan dunia
Alam Surga-Neraka
Dalam kenyataan itu,
ikatan rantai melilit kuat,
menjerat kemiskinan diri,
yang terlihat berkilauan,
di bawah pancaran sinar matahari,
serta menyilaukan mata,
menjadi pedih dan nyeri.
Kaya dan miskin
Peraturan tirani
Hidup berspiral
Bebas dan bangga
Kemenangan ilusi
Hukumnya kebal
Akal pikiran
Jiwa kemerdekaan
Dan kebangkitan
MiRa - Amsterdam, 26 Agustus 2010
Sunday, August 22, 2010
[Tanka] Bulan Puasa
Penderitaan
Saat bulan puasa
Merintih lapar
Di waktu tidur nyenyak
Mimpi memburu tikus
Harapan duka
Rindu dihibur cinta
Bunga melayu
Pembaharuan sesat
Maraknya lintah darat
Daratan lelah
Wacana diperbarui
Tikus membiak
Kucing geram mengerang
Cemas, berkuku tumpul
Menatap bulan
Dalam alam pikiran
Penuh semangat
Rasa resah menderu
Naluri terbang jauh
MiRa - Amsterdam, 22 Agustus 2010
Saat bulan puasa
Merintih lapar
Di waktu tidur nyenyak
Mimpi memburu tikus
Harapan duka
Rindu dihibur cinta
Bunga melayu
Pembaharuan sesat
Maraknya lintah darat
Daratan lelah
Wacana diperbarui
Tikus membiak
Kucing geram mengerang
Cemas, berkuku tumpul
Menatap bulan
Dalam alam pikiran
Penuh semangat
Rasa resah menderu
Naluri terbang jauh
MiRa - Amsterdam, 22 Agustus 2010
Thursday, August 12, 2010
[HAIKU] Riwayat Kehidupan
Foto kenangan
Terucap penuh cinta
Dalam benaknya
Kehadirannya
Dikeheningan malam
Bersama kelam
Hujan mengetok
Kata-kata mengalir
Ke ambang pintu
Sejauh mata
Awan melangkah jauh
Tanpa suara
Menelusuri
Riwayat kehidupan
Pengais sampah
Sepanjang jalan
Angin membelai lembut
Daun berbisik
Pesan terakhir
Tak perlu disesalkan
Waktu berlalu
Ingat kembali
Bulan menyapa ramah
Bintang di langit
MiRa - Amsterdam, 12 Agustus 2010
Terucap penuh cinta
Dalam benaknya
Kehadirannya
Dikeheningan malam
Bersama kelam
Hujan mengetok
Kata-kata mengalir
Ke ambang pintu
Sejauh mata
Awan melangkah jauh
Tanpa suara
Menelusuri
Riwayat kehidupan
Pengais sampah
Sepanjang jalan
Angin membelai lembut
Daun berbisik
Pesan terakhir
Tak perlu disesalkan
Waktu berlalu
Ingat kembali
Bulan menyapa ramah
Bintang di langit
MiRa - Amsterdam, 12 Agustus 2010
Tuesday, August 10, 2010
[HAIBUN] Cermin Kemerdekaan
[HAIBUN] Cermin Kemerdekaan
: Refleksi diri buat Ibunda
Di kaki langit
Awan gelap menggantung
Tersenyum muram
Dikeheningan malam
Masa lalu mencekam
Ah..ingatan peristiwa melawan penjajahan,
massal ribuan orang, tak kenal menyerah,
medan perang menjadi lautan bara api.
Riwayat perjuangan bangsa Indonesia,
dari yang berlawan mungkin tak kembali,
darah dan jiwa raga jadi tempat kematiannya.
Pada peristiwa itu, serangan serdadu asing,
bersama bom-bom pemusnah umat manusia,
katanya, digunakan untuk perdamaian dunia,
ketika itu, tak ada yang mampu menghalanginya,
harga diri bangsanya, berkorban atau dikorbankan,
tak menjadi soal baginya, demi pembebasan rakyatnya.
Rasa senasib
Pahitnya penjajahan
Sepenanggungan
Jati dirinya, bertekad baja,
sikapnya, berwatak keras,
jiwa perlawanannya,
menjejak perjuangan,
Demi kemerdekaan.
