[Haiku] Sembilan Satu
: Untuk Trikoyo Ramidjo
Siksa dan duka
Kawan seperjuangan
Bercerai berai
Sembilan satu
Tujuan jalan kekal
Berantai baja
Cinta sejati
Tripanjimu tak padam
Memercik api
Rumput ilalang
Langkah gegap gempita
Surya bersaksi
MiRa - Amsterdam, 23 Mei 2011
Monday, May 23, 2011
Sunday, May 1, 2011
[Haibun] Doa untuk kemenangan
[Haibun] Doa untuk kemenangan
:Hari Buruh Internasional 1 Mei 2011
Jejak melangkah
Kesadaran tertindas
Buruh berlawan
Peringatan hari buruh Internasional
selalu diingat, kita menundukkan kepala
1 Mei untuk menghormati jasa kaum buruh
Kita ingat telah kehilangan suka cita, karena
semangat kerja mereka banyak berjasa warga dunia
sebagai individu, anggota keluarga, kawan dan rekan sekerja
Kita ingat keluarga mereka yang ditinggalkan
ketika dalam sengsara, kesedihan dan berduka
Mereka meninggal di tempat kerja untuk kehidupan
lebih baik demi sisa hidup keluarga kami semua
Mereka meninggal saat membangun gedung-gedung megah,
rumah sakit dan sekolah
Mereka yang meninggal usia muda dan tak berdosa
akibat kecelakaan di pabrik, di perkebunan dan perikanan
Mereka yang meninggal dari perdagangan tenaga kerja perempuan
dan anak-anak
Semoga kita belajar memaknai hasil kerugian ini
yang disebabkan oleh mereka yang hilang ingatan
Bekerja di tempat kerja lebih nyaman adalah hak semua orang
Hak, martabat dan keadilan semua pekerja ditegakkan di atas segalanya
Menang atau kalah
Harapan bersaing bebas
Saling menindas
Semangat gotong royong
Ngelawan pasti menang!
MiRa - Amsterdam, 1 Mei 2011
Monday, April 25, 2011
[Tanka] Pewaris Bangsa
Kebersamaan
Jasa kemerdekaan
Pewaris bangsa
Kedaulatan rakyat
Terkubur jazad debu
Egosentrisme
Mendendang gembira
Di alam nista
Takabur bergejolak
Liar berburu mangsa
Sehati jiwa
Niat bernafsu tamak
Angkara rakus
Merintis cita rasa
Tak saling mengasihi
Langkah ingatan
Pusara tanpa nama
Di musim bunga
Tantangan masa kini
Menzinah kehidupan
MiRa - Westgaarde, 25 April 2011
Jasa kemerdekaan
Pewaris bangsa
Kedaulatan rakyat
Terkubur jazad debu
Egosentrisme
Mendendang gembira
Di alam nista
Takabur bergejolak
Liar berburu mangsa
Sehati jiwa
Niat bernafsu tamak
Angkara rakus
Merintis cita rasa
Tak saling mengasihi
Langkah ingatan
Pusara tanpa nama
Di musim bunga
Tantangan masa kini
Menzinah kehidupan
MiRa - Westgaarde, 25 April 2011
Sunday, April 17, 2011
[Tanka] Selera Hasrat
Gairah hidup
Akal manusia
Selera hasrat
Mengemudi gairah
Hasrat jiwa berlayar
Cara berpikir
Manipulasi akal
Tanpa batasan
Merekayasa nafsu
Menghancurkan dirinya
Jiwa bersaing
Saling menguasai
Akal dan nafsu
Sistim kapitalisme
Menggali lobang kubur
MiRa - Amsterdam, 17 April 2011
Akal manusia
Selera hasrat
Mengemudi gairah
Hasrat jiwa berlayar
Cara berpikir
Manipulasi akal
Tanpa batasan
Merekayasa nafsu
Menghancurkan dirinya
Jiwa bersaing
Saling menguasai
Akal dan nafsu
Sistim kapitalisme
Menggali lobang kubur
MiRa - Amsterdam, 17 April 2011
Tuesday, April 12, 2011
[Tanka] Bersilat Lidah
Menatap langit
Dari balik jendela
Sang surya gundah
Gerak gumpalan awan
Ke laut tak bertepi
Kumpulan burung
Terbang melayang bebas
Searah angin
Daya tipu muslihat
Mengawang tanpa batas
Di ruang sidang
Pesona wakil rakyat
Bersilat lidah
Pikiran tak bermoral
Bermimpi musim semi
MiRa - Amsterdam, 12 April 2011
Dari balik jendela
Sang surya gundah