Semua itu di dunia, tujuannya,
nasionalisme dan cinta tanah air,
patriotisme sebagai penghargaan,
persatuan dan kesatuan bangsanya.
Namun tantangan di masa kekinian,
nilai percaya diri tumbuh dalam kevakuman.
dari cermin jiwa ketegarannya, tak bermakna,
dalam citra mempertahankan dan mengisi kemerdekaan,
semangat juang tanpa tanda-tanda kehidupan kebersamaan,
ketika rakyatnya menuntut keadilan atas hak hidup sejahtera.
Roda kehidupan berorganisasi,
berpaling ke massa mengambang,
sistim hidup bernegara dan berbangsa,
berganti haluan, tak terlihat wujudnya,
terbius, seruan kemiskinan dibutatulikan.
Hal itu seperti menjadi ruang hampa udara,
tujuan kemandirian hanyalah isapan jempol,
kerakusan mengancam kekayaan alamnya,
bunga hutang negara menumpuk bukit limbah,
ilusi kemakmuran dijadikan bencana gersang,
atau mungkin ada sisi kelemahan manusia,
terlihat semakin rapuh, hati nuraninya membatu.
Tantangan hidup
Ketidakberdayaan
Tidak memudar
Dalam bayangan
Mimpi bunga di taman
Aneka warna
Jiwa semangat
Kedaulatan rakyat
Kemandirian
MiRa - Amsterdam, 10 Agustus 2010
: Refleksi diri buat Ibunda
Di kaki langit
Awan gelap menggantung
Tersenyum muram
Dikeheningan malam
Masa lalu mencekam
Ah..ingatan peristiwa melawan penjajahan,
massal ribuan orang, tak kenal menyerah,
medan perang menjadi lautan bara api.
Riwayat perjuangan bangsa Indonesia,
dari yang berlawan mungkin tak kembali,
darah dan jiwa raga jadi tempat kematiannya.
Pada peristiwa itu, serangan serdadu asing,
bersama bom-bom pemusnah umat manusia,
katanya, digunakan untuk perdamaian dunia,
ketika itu, tak ada yang mampu menghalanginya,
harga diri bangsanya, berkorban atau dikorbankan,
tak menjadi soal baginya, demi pembebasan rakyatnya.
Rasa senasib
Pahitnya penjajahan
Sepenanggungan
Jati dirinya, bertekad baja,
sikapnya, berwatak keras,
jiwa perlawanannya,
menjejak perjuangan,
Demi kemerdekaan.
Semua itu di dunia, tujuannya,
nasionalisme dan cinta tanah air,
patriotisme sebagai penghargaan,
persatuan dan kesatuan bangsanya.
Namun tantangan di masa kekinian,
nilai percaya diri tumbuh dalam kevakuman.
dari cermin jiwa ketegarannya, tak bermakna,
dalam citra mempertahankan dan mengisi kemerdekaan,
semangat juang tanpa tanda-tanda kehidupan kebersamaan,
ketika rakyatnya menuntut keadilan atas hak hidup sejahtera.
Roda kehidupan berorganisasi,
berpaling ke massa mengambang,
sistim hidup bernegara dan berbangsa,
berganti haluan, tak terlihat wujudnya,
terbius, seruan kemiskinan dibutatulikan.
Hal itu seperti menjadi ruang hampa udara,
tujuan kemandirian hanyalah isapan jempol,
kerakusan mengancam kekayaan alamnya,
bunga hutang negara menumpuk bukit limbah,
ilusi kemakmuran dijadikan bencana gersang,
atau mungkin ada sisi kelemahan manusia,
terlihat semakin rapuh, hati nuraninya membatu.
Tantangan hidup
Ketidakberdayaan
Tidak memudar
Dalam bayangan
Mimpi bunga di taman
Aneka warna
Jiwa semangat
Kedaulatan rakyat
Kemandirian
MiRa - Amsterdam, 10 Agustus 2010
Tuesday, August 3, 2010
[Haibun] Pikiran Manusia
Akar dan daun
Embun di tepi sungai
Berubah sejuk
Pikiran manusia
Mimpi dikegelapan
Ada yang mengatakan,
menggunakan tenaga kerja,
dari kekuatan daya tahannya,
tak ada yang bisa dibanggakan,
karena kecerdasan manusia, diukur,
kemampuan berpikir ilmu pengetahuan,
yang tidak perlu memahami semua isinya,
tentang kebenaran hakekat kehidupan manusia.
Lalu, apakah pemikiran manusia terbatas?
atau dibatasi dengan lapisan pagar berduri,
untuk menghitung jumlah kekayaan alam dalam tanah.
Kesemuanya itu, api obor menuntut hak keadilan digelapkan,
tak ada celah cahaya bisa menerangi harapan perubahan,
bekal hidup kaum pekerja untuk esok hari adalah tantangan.
Tenaga padat karya
dengan disiplin kerjanya
kebutuhan hidup minimal
tanpa ada daya beli
bahu rapuh memandu duka
beban berat masa derita
siapa menanggung?
Massa kosumsi
Tak butuh jadi penting
Di pasar bebas
Kepentingan diuji
Hasilnya tak dilacak
Api membara
Dalam sekejap mata
Ilusi padam
Ada cahaya palsu menyebar bias
dalam kegelapan, jejaknya tak diketahui
hidangan makan sepiring nasi
jiwa rakus, berselera racun
MiRa - Amsterdam, 3 Agustus 2010
Embun di tepi sungai
Berubah sejuk
Pikiran manusia
Mimpi dikegelapan
Ada yang mengatakan,
menggunakan tenaga kerja,
dari kekuatan daya tahannya,
tak ada yang bisa dibanggakan,
karena kecerdasan manusia, diukur,
kemampuan berpikir ilmu pengetahuan,
yang tidak perlu memahami semua isinya,
tentang kebenaran hakekat kehidupan manusia.
Lalu, apakah pemikiran manusia terbatas?
atau dibatasi dengan lapisan pagar berduri,
untuk menghitung jumlah kekayaan alam dalam tanah.
Kesemuanya itu, api obor menuntut hak keadilan digelapkan,
tak ada celah cahaya bisa menerangi harapan perubahan,
bekal hidup kaum pekerja untuk esok hari adalah tantangan.
Tenaga padat karya
dengan disiplin kerjanya
kebutuhan hidup minimal
tanpa ada daya beli
bahu rapuh memandu duka
beban berat masa derita
siapa menanggung?
Massa kosumsi
Tak butuh jadi penting
Di pasar bebas
Kepentingan diuji
Hasilnya tak dilacak
Api membara
Dalam sekejap mata
Ilusi padam
Ada cahaya palsu menyebar bias
dalam kegelapan, jejaknya tak diketahui
hidangan makan sepiring nasi
jiwa rakus, berselera racun
MiRa - Amsterdam, 3 Agustus 2010
Sunday, August 1, 2010
Sepenggal Ingatan
Udara pagi begitu sejuk,
aku berdiri di stasiun kereta api,
menatap ke kejauhan, seakan-akan
masa depan sedang menanti.
Setiap orang memilih arahnya,
keinginannya, demi masa depannya,
dengan apa yang telah diputuskan,
menuju pilihan jalan hidupnya,
sampai ke akhir tujuan tempatnya.
Nyatanya, begitu banyak orang tidak bahagia,
aku masih sering mendengar mereka mengeluh,
ketidak puasan dengan nasib hidupnya,
juga berlaku bagi orang-orang di sekitar mereka,
Ah...hidup ini sangat tidak adil, dan
mereka merasa sangat sendiri.
Lihatlah di sekitar lingkunganmu,
lalu kemudian kau berkaca diri,
dihadapan orang-orang itu,
kau akan merasa bertanggung jawab,
dengan apa yang dilakukannya setiap hari,
karena jalan hidup yang dilaluinya,
adalah berbeda dengan apa,
yang harus ditentukan orang lain.
Bila harga dirimu telah di tanganmu,
maka ilusi menjadi kenyataan.
MiRa - Amsterdam, 1 Agustus 2010
aku berdiri di stasiun kereta api,
menatap ke kejauhan, seakan-akan
masa depan sedang menanti.
Setiap orang memilih arahnya,
keinginannya, demi masa depannya,
dengan apa yang telah diputuskan,
menuju pilihan jalan hidupnya,
sampai ke akhir tujuan tempatnya.