Gerak gumpalan awan
Ke laut tak bertepi
Kumpulan burung
Terbang melayang bebas
Searah angin
Daya tipu muslihat
Mengawang tanpa batas
Di ruang sidang
Pesona wakil rakyat
Bersilat lidah
Pikiran tak bermoral
Bermimpi musim semi
MiRa - Amsterdam, 12 April 2011
Monday, April 11, 2011
[Haibun] Melati Putih

Pada saatnya
diwaktu kelahiran
Menyatu padu
Indah dan bahagia
Hari teristimewa
Cahaya mata hati
dalam kelahiran anak bangsa
tumbuh subur dan bersemi
nurani semurni hati jernih
Dari masa bersama
sampai dipisahkan
tersirat ingatan yang tersurat
Dikala suka dan duka
antara madu dan racun kehidupan
tercermin ketenangan dan ketegaran
Dalam jiwa semangat juang
melawan tantangan badai hidup
Kesabaran dan kelembutan
memercik kasih sayang
Mengusung kebahagiaan tak berujung
bagaikan mata air mengalir
dari hulu sungai ke hilir,
bermuara ke samudra
Melati putih
Menghias taman bunga
Merekah harum
Lebah membangun sarang
Bersih lahir dan batin
Bunda tercinta
Tinta mengukir syair
Merah dan putih
Selamat panjang umur
Di hari ulang tahun
MiRa - Amsterdam, 12 April 2011
Saturday, April 9, 2011
[Cerita Rakyat] Air susu dibalas dengan air tuba

Suatu kali buaya tersesat dan tidak bisa menemukan jalan ke sungai. Tak lama kemudian bertemulah buaya dengan seekor kerbau yang sedang berjalan bersama anaknya yang masih kecil. Lalu buaya menyapa dan meminta bantuan kerbau itu untuk mengantarkannya ke arah sungai.
"Mustahil," jawab kerbau, "Saya punya anak kecil yang tak bisa saya tinggalkan." Namun buaya tak henti-hentinya mengiba-iba sembari menangis memohon bantuan.
"Biarkanlah anakmu untuk sementara menunggu di sini saja, temanku tersayang", rayu sang buaya, "Aku tersesat dan tak bisa menemukan jalan ke arah sungai!"
Akhirnya kerbau merasa kasihan dan mengantarkan buaya ke sungai, ketika hampir mencapai sungai, seketika itu tiba-tiba buaya menyambar salah satu kaki kerbau, serta menariknya sampai ke ke dalam sungai.
Kerbau berteriak, "Jangan menggigit saya, buaya! saya telah membawamu dengan susah payah sampai di sini, dan sekarang kau menggigit kakiku"
"Tenang saja", kata buaya ,"Aku hanya ingin membalas kebaikanmu."
"Tunggu dulu, buaya, pertama saya ingin tanya pendapat seikat padi yang sedang mengambang di atas air."
Dan kerbau pun bertanya, "Seikat padi! Bagaimana menurutmu bila perbuatan yang baik dibalas dengan yang jahat ?" Lalu kerbau menceritakan niat baiknya mengantar buaya yang tersesat itu ke sungai.
Seikat padi menjawab: "Itu tidak jadi masalah, tidak ada perbuatan baik bisa menghapus yang jahat. Lihatlah nasibku ini: "Orang telah menumbuk saya sampai saya benar-benar hancur dan sekarang mereka membuang dan membiarkan saya hanyut di air."
Tak lama kemudian kukusan usang yang mengambang di atas air datang menghampirinya, dan memberikan pendapatnya: "Yang baik tidak bisa menghapus yang jahat, lihatlah saya yang sampai usang digunakan oleh orang, sekarang saya lemah dan rapuh, maka mereka melemparkan saya ke sungai, karena itu saya setuju, tidak ada yang baik bisa menghapuskan yang jahat."
Kebetulan kerbau dan buaya melihat seekor kancil yang sedang berjalan santai di pinggir sungai, kemudian kerbau memanggilnya serta mengajukan pertanyaan serupa kepada kancil itu.
"Saya tidak bisa mengerti," Jawab kancil, "apa sih yang kau ingin tanyakan?"