Nyatanya, begitu banyak orang tidak bahagia,
aku masih sering mendengar mereka mengeluh,
ketidak puasan dengan nasib hidupnya,
juga berlaku bagi orang-orang di sekitar mereka,
Ah...hidup ini sangat tidak adil, dan
mereka merasa sangat sendiri.
Lihatlah di sekitar lingkunganmu,
lalu kemudian kau berkaca diri,
dihadapan orang-orang itu,
kau akan merasa bertanggung jawab,
dengan apa yang dilakukannya setiap hari,
karena jalan hidup yang dilaluinya,
adalah berbeda dengan apa,
yang harus ditentukan orang lain.
Bila harga dirimu telah di tanganmu,
maka ilusi menjadi kenyataan.
MiRa - Amsterdam, 1 Agustus 2010
Monday, July 26, 2010
[Haiku] Zomerfestival
In de zomertijd
De volle maan wordt gezweet
Bij Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Festival Musim Panas
Di musim panas
Bulan purnama berkeringat
Ketika Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
De volle maan wordt gezweet
Bij Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Festival Musim Panas
Di musim panas
Bulan purnama berkeringat
Ketika Loveparade?
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Kabinet formatie
Na verkiezingsfeest
Het klok draaiende zonder eind
Op het toneelspel
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Kabinet Formasi
Setelah pemilihan partai
Arah putaran jam tanpa henti
Di permainan teater
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
Het klok draaiende zonder eind
Op het toneelspel
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
[Haiku] Kabinet Formasi
Setelah pemilihan partai
Arah putaran jam tanpa henti
Di permainan teater
MiRa - Amsterdam, 26 Juli 2010
Sunday, July 25, 2010
[Haibun] Absurditas
Di atas pohon
Burung camar melayang
Hati gelisah
Aku berdiri di sini, pada titik pandang yang tinggi di bawah langit biru, terbayang ingatan bencana kehidupan akibat hempasan gelombang korupsi, bagaikan besarnya gelombang laut menggulung daratan bumi pertiwi, yang membumi hangus sumber daya manusia, mengerikan peristiwa musibah itu, seakan-akan seperti penguasa jagat alam sedang murka, ataukah berduka pada alam ciptanya dalam kehidupan tanpa daya?
Peradabannya
Kehidupan sosial
Kaya dan miskin
Ada satu hal
Pertaruhan hidupnya
Tidak bermakna
Ah..pandangan dunia tentang jiwa nasionalisme dan patriotisme telah dianggap usang, ataukah menyerah pada paradigma perubahan? Ada yang mengingatkan bahwa ketinggian dimensi kesadaran manusia telah dieliminasi.
Di sepanjang garis rencana,
antara penghubung sumbu penyulut api,
menunjukkan bagaimana rentannya luka lama,
jejak semangat kemerdekaan dan berdikari,
tak lagi seperti hamparan padang ilalang,
yang tanpa mengenal lelah melambai dengan,
beraneka warna bunga yang tumbuh, serta
tak pernah mengenal kegersangan, ketegaran
menuai nilai bibit ketabahan melawan cobaan hidup.
Ingatan masa lalu, mencatat sisi lipatan,
mengikuti sepanjang barisan kumpulan kata,
yang bernada irama nafas sehamparan ilalang,
betapa kuatnya nilai kebersamaan,
menggapai asa dan manfaat bersama,
Di saat ini,
kepastian hidupnya
Rakus materi
Hidup tanpa kemudi
Dirinya dinistakan
MiRa - Amsterdam, 24 Juli 2010
Burung camar melayang
Hati gelisah
Aku berdiri di sini, pada titik pandang yang tinggi di bawah langit biru, terbayang ingatan bencana kehidupan akibat hempasan gelombang korupsi, bagaikan besarnya gelombang laut menggulung daratan bumi pertiwi, yang membumi hangus sumber daya manusia, mengerikan peristiwa musibah itu, seakan-akan seperti penguasa jagat alam sedang murka, ataukah berduka pada alam ciptanya dalam kehidupan tanpa daya?