"Buaya, bawalah saya untuk lebih dekat kepada kancil..." Kata si kerbau kepada buaya, "doronglah saya supaya lebih mendekati kancil itu."
Ketika kerbau mulai mendekat ke pinggir sungai, tiba-tiba kancil berseru: "Beri dia tendangan di kepalanya, dan cepatlah melompat ke samping, karena sekarang kau sudah cukup dekat ke daratan"
Segera kerbau melakukan apa yang dikatakan kancil itu, sang buaya terpental ke belakang, sehingga kerbau bisa lolos dari bahaya yang mengancam hidupnya, setelah itu kerbau mengucapkan terima kasih kepada kancil atas bantuannya!
Terjemahan bebas oleh MiRa - Amsterdam, 9 April 2011
Sumber:
Volksverhalen uit Oost-Indie (Sprookjes en Fabels)
5. Ondank - Halaman 17
Verzameld door DR. Jan de Vries
Met Illustraties van G.J. van Overbeek
Zutphen - W.J. Thiem & Cie - 1925
Friday, April 8, 2011
[Tanka] Sukma Insani
Api membara
Membakar titik nadir
Tak ada daya
Berwahana durjana
Meluluh lantak raga
Sukma insani
Berbekal beban luka
Dirudung duka
Menapak lorong hina
Berbalut kemiskinan
Mengaca diri
Kasih ibu berbunga
Sepanjang musim
Menyusur alur waktu
Riwayat kehidupan
MiRa - Amsterdam, 8 April 2011
Membakar titik nadir
Tak ada daya
Berwahana durjana
Meluluh lantak raga
Sukma insani
Berbekal beban luka
Dirudung duka
Menapak lorong hina
Berbalut kemiskinan
Mengaca diri
Kasih ibu berbunga
Sepanjang musim
Menyusur alur waktu
Riwayat kehidupan
MiRa - Amsterdam, 8 April 2011
Tuesday, April 5, 2011
[Haiku] Sihir Syair
Menjelang sore
Burung riuh berkicau
Di dahan pohon
Dinginnya malam
Hening di padang pasir
Bermantra sihir
Jiwa yang rapuh
Senjata ditangannya
Mimpi ilusi
Musim bersemi
Sapi perah merumput
Memakan riba
Berkaca cermin
Mengiris bawang merah
Bernoda darah
MiRa - Amsterdam, 5 April 2011
Burung riuh berkicau
Di dahan pohon
Dinginnya malam
Hening di padang pasir
Bermantra sihir
Jiwa yang rapuh
Senjata ditangannya
Mimpi ilusi
Musim bersemi
Sapi perah merumput
Memakan riba
Berkaca cermin
Mengiris bawang merah
Bernoda darah
MiRa - Amsterdam, 5 April 2011
Sunday, April 3, 2011
[Haibun] Ama Awabi

Semangat kerja
Para penyelam Ama
Demi hidupnya
Keyakinannya
Untuk sesuap nasi
Nikmati kerja
Ama pekerja menyelam telah berusia ribuan tahun, menjadi tradisi bagi kaum wanita pencari awabi dari beberapa desa nelayan di Jepang . Namun sejak periode Meiji, peranan penting Ama wanita semakin kehilangan eksistensinya di rumah tangga maupun dalam masyarakat nelayan. Kenyataan posisi dari 90 persen penyelam wanita itu berpenghasilan tak mencukupi kebutuhan hidup minimal keluarganya, juga tak memiliki wewenang bicara dalam sistim koperasi perikanan.
Gubuk di pantai
Terhempas angin badai
Gelombang ganas
Kedalaman lautan
Bertonggak jiwa baja
Awabi adalah sejenis bekicot mirip tiram atau kerang, yang hidup di dasar lautan. Untuk mengumpulkan awabi yang tersembunyi di celah-celah bebatuan hutan laut, merupakan pekerjaan berat serta butuh keberanian. Para penyelam wanita di Jepang atau disebut Ama itu, berenang yang dilengkapi kotak kayu pengapung, masker penutup hidung dan tongkat panjang, dan menyelam dengan hanya memiliki kemampuan bernapas panjang ke arah dasar laut sampai sekitar 8-10 meter.
Tanpa oksigen
Penyelaman berulang
Cari awabi
Wanita laut
Tak pernah kenal lelah
Kerja menyelam
MiRa - Amsterdam, 3 April 2011
Saturday, March 26, 2011
[Tanka] Ketakpastian
Ketakpastian
Di jalan kegelapan
Anak merintih
Setan setan yang makmur
Hidupnya gemerlapan
Pesona warna
Memikat kemegahan
Tanpa aroma
Indahnya gedung mewah
Bencana mengerikan
MiRa - Amsterdam, 26 Maret 2011
Di jalan kegelapan
Anak merintih
Setan setan yang makmur
Hidupnya gemerlapan
Pesona warna
Memikat kemegahan
Tanpa aroma
Indahnya gedung mewah
Bencana mengerikan
MiRa - Amsterdam, 26 Maret 2011
Friday, March 25, 2011
[Haibun] Dalam Hitungan Waktu
Tak pernah lelah
Suara jam berdetak
Kapan berakhir?
Riwayat perjalanan waktu
menyusuri tujuan yang ditentukan
mata mengembara mencari tau
urusan kesaksian mati rasa
Serasa jari dingin menggenggam dendam
kumpulan awan seakan mengawal lara
berbalut luka menggumpal di lapisan angkasa
apakah keadilan dalam alam khayalan impian?
Kebingungan dan kehilangan jejak
mengejar duka seperti bersuka cita
Jauh begitu jauhnya dari diri sendiri
ketakutan tak bisa ditinggalkan
Tak diketahui
Siapa dirinya, dan
bagaimana wataknya
saát menit atau jam dilampaui
serasa lelah atau ada sesuatu hal
hal hal yang nyatanya tidak bisa diubah
hanya buat dirinyalah yang diinginkannya
merindukan punya dua sayap, lalu terbang jauh
melayang layang melanglang buana bebas merdeka
takkala kehidupan tanah airnya tertimbun kemiskinan
Diam menanti
Atau rasa kecewa
Waktu berlalu
Keinginan bersama
Impian gotong royong
MiRa - Amsterdam, 25 Maret 2011
Suara jam berdetak
Kapan berakhir?
Riwayat perjalanan waktu
menyusuri tujuan yang ditentukan
mata mengembara mencari tau
urusan kesaksian mati rasa
Serasa jari dingin menggenggam dendam
kumpulan awan seakan mengawal lara
berbalut luka menggumpal di lapisan angkasa
apakah keadilan dalam alam khayalan impian?
Kebingungan dan kehilangan jejak
mengejar duka seperti bersuka cita
Jauh begitu jauhnya dari diri sendiri
ketakutan tak bisa ditinggalkan
Tak diketahui
Siapa dirinya, dan
bagaimana wataknya
saát menit atau jam dilampaui
serasa lelah atau ada sesuatu hal
hal hal yang nyatanya tidak bisa diubah
hanya buat dirinyalah yang diinginkannya
merindukan punya dua sayap, lalu terbang jauh
melayang layang melanglang buana bebas merdeka
takkala kehidupan tanah airnya tertimbun kemiskinan
Diam menanti
Atau rasa kecewa
Waktu berlalu
Keinginan bersama
Impian gotong royong
MiRa - Amsterdam, 25 Maret 2011
Sunday, March 20, 2011
[Haibun] Kebatilan Penguasa
Bulan purnama di paska Super Moon, 19 maret 2011 

Bulan purnama
Kisah keprihatinan
Sabtu kelabu
Kebatilan dunia
Konspirasi durjana
Ada yang mengaitkan pengaruh super moon dengan bencana besar. Untuk menyimak pengamatan super moon diwaktu bulan purnama, bila dikaitkan dengan pengaruhnya ulah umat manusia kali ini, terbersit ingatan kita pada peristiwa awal aksi pemboman tiga negara sekutu, USA, Inggris dan Perancis di Lybia.
Cerita tragis
Pergolakan sosial
Rakus kuasa
Moral budaya barat
Drakula minum darah
Berpesta pora
Serasa kehadirannya
Keji dan kejam
Citra warga dunia
Berkarakter munafik!
MiRa - Amsterdam, 20 Maret 2011


Bulan purnama
Kisah keprihatinan
Sabtu kelabu
Kebatilan dunia
Konspirasi durjana
Ada yang mengaitkan pengaruh super moon dengan bencana besar. Untuk menyimak pengamatan super moon diwaktu bulan purnama, bila dikaitkan dengan pengaruhnya ulah umat manusia kali ini, terbersit ingatan kita pada peristiwa awal aksi pemboman tiga negara sekutu, USA, Inggris dan Perancis di Lybia.