Peradabannya
Kehidupan sosial
Kaya dan miskin
Ada satu hal
Pertaruhan hidupnya
Tidak bermakna
Ah..pandangan dunia tentang jiwa nasionalisme dan patriotisme telah dianggap usang, ataukah menyerah pada paradigma perubahan? Ada yang mengingatkan bahwa ketinggian dimensi kesadaran manusia telah dieliminasi.
Di sepanjang garis rencana,
antara penghubung sumbu penyulut api,
menunjukkan bagaimana rentannya luka lama,
jejak semangat kemerdekaan dan berdikari,
tak lagi seperti hamparan padang ilalang,
yang tanpa mengenal lelah melambai dengan,
beraneka warna bunga yang tumbuh, serta
tak pernah mengenal kegersangan, ketegaran
menuai nilai bibit ketabahan melawan cobaan hidup.
Ingatan masa lalu, mencatat sisi lipatan,
mengikuti sepanjang barisan kumpulan kata,
yang bernada irama nafas sehamparan ilalang,
betapa kuatnya nilai kebersamaan,
menggapai asa dan manfaat bersama,
Di saat ini,
kepastian hidupnya
Rakus materi
Hidup tanpa kemudi
Dirinya dinistakan
MiRa - Amsterdam, 24 Juli 2010
Thursday, July 22, 2010
[Haiku] Paradoksal
Monday, July 19, 2010
[Tanka] Harapan
Sebutir pasir
Dihempas ombak, jauh
Sampai pesisir
Yang telah dilalui
Akan terbawa serta
Di hulu sungai
Pernah mengalir jernih
Tetesan air
Ada harapan baru
Di seberang lautan
Kumpulan bintang
Membentang sinar binar
Di langit gelap
Tak mungkin tergapai
Mimpi mentari cerah
MiRa - Amsterdam, 19 Juli 2010
Dihempas ombak, jauh
Sampai pesisir
Yang telah dilalui
Akan terbawa serta
Di hulu sungai
Pernah mengalir jernih
Tetesan air
Ada harapan baru
Di seberang lautan
Kumpulan bintang
Membentang sinar binar
Di langit gelap
Tak mungkin tergapai
Mimpi mentari cerah
MiRa - Amsterdam, 19 Juli 2010
Friday, July 16, 2010
[Haibun] Pesan Terakhir
Di kekosongan
Masuk akal pikiran
Bersarat makna
Putih sabar menunggu
Biarkan tinta kering
Saling memandang
Mata berbinar jalang
Kesengsaraan
Genggamlah tanganmu, bersama
dalam aliran darah kita,
untuk menggugat keberanian,
membebaskan penderitaan,
keadilan harus ditegakkan.
Walaupun angin topan,
menembus rasa duka lara,
jiwa semangatmu tak akan punah.
Ah..ku pikir, kau merasa,
Semuanya benar-benar nyata.
Ataukah hanya mimpi,
yang dihimpit cermin diri,
dari masa lalunya
Dalam hidupnya
Yang tidak tampak
Menjadi fakta
Di bumi pertiwi,
kekayaan alammu,
terkuras habis,
air jernih,
menjadi,
keruh.
Langit memerah
Matahari merona
Berbunga api
Pesan terakhir
Mengarah jejak langkah
Untuk mendatang
Musim silih berganti
Anak zaman menantang
MiRa - Amsterdam, 15 Juli 2010
Masuk akal pikiran
Bersarat makna
Putih sabar menunggu
Biarkan tinta kering
Saling memandang
Mata berbinar jalang
Kesengsaraan
Genggamlah tanganmu, bersama
dalam aliran darah kita,
untuk menggugat keberanian,
membebaskan penderitaan,
keadilan harus ditegakkan.
Walaupun angin topan,
menembus rasa duka lara,
jiwa semangatmu tak akan punah.
Ah..ku pikir, kau merasa,
Semuanya benar-benar nyata.
Ataukah hanya mimpi,
yang dihimpit cermin diri,
dari masa lalunya
Dalam hidupnya
Yang tidak tampak
Menjadi fakta
Di bumi pertiwi,
kekayaan alammu,
terkuras habis,
air jernih,
menjadi,
keruh.
Langit memerah
Matahari merona
Berbunga api
Pesan terakhir
Mengarah jejak langkah
Untuk mendatang
Musim silih berganti
Anak zaman menantang
MiRa - Amsterdam, 15 Juli 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)