Cerita tragis
Pergolakan sosial
Rakus kuasa
Moral budaya barat
Drakula minum darah
Berpesta pora
Serasa kehadirannya
Keji dan kejam
Citra warga dunia
Berkarakter munafik!
MiRa - Amsterdam, 20 Maret 2011
Saturday, March 19, 2011
[Haibun] Hari Internasional Melawan Rasisme dan Diskriminasi
Di taman bunga
Mimpi hati berseri
Bersama duka
Air mata menggenang
Mengenang masa perang
Perserikatan bangsa bangsa menetapkan tanggal 21 maret 1966 adalah hari internasional melawan rasisme dan diskriminasi. Penetapan hari internasional tersebut dinyatakan setelah kejadian kerusuhan rasial berdarah menentang pemberlakuan Kartu Identitas bagi orang yang berkulit hitam di kota Sharpeville Afrika Selatan (1960). Ketika itu polisi menembaki ribuan demonstran anti apartheid dan telah membunuh 69 orang.
Kekuasaan politik apartheid bangsa kulit putih di Afrika Selatan sudah dihapuskan, akan tetapi sikap dan tindakan diskriminasi atas perbedaan antar ras masih berjalan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak negara di dunia masih menghadapi masalah ras dan ketidakadilan.
Rasisme atau politik diskriminasi di Indonesia itu diwarisi sejak zaman kolonialisme, hal tersebut dipraktikan di dalam golongan masyarakat pribumi dan non pribumi demi kepentingan politik adu domba penguasa, dijalankan secara sistimatis oleh sistim kekuasaan pemerintahan kolonial di Hindia belanda pada saat itu. Politik adu domba tersebut diterapkan untuk melemahkan persatuan dan kesatuan perjuangan bangsa untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia.
Kemudian jendral Soeharto memakai kembali politik pecah belah dan menguasai alias "verdeel en heers" untuk menghancurkan secara sistimatis gerakan golongan kiri dan nasionalis progresip, yang mana dianggap sebagai lawan politiknya.
Sebagai taktik untuk mengamankan politik stabilitas superior rezim kekuasaan orde baru, maka dengan sengaja rezim militer Soeharto menciptakan bentuk konflik sosial selanjutnya, melalui kasus-kasus SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). Kondisi seperti itu mengingatkan kita pada zaman kekuasaan Fasis Adolf Hitler, dimana doktrin Nazi menganggap bangsa Jerman sebagai ras Aria yang paling superior, sedangkan bangsa Yahudi dan lawan politiknya adalah bangsa paria yang harus dimusnahkan.
Sebagai salah satu contoh kasus SARA yang bisa kita lihat adalah Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dan Kartu Tanda penduduk (KTP) dengan kode ET (Eks Tapol).
SBKRI khusus dibuat untuk warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, sedangkan KTP ET spesial untuk warga negara Indonesia yang dituduh terlibat atau simpatisan GESTOK 1965. Hal ini dianggap sebagai perlakuan diskriminatip dan telah dihapuskan pada periode Reformasi, namun dalam praktiknya masih diterapkan di berbagai daerah.
Sampai saat ini kasus rasialisme berkembang dalam proses yang lebih berbahaya dengan mengatasnamakan politik anti terorisme, dipakai sebagai rekayasa dan disponsori oleh kekuatan aparat negara, lalu dibantu juga oleh sekelompok preman yang direkrut dalam mekanisme sistim militerisme yang didukung oleh kepentingan politik ekonomi neo liberalisme.
Anti teroris
Pembangkit kebencian
Antar agama
Kasus peledakan bom
Menghujat cinta kasih
MiRa - Amsterdam, 19 maret 2011
Mimpi hati berseri
Bersama duka
Air mata menggenang
Mengenang masa perang
Perserikatan bangsa bangsa menetapkan tanggal 21 maret 1966 adalah hari internasional melawan rasisme dan diskriminasi. Penetapan hari internasional tersebut dinyatakan setelah kejadian kerusuhan rasial berdarah menentang pemberlakuan Kartu Identitas bagi orang yang berkulit hitam di kota Sharpeville Afrika Selatan (1960). Ketika itu polisi menembaki ribuan demonstran anti apartheid dan telah membunuh 69 orang.
Kekuasaan politik apartheid bangsa kulit putih di Afrika Selatan sudah dihapuskan, akan tetapi sikap dan tindakan diskriminasi atas perbedaan antar ras masih berjalan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari ini banyak negara di dunia masih menghadapi masalah ras dan ketidakadilan.
Rasisme atau politik diskriminasi di Indonesia itu diwarisi sejak zaman kolonialisme, hal tersebut dipraktikan di dalam golongan masyarakat pribumi dan non pribumi demi kepentingan politik adu domba penguasa, dijalankan secara sistimatis oleh sistim kekuasaan pemerintahan kolonial di Hindia belanda pada saat itu. Politik adu domba tersebut diterapkan untuk melemahkan persatuan dan kesatuan perjuangan bangsa untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia.
Kemudian jendral Soeharto memakai kembali politik pecah belah dan menguasai alias "verdeel en heers" untuk menghancurkan secara sistimatis gerakan golongan kiri dan nasionalis progresip, yang mana dianggap sebagai lawan politiknya.
Sebagai taktik untuk mengamankan politik stabilitas superior rezim kekuasaan orde baru, maka dengan sengaja rezim militer Soeharto menciptakan bentuk konflik sosial selanjutnya, melalui kasus-kasus SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan). Kondisi seperti itu mengingatkan kita pada zaman kekuasaan Fasis Adolf Hitler, dimana doktrin Nazi menganggap bangsa Jerman sebagai ras Aria yang paling superior, sedangkan bangsa Yahudi dan lawan politiknya adalah bangsa paria yang harus dimusnahkan.
Sebagai salah satu contoh kasus SARA yang bisa kita lihat adalah Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dan Kartu Tanda penduduk (KTP) dengan kode ET (Eks Tapol).
SBKRI khusus dibuat untuk warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, sedangkan KTP ET spesial untuk warga negara Indonesia yang dituduh terlibat atau simpatisan GESTOK 1965. Hal ini dianggap sebagai perlakuan diskriminatip dan telah dihapuskan pada periode Reformasi, namun dalam praktiknya masih diterapkan di berbagai daerah.
Sampai saat ini kasus rasialisme berkembang dalam proses yang lebih berbahaya dengan mengatasnamakan politik anti terorisme, dipakai sebagai rekayasa dan disponsori oleh kekuatan aparat negara, lalu dibantu juga oleh sekelompok preman yang direkrut dalam mekanisme sistim militerisme yang didukung oleh kepentingan politik ekonomi neo liberalisme.
Anti teroris
Pembangkit kebencian
Antar agama
Kasus peledakan bom
Menghujat cinta kasih
MiRa - Amsterdam, 19 maret 2011
Friday, March 18, 2011
[Haibun] Pulang ke Rumah

Waktu ke waktu
Untuk pulang ke rumah
Terasa lelah
Perjalanan pulang menyusuri pinggir kali, kali ini cukup lumayan menyenangkan. Serasa tanpa halangan hembusan angin dingin, walau matahari seperti masih malu-malu memancarkan sinarnya. Saat cuaca cerah kini tak mengurangi hati riangku untuk terus meluncurkan roda sepeda, bersama nikmatnya keindahan warna warni kuncup bunga tulip bermekaran.
Menjelang sore
Langit biru memudar
Ke kicau burung
MiRa - Amsterdam, 18 Maret 2011
Friday, March 11, 2011
[Haibun] Warna Warni Cahaya

Panahan kilat
Tepat arah sasaran
Ke mata hati
Bahaya anak panah
Beracun dan tercemar
Daya kuasa rakyat
mengalir darah derita
Bunga api dan mukjizat
menguji kegagalan prestasi
ada tinggi hati ingin bersinar
memperebutkan ruang hampa
Anjang permainan manipulasi
jiwa kemanusiaan diperkosa
Mimpi profesi dan kedudukan
mengusung hirarkhi adidaya
Keadilan kehilangan memori
kejinya membunuh karakter
Pada aturan kebohongan
perjuangan tak merata
waktu takut berdetak
Keinginan terakhir
dalam keyakinan
tak didambakan
cinta mencintai
Bias mentari
Misteri kekayaan
Hati nurani
Warna warni cahaya
Harapan pembebasan
MiRa - Amsterdam, 11 Maret 2011
Sunday, March 6, 2011
Tanka Semusim
Friday, March 4, 2011
[Haibun] Dilema
Di pentas drama
Melihat dan dilihat
Daya kuasa
Peran yang ditampilkan
Mempertontonkan ego
Refleksi diri
Saling berkepentingan
Terbuai mimpi
Kisah nyata proses perjalanan kehidupan umat manusia seakan ditentukan oleh uang, jiwa dan raga di perjual-belikan, suka dan dukapun menjadi ruangan hiasan etalase di pasar bebas demi mengeruk keuntungan yang menggiurkan,lalu katanya promosi "Demokrasi" untuk keadilan, ingin hidup damai, sejahtera dan makmur.
Resah gelisah
dirayu keyakinan
menghindari siang hari
seperti berpisah pada masa depan
Dan keinginan
lebih lambat dari yang lalu
untuk mencari jati diri
Di rawa-rawa
kekal abadi
dilema
Kemandirian
gairah tersembunyi
di lapisan kulit
takut berkeringat
Mengalir arus
Suatu perubahan
Penentu nasib
Dimensi pemikiran
Apa masih relevan?
MiRa - Amsterdam, 4 Maret 2011
Sunday, February 27, 2011
[Tanka] Pemuja Matahari
Bangun dan panik
Di alam mimpi buruk
Terlalu nyata
Ingin tetap melawan
Yang tidak seharusnya
Jiwa tenggelam
Pemuja matahari
Membisik bulan
Kedipan kunang-kunang
Menari sukacita
Berpetualang
Tergiur nafsu binatang
Nyusruk ke jurang
Lereng curam dan terjal
Batu menangis sedih
Di kaki gunung
Mengalir limbah air
Pohon membusuk
Sawah ladang beracun
Petani miskin mati
MiRa - Amsterdam, 27 Februari 2011
Di alam mimpi buruk
Terlalu nyata
Ingin tetap melawan
Yang tidak seharusnya
Jiwa tenggelam
Pemuja matahari
Membisik bulan
Kedipan kunang-kunang
Menari sukacita
Berpetualang
Tergiur nafsu binatang
Nyusruk ke jurang
Lereng curam dan terjal
Batu menangis sedih
Di kaki gunung
Mengalir limbah air
Pohon membusuk
Sawah ladang beracun
Petani miskin mati
MiRa - Amsterdam, 27 Februari 2011
Saturday, February 26, 2011
[Haibun] L I B E R A T E
[Haibun] L I B E R A T E
: Membebaskan
Budak dan bebas
Adalah mentalitas
Mentas belenggu
Ketika perbudakan
Penentu kebebasan
Kebebasan dari rasa takut
menuntut membebaskan Ibu pertiwi
Saat kesatuan telah dicapai
pembalap dan bayangan kuda
tidak bisa dibedakan
Entah bagaimana mereka
menyeberang halaman
memperebutkan jatah
tambang minyak
L I B Y A
B A H R A I N
Y E M E N
I R A N
A L J A Z A I R
T U N I S I A
E G Y P T E
Bicara tentang petualangan kebenaran
kebebasan tak lepas dari takdir anarki
mengikatkan diri dalam keheningan malam
tubuh yang kaku dan dingin seperti kematian
Senjata dan tank
Kebebasan berbaris
Perang sodara
Bebas berpikir
Bukan berpikir bebas
Untuk dirinya
MiRa - Amsterdam, 26 Februari 2011
: Membebaskan
Budak dan bebas
Adalah mentalitas
Mentas belenggu
Ketika perbudakan
Penentu kebebasan
Kebebasan dari rasa takut
menuntut membebaskan Ibu pertiwi
Saat kesatuan telah dicapai
pembalap dan bayangan kuda
tidak bisa dibedakan
Entah bagaimana mereka
menyeberang halaman
memperebutkan jatah
tambang minyak
L I B Y A
B A H R A I N
Y E M E N
I R A N
A L J A Z A I R
T U N I S I A
E G Y P T E
Bicara tentang petualangan kebenaran
kebebasan tak lepas dari takdir anarki
mengikatkan diri dalam keheningan malam
tubuh yang kaku dan dingin seperti kematian
Senjata dan tank
Kebebasan berbaris
Perang sodara
Bebas berpikir
Bukan berpikir bebas
Untuk dirinya
MiRa - Amsterdam, 26 Februari 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)
